Rabu, 12 Desember 2012

Another Life l Tiga

Diposting oleh Ossi Widiari di 21.50

TIGA



Ify dan Sivia sedang mengekor Agni mencari tempat duduk, Mereka memutuskan ikut sarapan bersama setelah Sivia seharian menatap Televisi tanpa berkedip,Sivia bilang dia mau lebih lucu lagi dari sekarang dengan menonton Spongebob nonstop seharian,Ify dan Agni hanya bisa saling pandang saat Sivia mengatakan itu pada mereka.


“Ahh sepertinya tidak ada tempat”Gerutu Agni.Ify dan Sivia mengangguk setuju di belakang.

“heh Siviaa! Duduk disini saja”Ify,Sivia dan Agni serempak menoleh ke kanan mengikuti arah suara.

Sivia Nampak berbinar binar mengetahui siapa yang memanggilnya sementara Ify dan Agni menggidikan bahu dan saling melempar pandangan.Sivia dengan santai melangkah ke meja Alvin,sementara Ify masih mematung disana kebingungan.

“Mau sampai kapan diam disana?”Tanya Cakka.

Agni langsung menyikut Ify mengajaknya untuk segera duduk sebelum di tegur lagi,Ify menggengam erat nampan makanannya menetralisir rasa gugupnya untuk duduk bersama Alvin dan teman temannya,Ify sendiri tidak tau mengapa ia selalu berdebar seperti ini.Agni sudah mengambil tempat duduk di sebelah Gabriel sementara Sivia sudah hanyut ke dalam percakapan kecil bersama Alvin,sebenarnya bukan percakapan karna hanya Alvin yang berbicara sementara Sivia mengangguk kaku.

Ify masih diam saja melihat kedua temannya yang hanyut di dunianya sendiri sampai tangan Gabriel menyuruhnya duduk ,Ify menoleh ke arah Gabriel dan tersenyum sebentar lalu meletakan nampan makananya di meja.

“Apa makananmu hari ini?”Gabriel melirik nampan makanan Ify

“Emm hanya semangkuk sereal dengan beberapa sayuran”jawab Ify

“Sedang tidak berselera?”Ify tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Gabriel lalu memasukan sesendok sereal Gandum ke mulutnya.

“Coba ini”Seru Gabriel lalu menyodorkan sepiring Mie goreng yang kelihatanya lezat.

“Ayo coba kenapa hanya dilihat”Lanjut Gabriel,Ify hanya mengangguk pelan.

Ify menyendok sedikit Mie Gabriel dan mengarahkan sendoknya ke mulut ,namun sebelum Ify akan mengatupkan rahanya tangan Ify sudah di dorong menjauh lebih dulu oleh orang di depannya.Sekarang semua menatap orang itu heran.

“Apa apaan ini Rio?!”nada suara Gabriel meninggi.

Ify melirik sedikit Gabriel lalu kembali menatap Rio bingung,Alvin menatap Rio khawatir begitu juga dengan Cakka,Jelas mereka khawatir mengetahui sikap Gabriel pada Rio.Namun Rio terlihat santai menatap Mie pemberian Gabriel.

“Jangan dimakan ada udangnya”Jelas Rio.

Kontan semuanya bungkam termasuk Gabriel,Ify menyipitkan matanya lalu menatap Rio lekat lekat dari mana orang itu tau kalau Ify alergi udang? Ify yang merasa bahasa tubuhnya tidak di tangkap Rio langsung membalas tatapan Gabriel yang sedari tadi mengarah padanya.

“Rio benar aku alergi udang”Jawab Ify

“Tapi darimana dia tau?”Tanya Agni yang menatap rio penuh selidik.

Rio tidak langsung menjawab Ia masih perlu menggosokan tangannya yang seperti tersulut listrik saat menyentuh tangan ify perasaan panas yang menggelitik itu membuat jantung rio seperti habis dipakai berolahraga.Rio sendiri tidak tau sebenarnya apa yang ia lakukan yang jelas tiba tiba Ia tidak ingin melihat Ify gatal gatal seharian seperti dia juga merasakan panas akan rasa gatal itu nantinya,Dia juga tidak tau kalau Ify benar benar alergi udang.

