Rabu, 12 Desember 2012

Another Life l Enam

Diposting oleh Ossi Widiari di 22.10
ENAM

Ify ingin sekali menutup telinganya mendengar teriakan teriakan wanita itu memaksanya pergi ke kantor polisi,Ify menolaknya mentah mentah tapi wanita itu tidak gencar malah semakin menyiksa Ify,ia mengeluarkan sebilah Pisau dan Ify hanya bisa meneguk salivanya bulat bulat,Ify tidak takut apapun yang di lakukan wanita ini,cepat atau lambat ini akan terjadi juga.



“Cepat! Batalkan tuntutan kamu!”paksa wanita itu,Ify menggeleng keras mengakibatkan air matanya kembali terjatuh.”cepat!”Ulang wanita itu ia menarik rambut Ify kasar dan mendekatkan wajah ify ke wajahnya.

“Tidak akan”Jawab Ify yakin

‘Plak’Ify merasakan pipinya memanas karna tamparan wanita itu selanjutnya Ia hanya mendengar bunyi samar samar wanita itu memerintahkan anak buahnya yang menangani ify.Ify mendengar suara langkah tapi matanya begitu berat untuk dibuka,Ia tidak tau pasti apa yang terjadi yang jelas sakit terus memenuhi tubuhnya dan selanjutnya tubuhnya seperti membumbung,Gelap!
***
“Ify..Ify..Bangun”Tristan menepuk pelan pipi Ify sambil menoleh kearah pintu,sekarang hanya ada ia dan ify disini,Tristan kaget bukan main saat melihat Ify mengigau sambil menangis,Ia berusaha membangunkan Ify.

Ify melihat Tristan ada di depannya dengan nafas yang luar biasa sesak,Ify tidak tau apa yang terjadi tapi mimpinya barusan begitu nyata.Ini sama persis dengan hal yang dihadapinya,Ify sendiri mengira ia sudah mati tapi ternyata Ia hanya tertidur.

“Tristan”Ify memanggil nama Tristan dengan gemetaran hebat di nada suaranya.

“Ada apa?”Ify menahan air matanya agar tidak menangis,Ia harus tau sendiri.

“kenapa kau bawa aku kesini”tangis Ify nyaris pecah kalau ia gagal membendung tangisnya.

“Kau tidak mengerti Ify..ini tidak seperti yang kau lihat”Tristan memukul balok kayu di sampingnya.

“jadi kau di jebak?”Tanya Ify.Tristan hanya diam.

“Jadi tidak..”Ify menyelipkan nada tidak percaya dalam kalimatnya,Tristan tidak di jebak ini murni Tristan lah yang
membawanya kemari mengantarkannya pada orang orang jahat yang mengerubungi rumah ini.

“Jadi apa Tristan?Jadi kau ingin membunuhku sekarang?!”Ify merasakan air matanya turun satu satu,ia tidak percaya.

“Tristan? Kau tidak bilang padanya apa yang terjadi?”Riko muncul dari pintu dan bersandar pada ambangnya sambil menyesap rokoknya dalam dalam,ia tersenyum penuh arti.

“..”Tristan menahan getaran rahangnya sendiri berusaha mengatupkan bibirnya keras keras.

“Ify..kau tidak tau kenapa Tristan membawamu kemari ha?”Tanya Riko sengit,Ify menatap Riko lama lalu mengangguk dan melirik Tristan yang membuang mukanya dari riko.

“tapi sepertinya alas an intinya bukan aku yang harus menjelaskan”Riko tersenyum penuh arti “Tapi Ify membunuhmu adalah suatu kehormatan untuk keluargaku,Iya kan Tristan?”Ify melotot mendengar perkataan Riko ,Ia berusaha untuk tidak menangis semakin keras.

“Tristan…apa yang terjadi,Kau ingin membunuhku?”Ify menatap Tristan tidak percaya,Tristan masih membeku disana.

“Bodoh,kenapa masih bertanya ha?”Riko tertawa mendengar pertanyaan Ify.

“Tristan!”Ify mengeraskan suaranya.

Riko kembali tertawa dan memutuskan untuk keluar saja akan lebih sakit kalau Tristan yang memberi tau Ify.

“Tristan jawab aku Tristan”Ify kembali mencerca Tristan setelah Riko keluar.