“Hanya perasaan”Jawab Rio setelah di desak dengan tatapan mengerikan dari Agni.

Suasana diantara mereka masih sunyi mereka masih sama sama bingung atas sikap Rio , bahkan Rio sendiri juga ikut bingung.Alvin yang bosan daritadi hanya mendengarkan suara dentingan sendok tanpa ada yang berbicara pun buka suara

“Kalian akan mengambil ekskul apa?”Tanya Alvin mencairkan suasana.Tapi pertanyaan Alvin belum benar benar menjurus jadi tidak ada yang menjawab,Alvin menghela nafas berat lalu membuka suara lagi.

“Sivia tahun ini ikut ekskul apa?”Sivia langsung menjatuhkan sendok makannya ketika mendengar suara Alvin.

“oh..emm berkebun”Jawab Sivia patah patah.

“Oh ya? Keren!”puji Alvin,Sivia hanya mengangguk tidak beraturan.

“Aku ikut Anggar,bagaimana menurutmu?”Tanya Alvin.

“Ehh itu sangat keren,tapi anggar itu apa?”Sivia menatap Alvin dengan tatapan bingung.

“sejenis bela diri, nanti kalau aku sudah mulai latihan kau ikut ya”Ajak Alvin,Sivia kontan mebelalakan matanya mendengar ajakan Alvin

“Ak..Ku..Ik..ut?”Tanya Sivia tidak percaya.Alvin mengangguk semangat,Agni yang melihat tingkah Sivia berjanji nanti akan mengejek Sivia karna bersikap sangan aneh di depan keempat cowok paling keren menurut Sivia.

“Cakka besok bola basketmu kupinjam ya,Kamu kan mau ikut ekskul masak hari”Cakka langsung menatap Rio tidak suka karna memberi tau yang lain ekskul apa yang dipilihnya.

“Cakka?memasak!”Ujar Alvin tidak percaya,Gabriel juga mengangguk setuju dengan perkataan Alvin.

“memangnya kenapa? Nanti kalau aku sudah jago kalian pasti mengemis padaku minta aku membuatkan sesuatu untuk dimakan saat persediaan makanan habis”Elak Cakka.

“Wah benar nanti kalau Via minta makan tengah malam minta tolong Agni saja”Celetuk Ify.

“ooh Agni itu pintar memasak ya?”Gabriel menunjuk Sivia yang sedang menyendok beberapa seledri.Ify hanya menggaruk lututnya yang tidak gatal memikirkan reaksi Agni di perlakukan seperti itu

“Ini Sivia”Jawab Alvin.

Gabriel menoleh kearah kananya dan menyeringan bersalah pada gadis tomboy di sebelahnya.Agni lalu menatap Gabriel sengit dan memutuskan segera pergi.

“Sivia,Ify aku kembali ke kamar ya sepertinya tadi lupa mematikan kompor”Alibi Agni.

Sivia hampir tersedak mendengar perkataan Agni,Sivia sudah membayangkan foto foto Alvin dan teman temannya habis tersulut api.Ify melirik Agni kesal merutuki alasan paling tidak logis yang pernah Agni buat,Apa Agni tidak berfikir dampaknya pada Sivia? Yahh walaupun tidak se hebat saat Sivia mendengar nama salah satu cowok di meja ini.

“Ify ekskul apa yang kau ambil?”Tanya Gabriel.

“berenang.Kau sendiri?”

“ohh aku melukis”

Rio tidak mendengar lagi suara di sekitarnya,semuanyaseperti di mute begitu saja.Ia membeku di tempatnya mendengar kata ‘berenang’ kejadian saat tenggelam beberapa tahun lalu memenuhi otaknya,Ia bahkan tidak mendengar suara Ify memanggilnya.

“Rio!”Bentak Gabriel.

“Apa”Rio menjawab datar sambil menatap kosong Gabriel seolah tidak masalah Gabriel membentaknya

“ Kau tidak dengar Ify tadi bicara padamu”Cerca Gabriel.

Ify tersenyum menenangkan ke arah Gabriel lalu mengulang pertanyaan yang ditujukan pada Rio.

“Rio,kau memilih ekskul apa?”Tanya Ify ramah.

“Tidak ada”jawab Rio sedatar mungkin.

“Rio kau serius? Nilaimu bagaimana? Lebih baik ikut Basket atau memasak bersamaku”Ajak Cakka.

“Iya ini serius.Tidak… tidak perlu Cakka nanti aku mengganggu kencanmu”Sindir Rio,Cakka langsung merenggut sementara Alvin menatap Cakka minta penjelasan.

“Rio kau dulu jago anggar ,ikut denganku saja”tawar Alvin

“tidak usah..Mrs Shilla menawariku pekerjaan menjaga perpustakaan dia bilang tidak usah khawatir dengan nilai ekskul”Jawab Rio.

“Jadi dia memanggilmu kemarin Cuma untuk itu?”Tanya Alvin semangat.Rio mengangguk sambil menatap Alvin.


Setelah menghabiskan sarapan Ify dan Agni menuju kelas biologi sementara Sivia memilih kelas bahasa Inggris , kata Sivia neneknya akan datang hari minggu ini dari London dan Sivia harus menyambutnya jadi..yah dia ingin belajar sedikit.

Ify mengambil beberapa lembar kapas yang sudah di beri air lalu menyusunya di dasar wadah plastic milik kelompoknya,Rio membantu mengambil beberapa biji kacang merah yang disiapkan lalu merendamnya di gelas plastic.

“Rio bisa minta tolong tuliskan alat dan bahanya?”Pinta Ify sementara Rio hanya mengangguk dan menulis pada lembar kerja kelompoknya.

“Ini sudah”Tidak lama kemudian Rio menyerahkan pekerjaanya pada Ify yang sibuk menyusun kacang merah diatas kapas basah.

“ohh iya letakan saja di sana,Aku sedang sibuk”Rio mengikuti arah tangan Ify dan meletakan kertasnya diatas tumpukan kertas yang lain lalu kembali ketempat Ify.

“Biar ku bantu juga”Rio mengambil beberapa kacang merah dan meletakannya sesuai jarak yang di tentukan.

“kira kira nanti akan seperti apa ya?”Tanya Ify sambil menatap Rio lurus.

“Entahlah..sepertinya tumbuh besar,Lebih baik letakan di dekat matahari agar lebih cepat”Usul Rio.

“Matahari dapat membantu?”Tanya Ify,Rio mengangguk.

“kupikir matahari itu menyedihkan”Kata Ify.

“kenapa?”Tanya Rio.

“Aku tidak tau tapi aku tidak suka melihat matahari,Matahari itu seperti memisahkan malam dengan pagi..Aku lebih suka malam,malam itu sunyi”Jelas Ify setengah menggerutu,Rio hanya tersenyum tipis.

“Aku juga.. kadang tidak suka bangun pagi, pagi pagi itu merepotkan”Ify mengangguk dan tersenyum lebar pada Rio.”Tapi aku menyukai matahari”Sambung Rio

“kenapa?”Tanya Ify.

“lebih baik besok pagi kau ikut aku ya”Ajak Rio,Ify hanya tersenyum senang.
***
Ify mendengar pintu kamarnya diketuk lalu cepat cepat membereskan ikat rambutnya dan segera berlari kearah pintu.

“Hai..bisa tunggu sebentar”Ify tersenyum pada Rio yang sudah rapi dengan celana pendek selutut dan t-shirt santainya.Rio mengangguk pada Ify.

“Agni agni”Panggil Ify sambil menguncangkan tubuh Agni yang masi di tempeli piyama.

“heeem?”Gumam Agni.

“Aku mau pergi ya”Izin Ify.Agni membuka matanya sedikit melihat penampilan ify yang simple dengan celana legging biru dengan atasan Baby pink yang lucu.

“hee mau kemana pagi pagi begini?’selidik Agni.Ify hanya menggidikan bahunya.

“Yasudah,Aku mengantuk”Agni kembali menarik selimutnya yang dilepas Ify.

“ tolong bilang sama Via”Suara Ify agak berteriak di depan pintu kamar Agni,Agni hanya membalas dengan gumaman tidak jelas.