“ify”lirih Tristan “Tidak seperti yang kau bayangkan”Sambungnya.

“Apa?!”Bentak Ify.Tristan memejamkan matanya.

“Ify..keluargaku selalu di kucilkan..kau tau?”Suara Tristan bergetar.”Ibuku telah berkorban banyak tapi dia tetap dikucilkan”Lirih Tristan

Hening



“Satu satunya cara hanya…”Trsitan menggantungkan kalimatnya,Ify menggigit bibir bawahnya.

“Membunuhku?”Tanya Ify tidak percaya.

“Tapi aku tidak bisa Ify!Aku tidak bisa membunuhmu!”Tristan mengguncang guncangkan bahu Ify membuat air mata yang Ify bendung jatuh lagi.

Riko yang diam di balik pintu meremas kasar bungkus rokoknya,Ia lalu menginjak rokok yang tadi di hisapnya dan membuka pintu kasar.

“Tristan!Apa yang kau lakukan!Cepat kerjakan!”Paksa Riko,Tristan menggeleng.

“Cepat!”Bentak Riko.

“Tidak”jawab Tristan tegas.Riko menghela nafas lalu tersenyum,Ify merasakan bulu kuduknya meremang

“Biar aku yang lakukan”Riko tersenyum seram sambil mendekaatkan langkahnya ke arah Ify.

‘Ify lari’Bisik Tristan.”lari”Ulangnya.

Ify merasakan ikatannya sengaja di longgarkan sehingga Ia bisa dengan mudah melepaskan diri,Ia lalu berlari secepat
yang ia bisa kearah pintu keluar namun Riko reflek menahan tangannya.Ify membelalakan matanya keringat dingin mengucur deras saat melihat Riko ada di depannya,Tamat!

“Mau kemana ha?”Bentak Riko

“Lepaskan’Teriak Ify meronta ronta.Riko mendorong tubuh ify ke lantai dengan keras,Ify sampai tehempas kasar ke
lantai diiringi teriakan keras Ify.

Tristan mendorong tubuh kakaknya jauh jauh dari Ify,sebisa mungkin ia mencoba menolong Ify.Riko jatuh membentur lantai ia menatap benci pada Tristan,apa apaan orang itu menghancurkan sendiri rencananya.Riko melirik ify yang menggigil ketakutan ia mengambil pisau lipat dari kantongnya dan berdiri mendekati Ify.

Tristan memukul keras keras rahang kiri Riko berharap ia bisa menghentikan ke gilaan kakaknya yang sudah berani menggunakan benda tajam,Tristan menahan tangan  kekar Riko sementara mata Riko tak pernah lepas  menatap penuh amarah pada Ify.Riko menatap Tristan benci lalu memegangi tangan Tristan lebih erat,Tristan tak berkutik lagi.Riko mengarahkan pisaunya tepat diatas kulit Tristan lalu member luka dekat dengan nadi Trista.Tristan segera mendorong tubuh Riko dengan cepat sebelum pisau Riko mengenai nadinya,Tristan hampir mati.Nyaris!

Ify membekap mulutnya dengan tangannya sendiri sambil menggeleng tidak percaya melihat darah di tangan Tristan terus meluncur sementara Riko kembali memburunya,Ify tidak sempat mengusap keringat dingin yang mengucur ataupun air mata yang mengalir deras,secepat yang Ify bisa dia harus menghindar dari Riko.

“Berhenti..tolong berhenti’Ify berteriak penuh ketakutan,Tapi Riko tetap berjalan ke arahnya dengan tatapan dingin.

Ify merangkak ke belakang menjauhi Riko ia terus mengawasi gerak gerik Riko yang bisa saja tiba tiba menyerangnya,sekarang Ify tidak bisa meminta bantuan Tristan yang terkapar kesakitan.Ify tau ia harus secepatnya keluar dari sini agar bisa menyelamatkan Tristan juga karna percuma bila menyelamatkan Tristan sekarang,tidak ada gunanya.