“ayoo”Ify tersenyum sumringah pada Rio yang sudah menunggunya di depan sementara Ia minta izin Agni untuk pergi.

Rio mengangguk sedikit lalu mulai berjalan,Ify lalu berjalan mengikuti Rio dari belakang,Sepanjang jalan mereka belum bicara sepatah katapun.

“Rio..mau kemana?”Tanya Ify

“tunggu disini dulu..Aku mau ambil motor”Jawab Rio,Ify hanya mengangguk.

Tak lama kemudian Rio datang dengan motor hitam besarnya dan helm full facenya.Ify sampai tidak bisa bicara melihat penampilan Rio seperti ini.Terlihat keren dan benar benar seperti pangeran berkuda yang modern.

“Cepat naik”Suruh Rio,Ify lalu tersadar dan segera naik ke boncengan Rio




Gabriel mengetuk sebuah pintu tua besar dihadapanya sesekali memperhatikan sekeliling pekarangan rumahnya,Sudah lama sekali Gabriel tidak kerumah ini dan Ia sendiri tidak tau betapa banyak kata Rindu yang Ia ucapkan.

“Selamat pagi,Dear”Sapa seseorang wanita paruh baya dari dalam.

“Mom”Gabriel memeluk erat wanita di depanya.

“Ayo masuk”Ajak wanita itu.

Gabriel mengikuti wanita dengan baju modis sampai mata kaki itu ke dalam rumah,Setelah itu wanita tadi datang dengan nampan berisi teh untuk Gabriel.

‘Ada apa?Tumben sekali”Tanya wanita itu.

“I miss you Mom”Jawab Gabriel.

“Gabriel..kau tau I miss you saja tidak cukup”Jawab Ibunya.

“Hemm.. yes Mom , I have one important information”

“Apa tentang Mario?”Tanya Ibunya menyelidik,Gabriel mengangguk.

“bukan hanya dia.. sekarang aku sudah menemukan mereka berdua”Sahut Gabriel.

“berdua? Apa maksudmu kau sudah menemukan gadis itu?”Tanya ibunya semangat.Gabriel mengangguk pasti dengan senyum kemenangan di bibirnya.




Rio menoleh ke belakang mendapati Ify dengan susah payah menerobos semak semak belukar,Ia memutuskan kembali ke tempat Ify.

“Ayo cepat”Rio menyingkirkan beberapa semak belukar di samping Ify dan menarik tangan Ify keluar dari sana,Rio mempercepat langkahnya takut ia dan ify akan terlambat.Rio tanpa sadar masih menarik tangan Ify,sementara Ify mengikuti langkah Rio, Ia sebentar sebentar berhenti karna melihat tangannya di genggam Rio.

“Nah kita sudah sampai”Seru Rio menunjukan Ify hamparan padang bunga yang masih kuncup.

“Apa ini?”Tanya Ify.

‘Tunggu saja,nanti dia datang dari timur”jawab Rio sambil tersenyum.Ify merasakan persendiannya lemas melihat senyuman Rio untuknya.
****



Sivia menggosok tanganya dan meniup niupnya ketika angin berhembus ke arahnya,Sudah 5 menit Ia menunggu Bus di halte.Padahal tadi Agni bersedia mengantarnya tapi Sivia menolak karna Tau Agni buru buru menuju Dapur pasalnya hari ini adalah hari perdana Ia mengikuti ekskul memasak.
Sivia menatap sengit pengendara motor yang baru melintas di depannya dengan kecepatan tinggi,lalu berdecak kesal.Tapi sesaat kemudian dia menyipitkan mata merasa mengenal pengendara tadi dan sekarang Ia malah melompat lompat bersemangat karna telah berhasil mengingat kalau pengendara tadi adalah Alvin.Sivia langsung menghentikan lompatanya setelah menyadari handphonenya sedang berbunyi.

“grandma? “

“Hemm yes Mom, ill back to school now”

Sivia menutup Flip handphonenya setelah mendapat kabar kalau neneknya tidak jadi datang hari ini karena sepupunya sedang sakit.Sivia memutar otaknya memikirkan apa yang harus dilakukan,Kalau dia kembali ke asrama dia pasti sendirian karna Ify dan Agni sedang pergi.Tiba tiba lampu di kepala Sivia menyala..Dia akan ke kota! Siapa tau bertemu Alvin.

Beberapa menit kemudian Sivia melihat Bus menuju kota tiba,Sivia segera melompat naik.Selama perjalanan
Sivia merasakan nyeri hebat di perutnya,Apa yang terjadi? Jangan jangan…

“Sudah sampai”Kondektur Bus itu menegur Sivia yang sedang merintih,Sivia mengangguk kecil dan keluar dari Bus.

Sivia masih merasa kesakitan dengan perutnya ,Ia memutuskan untuk segera mencari sarapan.Ia membersihkan belakang roknya yang mungkin kotor,Tapi tiba tiba kegiatanya berhenti saat merasakan sesuatu yang aneh,Sivia lalu menoleh ke belakan dan mendapati Roknya terkena bercak darah.

Sivia meraih handphonenya dan melihat tanggalannya,tidak ini tanggal 5 dan jadwalnya datang bulan,Sivia kemudian memutuskan untuk segera mencari toko baju terdekat atau pulang ke asrama,yang jelas Ia harus bergerak cepat menutupi Roknya

Sivia meremas sendiri dress putihnya karna sakit perutnya semakin menjadi jadi,ia berjalan dengan sangat lambat padahal hanya menyebrang jalanan Birmingham street yang sepi.Baru beberapa langkah perut Sivia sudah terasa melilit,Ia sedikit berjongkok untuk memegangi perutnya.Sivia memejamkan matanya menahan perih dan panas bergejolak di perutnya,Detik berikutnya ketika Sivia membuka matanya Ia melotot melihat sebuah motor melaju kencang ke arahnya,Seluruh persendian Sivia terasa lemas melihat Jarak antara dirinya dan motor itu semakin sedikit.Sementara bunyi bell motor itu seperti di mute pada telinga Sivia,Percuma Ia sendiri tidak bisa menghindar.
****



Ify mengikuti arah telunjuk Rio mendapati semburat semburat matahari disana,Ify senang melihat warna kemerah merahan yang di tampilkan langit di ufuk timur, ia sendiri jadi tidak tau mengapa ia bisa membenci matahari yang anggun itu.Ify merasa perasaannya menguap saat matahari muncul di hadapannya dan rio,Rasanya Hampa.Ify memeluk lututnya tidak mengerti dengan perasaanya,Selama ini ia memang belum pernah melihat matahari terbit,tapi ify benar benar merasa tidak suka dan kehilangan,Seperti matahari pernah merenggut sesuatu darinya.

“Kenapa”Rio menyentuh pundak Ify.

“Aku..takut”Suara Ify seperti hilang.

“Ada aku”Ify samar samar mendengar suara Rio,lalu menoleh untuk memastikan.

Rio terlihat seperti disorot oleh matahari,rasanya matahari memberi petunjuk untuk kegelisahan Ify.Ify
merasakan ketulusan dalam mata Rio.Ify hampir menitikan air mata..Ify sendiri tidak tau mengapa rasanya seperti mendapat sesuatu yang pernah hilang.Sama seperti matahari yang terbit setelah malam..Dia kembali.

******




‘Cittt’ Bunyi rem yang di tarik kasar berdengung di sekitarnya.

Ban depan motor itu hanya seperti menyentuh kaki Sivia namun Sivia langsung jatuh terduduk karena sakit perutnya dan lemas di persendiannya.Sivia menoleh takut takut pada pengendara motor tadi,Lalu mendadak susah bernafas.

“kau tidak apa apa?”Si pengendara tadi turun dari motor yang amat di kenali Sivia.

“Sivia”Pengendara motor tadi tidak percaya baru akan menabrak gadis ini.

“al..Alvin”Sivia ketakutan setengah mati.

“Ayo berdiri”Alvin membantu Sivia berdiri.

Sivia menggeleng tidak mau berdiri,Sivia masih ingat betul betapa menyedihkan keadaanya sekarang.