Riko mengikuti gerak kecil tapi cepat Ify matanya terus mengekor setiap posisi Ify,Riko lalu tersenyum miring beberapa detik kemudian membuat bulu kuduk Ify meremang.Ify melemas setelah tidak bisa pergi ke mana mana lagi,Punggungnya sudah menempel pada tembok sementara langkah Riko semakin dekat dengannya,Ify merasa ini akhirnya.
***
Rio mempercepat langkahnya ketika mendengar teriakan Ify dari lantai atas,Rio melangkahi tangga tangga dengan cepat lalu mendobrak paksa pintu di dekat tangga itu.Rio membelalakan matanya melihat darah mengalir tapi sedikit lega ternyata bukan ify yang terluka,ada Tristan disana bersimbah darah sambil merintih,Tapi Rio belum sempat menarik nafas lega melihat seseorang menodong Ify sebuah pisau lipat tajam.Rio menghantam punggun orang itu dengan sikunya lalu berhasil membuat orang itu terjatuh di lantai dan pisaunya lepas dari genggamannya.Rio segera menendang pisau itu ketumpukan balok kayu di sebelah timur sehingga pisau itu berada di tengah puing puing kayu.

Ify memejamkan matanya sedari tadi tapi setelah mendengar erangan Riko ,Ify  memberanikan diri membuka matanya pelan pelan.Cahaya lampu redup mulai masuk ke mata Ify perlahan tapi pasti Ify menangkap sosok tegap berdiri di depannya,sosok yang ia kira tidak akan pernah ada dalam hari ini.Ify sudah hampir putus asa mengharapkan sosok ini datang dan tanpa di duga dia memang datang dan Ify merasa benar benar bersalah tidak percaya apa katanya kemarin soal Tristan,Ify hampir menangis sekarang.

Rio langsung menghajar Riko habis habisan memukuli rahang kiri dan kananya bertubi tubi serta melayangkan pukulan kuat di pelipis kanannya serta mata kirinya,Wajah Riko sudah tidak berbentuk lagi.Rio benar benar ingin membunuh Riko dengan pisau yang ia todongkan pada Ify tadi,tapi Rio tau hanya akan menambah masalah.Rio menyelesaikan pukulannya dengan mendorong tubuh Riko jauh jauh .Rio menangkap sosok Ify menangis memeluk lututnya sambil gemetaran,Rio menyudahi pelajarannya untuk Riko lalu segera menghampiri Ify,Rio memeluk tubuh Ify erat erat tanpa bicara apapun Ify membalas pelukannya dan menangis di dada Rio.

Rio melepaskan pelukannya setelah Ify berhenti menangis lalu menatap mata Ify dalam dalam.

“Ayo pergi dari sini”Ajak Rio.Ify melangkah ragu lalu mematung saat melihat Tristan sudah pingsan.

“Rio..Tristan?”

“Biar Cakka , sebaiknya kau pergi dari sini.Secepatnya”Perintah Rio,Ify hanya mengangguk ragu lalu melepaskan jaketnya dan menggunakan lengannya untuk mengikat tangan Tristan yang berdarah.

“Tristan..tahan sebentar”Bisik Ify di dekat Tristan, Rio menelan salivanya bulat bulat melihat adegan ini,matanya terbelalak lebar.

“Cepat”Rio menarik kasar tangan Ify mengajaknya keluar dari tempat ini.
***
Alvin menendang perut lawannya yang akan mendekati Sivia yang menggigil ketakutan dari tadi lalu menarik tangan Sivia mendekat dengannya,Sivia hanya menurut saja lalu bungkam saat Alvin memukul bertubi tubi lawannya sehingga mulutnya sudah robek,Alvin lalu menyudahi pukulannya karna tak ingin membunuh orang.Baru saat selesai berkelahi Alvin merasakan badannya nyeri karna di pukuli tadi tapi ia tidak bisa meringis kesakitan di depan Sivia hanya mukanya yang terlihat menahan sakit.

Agni baru saja mendorong lawannya saat sebelumnya Agni memiting tangan lawannya sampai patah,Agni kesal sekali pada preman preman ini karna telah berhasil memukulinya sehingga pipinya lebam dan banyak bekas biru biru di lengan dan wajahnya.Agni melepaskan nafas lega saat melihat Sivia sudah berada di dekat Alvin.Agni kemudian menghampiri keduanya.

“Via apa yang terluka?”Agni memutar tubuh Sivia dua kali sambil melihat dari atas ke bawah.

“Agni! Bukan aku yang terluka tapi kamu”Gerutu sivia kesal sambil menyentuh lengan Agni yang biru lalu tangannya
segera di pukul Agni.

“Sivia sakit!”Pekik Agni,Sivia hanya menyeringai bersalah.

Tak lama kemudian Cakka bergabung bersama mereka,Cakka baru saja mematahkan kaki lawannya dengan tendangan bawahnya.Rio datang menarik tangan Ify dari tangga semuanya sontak  saling berhenti menanyakan keadaan masing masing,sekarang semua menatap Rio dan Ify.

“Nanti saja”Tahan Rio “Sekarang tolong Tristan di atas,aku harus segera membawa Ify keluar.Hati hati dengan orang
yang ada di atas sana”Perintah Rio,Cakka dan Alvin lalu mengangguk mengerti dan naik ke lantai atas.

Alvin dan cakka membopong Tristan menuju mobil Alvin sedangkan mobil Rio sudah hilang melesat.Alvin menempatkan Tristan di kursi belakang lalu mengambil tempat di samping Tristan diikuti Sivia di kanan Tristan.

Cakka mengemudikan mobil dengan cepat lalu beberapa puluh menit kemudian tiba di sebuah rumah sakit,Alvin segera berlari memanggil suster untuk membawa Tristan ke dalam.Sivia dan Agni hanya saling pandang tanpa bicara sedikitpun mereka masih memikirkan kejadian tadi dan sekarang si pembuat onar itu malah mereka bawa ke rumah sakit.

Agni duduk di ruang tunggu sementara Sivia sedang ke toilet,Agni merasakan pipinya berdenyut ia hanya bisa meringis tak lama berselang bekas pukulan yang lain semakin berdenyut juga Agni memutuskan mencari obat di apotek depan sana.Baru saja Agni bangun ia terhempas duduk lagi karna tarikan tangan seseorang ,Agni memutar lehernya dan mendengus kesal melihat siapa yang membuatnya duduk lagi.

“Ada apa lagi?”Tanya Agni tidak sabar.

‘Itu lukamu pakai ini saja’Cakka menyodorkan sebuah handuk yang sudah diisi es batu,Agni memutar bola matanya kesal.

“Tidak perlu”Jawab Agni dingin.

“Sudah pakai saja”Cakka bersikeras menempelkan handuknya di pipi Agni,Agni yang shock hanya diam saja masi blm bergeming.

“Aduh lukamu banyak juga ya,padahal sudah ku bilang tidak usah berkelahi”Tutur Cakka sambil membalik handuknya di pipi Agni.Agni mendelik kesal.

“Ify itu temanku..kau juga akan menolong Rio kan tadi”Balas Agni.

“Tapi kan kau ini wanita”Agni menahan amarahnya agar tinjunya tidak melayang ke wajah Cakka yang sangat dekat dengannya sekarang.

‘Terus kenapa?Tidak pantas?!”Cerca Agni.

“Ehh bukan itu ,Aku kagum melihatmu menghajar orang orang tadi.Something special that I ever seen”Puji Cakka.Agni merasakan tubuhnya membeku sementara jantungnya berdesir hebat,Dia bilang apa barusan? Something special-
***
Sivia mencuci mukanya yang terasa lengket di kamar mandi lalu mengusap ngusap tangannya di bawah air mengalir.Sivia mengambil beberapa tissue lalu berjalan keluar dari toilet wanita.Sivia menoleh ke kanan kiri melihat beberapa pasien di rumah sakit ini Nampak beristirahat di kamarnya,lalu melihat sebuah kamar yang sangat ramai,Sivia mengernyit heran melihat ada polisi disana juga.

“Maaf sus di sana ada apa ya?”Tanya Sivia pada satu suster yang sedang berjalan.

“Ohh ada tahanan yang sakit”Sivia hanya mengangguk mengerti lalu tersenyum dan berjalan lagi.

Sivia mendadak berhenti saat melihat Alvin bersandar di tembok rumah sakit sambil memegangi keningnya,Sivia pelan pelan mendekat kearah Alvin lalu menyentuh pundak Alvin pelan,Alvin segera mencari asal sentuhan itu lalu mendapati ada Sivia disana Alvin berusaha memaksakan seulas senyum karna menahan sakit.

“Biar aku yang obati lukamu’Tawar Sivia,Alvin hanya mengangguk dan menuju ke arah kursi di depannya.