“Apa kau terluka?”Alvin terlihat khawatir melihat Sivia yang tidak berdiri.”Sivia kau berdarah!Apa kau terluka”Alvin membelalakan matanya melihat darah di rok Sivia.

Sivia menggeleng panik ingin menangis,Sekarang satu persatu air matanya mulai jatuh.

“Sivia apa yang sakit?”Tanya Alvin lebih keras.Sivia kembali menggeleng.

Alvin tidak tau lagi harus bagaimana Ia malah memeluk Sivia yang tangisnya sudah pecah dari tadi.

“Sivia..apa yang sakit?”Tanya Alvin lembut.

“Aku tidak sakit..Tidak terjadi apa apa sungguh”Sivia sekarang dengan lancar bicara ketika berada di pelukan Alvin.

“Kenapa kamu berdarah?’Tanya Alvin lalu melepas pelukannya.

“Ini..kau tidak mengerti”Kata Sivia “Ini..masalah..Wanita”Sivia melirik Alvin takut takut.

“ooh masalah wanita,untung saja ku kira kau sudah patah karna ku tabrak.Sebaiknya pakai ini saja”Alvin melepaskan jaketnya dan menyodorkannya pada Sivia.’ikat di pinggangmu,biar aku saja yang mengantarmu keasrama”Sivia dengan ragu menerima jaket Alvin dan menyematkannya di pinggangnya.



******
“lalu bagaimana menurutmu? Apa sudah punya rencana?”Gabriel mendongak mendengar perkataan Ibunya.

“rencana apa?”tanyanya bingung.

“Menghancurkan mereka”Sahut Ibunya datar.

‘Ap..apa?Apa yang akan Ibu lakukan?”Tanya Gabriel kaget.

“Ada apa Gabriel? Kenapa kau aneh sekali..Apa kau menyukai gadis itu!”bentak ibunya,Gabriel hanya menundukan kepalanya takut menatap mata tajam Ibunya.

“Biar saya saja yang melakukan kalau Gabriel ini tidak bisa”Gabriel mendongakan kepalanya melihat sosok sepupunya berada di belakang Ibunya sambil tersenyum miring.Gabriel mengepalkan tanganya melihatnya dirinya diremehkan.

“Kau bantu saja Tristan agar lebih cepat, Kalau aku hanya member titah pada Gabriel sepertinya akan lama”Ibunya melirik Gabriel lalu kembali menoleh pada Tristan yang tersenyum puas.

“Jangan sakiti Ify”Kata Gabriel.

“Ohh namanya Ify,Gabriel..kita lihat saja nanti”Kata Ibunya datar lalu pergi meninggalkan Gabriel.




*****

“Ify lihat itu”Rio menyadarkan Ify dari pandangnnya yang menatap dalam dirinya.

“hah..keren”Ify terpesona saat melihat hamparan bunga yang tadi menguncup sekarang mekar satu persatu
saat di terpa sinar matahari.

“Ayo kesana”Rio mengulurkan tangannya pada Ify.Ify menerimannya dengan agak ragu namun menuruti hatinya Juga untuk mengenggam tangan rio.

“Apa sekarang sudah menyukai matahari?”Tanya Rio saat mereka sudah sampai di tempat bunga tadi.

“Aku tidak tau”Ify mengalihkan pandanganya dari bunga itu menuju Rio.”Aku menyukainya,Tempat ini,Matahari,Bunga ini,Kamu…Aku menyukainya sekarang”Kata Ify sambil menatap lurus Rio yang terpaku menatap Ify.”Tapi aku tidak tau nanti saat tempat ini,bunga ini, dan kamu pergi…mungkin aku tidak menyukainya lagi”Ify menghela nafas sebentar “Kau tau Rio.. Ku rasa kalau satu hal yang kau suka pergi semuanya akan terasa berbeda”Ify lalu tersenyum ke arah Rio dan kembali memandang kagum bunga bunga bermekaran di depannya.

Rio merasakan kehangatan dalam hatinya,Entah karna sinar matahari atau karna perkataan Ify.Dia sendiri juga tidak tau apa nanti saat tidak bersama Ify Ia masih suka melihat semua ini.Ia sendiri tidak tau.

0 komentar:

Posting Komentar

 

EYES OPEN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review