Sivia mengeluarkan betadine dari kantong plastic yang Alvin bawa lalu mengambil beberapa lembar kapas dan meneteskan betadine diatasnya,Sivia mengamati wajah Alvin seksama lalu menyentuh pelan ujung bibir Alvin yang terluka.

“A..aduh..perih”Keluh Alvin sambil menjauhkan tangan Sivia.Sivia menggigit bibirnya tidak enak pada Alvin.

“Maaf”Ujar Via,Alvin hanya tersenyum.

“Aku mencari mu kemarin,pergi seenaknya saja”Gerutu Alvin,Sivia menahan nafas selama Alvin bicara “Aku khawatir mencarimu”Sivia susah bernafas mendengar perkataan Alvin tadi.

“Ehh aku mencari ify..ya mencari Ify”Jawab Sivia cepat.

“Ohh begitu..lain kali jangan pergi ya”Pinta Alvin,Sivia tercengang ia memberanikan diri menatap mata Coklat terang
Alvin dan Sivia tau Alvin sungguh sungguh.Sivia tersenyum pada Alvin,Ia tidak akan pergi sementara
***
Ify menahan setengah mati pertanyaan mengapa Rio membawanya ke pantai ini malam malam begini karna dari tadi Ify dan Rio sama sama bungkam.Ify menikmati deburan ombak yang terlihat putih diantara gelapnya malam itu sambil menikmati irama yang tercipta.Ify lalu melirik Rio sekilas yang juga menatap lurus lurus pantai di depannya,Ify menghela nafas bosan.

Setelah beberapa menit dalam diam Ify melirik Rio lagi yang masih menatap lurus ke arah laut yang masih berdebum.Ify menggigit bibir bawahnya mendapati darah kering di pelipis Rio dan luka luka lainnya di wajah Rio.Tapi Ify tidak melihat luka di hati Rio,Ify tidak tau.

“Sini”Ify menggunakan telunjuknya menggeser kepala Rio mendekat ke arahnya agar bisa membersihkan luka Rio dengan tissue yang diambilnya dari dashboard mobil Rio.

“Tidak usah”Rio menepis tangan Ify,Ify merasa bersalah pada Rio. Mungkin Rio bersikap begini karna merasa Ify merepotkan dan luka luka itu akibat menyelamatkan Ify.

“Rio..”Lirih Ify,Rio masih menatap kaku ombak di depannya.

“Aku minta maaf..ini semua karna..aku”

“oh iya”Jawab Rio datar.

“Harusnya kau tidak usah saja menolongku..harusnya biarkan saja aku”Ify memaksakan seulas senyum walaupun hatinya luar biasa sakit mendengar kata Rio tadi

“harusnya aku tidak membiarkanmu dekat Tristan dari awal”Jawab Rio sambil mencengkram erat kemudi mobilnya.

“Harusnya aku mendengarmu juga”Ify menyandarkan tubuhnya di kursi mobil rio.

Hening

Rio melirik Ify yang dari tadi tidak bicara lagi lalu samar samar mendengar bunyi nafas teratur dari sampingnya,Ify tertidur.Rio menoleh ke arah Ify yang sedang tertidur lelap matanya menutup sempurna sementara rambut hitam coklatnya menutupi sedikit wajahnya,Rio menyelipkan rambut Ify kembali ke telinganya dan sekarang ia dapat melihat dengan jelas wajah innocent Ify sedang terlelap Rio mengambil jaket coklatnya dan menyelimuti Ify.Rio ikut tertidur di kursinya ,menanti pagi.

Rio bertengger di depan kap mobilnya saat langit timur mulai menunjukan semburat merah jingga sementara Ify masih tertidur di mobil.Rio menarik nafas lalu menghembuskannya berulang kali untuk menyegarkan paru parunya.

Ify menggosok gosok matanya pelan lalu merasakan sesuatu yang janggan pada tubuhnya,Ify kebingungan sendiri melihat jaket yang ada di tangannya lalu tak lama kemudian ia membuka pintu mobil Rio dan mengikuti laki laki itu duduk di kap mobil.

“terimakasih”Kata Ify,Rio langsung menoleh dan mendapati Ify memegangi jaket kulitnya

“Nah sekarang kamu saja yang memakainya”Ify menyelimuti punggung Rio dengan jaket itu,Rio menatap Ify aneh sementara Ify tersenyum menatap Rio lembut.

“Jadi kamu maafin aku?”Tanya Ify.Rio hanya mengangguk kecil sambil menatap ke depan.

“heh Rio jawab”Desak Ify,Rio menatap lurus lurus ke depan.Ify berdecak kesal lalu mengalihkan pandangannya ke depan juga.

Ify tidak bisa bicara apa apa melihat matahari muncul dari balik garis pantai,Ify menatapnya diam ia terlalu kaget untuk bicara apa apa,Rio menoleh ke arah Ify yang tiba tiba menjadi hening padahal tadi sibuk mengintrograsinya,Rio mendapati Ify menatap matahari sambil terpaku dan mematung.Tanpa ekspresi

“Jadi masih menyukai matahari ? atau tidak”Tanya Rio

“….’Rio melirik Ify yang masi bungkam.

“Sudah tidak menyukainya lagi ya?”Tanya Rio,Ify melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya lalu menatapnya
lama.Rio menghela nafas berat lalu membuang muka dari Ify

“Aku menyukainya..masih,matahari itu selalu menepati janjinya,Ia tidak pernah terlambat terbit.Pasti datang”Rio menoleh cepat ke arah Ify,Ucapan Ify menghipnotisnya untuk tidak berpaling dari wajah Ify.Ucapan itu sama persis dengan alasanya untuk datang malam tadi.Tidak mengingkari janji yang entah kapan dibuatnya

“Dan Rio kau tau aku menyukai matahari bukan karna bunga dan tempat itu,Aku masih menyukainya sekarang”Ify tersenyum pada Rio yang membatu dalam posisinya di samping Ify “Ahh tapi ada satu yang belum ku tau,apa aku masi menyukainya saat kau tidak ada,Rio”Ify menatap lekat lekat ke dalam mata Rio,Rio dapat melihat mata coklat Ify semakin bersinar di terpa cahaya matahari.Rio hanya diam masih belum berkata apa apa saking terpesonanya,Gadis ini sudah dua kali mengatakan ini dan Rio benar benar takut kalau Ify berkata ia menyukai matahari walaupun Rio tidak ada
***
Agni dan Sivia baru saja selesai dengan materi bahasa Inggris oleh Mrs.Joe mereka segera menyusul Ify ke cafeteria untuk makan malam,Ify tidak sekolah hari ini karna kelelahan.Agni dan Sivia saling sikut dan melempar tugas sepanjang perjalanan sampai Agni yang menawarkan dirinya untuk mengemban tugas penting ini.Namun niat Agni mendadak ciut melihat Ify sedang duduk dicafetaria bersama Rio.Rupanya Rio juga tidak ke kelas hari ini,Agni melirik Sivia sekilas tapi Sivia langsung menggeleng.

Sivia dan Agni akhirnya sampai di meja Ify dan Rio setelah Alvin dan Cakka.Cakka menatap Agni dengan tatapan iba sekaligus takut begitupun Alvin menatap dua sahabat ini takut takut.Agni mendekat ke arah Ify dan duduk di sampingnya lalu memasang senyum terpaksa

“Ify aku ingin menyampaikan sesuatu”Sivia ,Cakka, dan Alvin berdoa dalam hati agar tidak ada hal yang buruk setelah ini

“ya”Ify mendongakan kepalanya menatap Agni

“Ini..surat..da..dari Tristan”Semua berhenti bernafas untuk sepersekian detik kemudian Agni mengeluarkan surat putih dari kantong bajunya yang dari tadi pagi belum berani di berikannya pada Ify.

Ify merasakan tangannya bergetar saat menerima surat dari Agni,Tristan…kenapa lagi dia? Apa dia?.Ify menggelengkan kepalanya kuat kuat mengusir jauh jauh pikiran buruknya ia lalu merobek ujung surat itu cepat dan menarik keluar isinya
Ify..
Aku minta maaf, Minta maaf karna membawamu kesana.Sungguh aku tidak ingin menyakitimu tapi keadaan memaksaku.
Suatu saat kau pasti tau alasanku dan Aku selalu berdoa kau tau dan baik baik saja setelah itu.
Tapi aku tau dan berjanji kau pasti bahagia akhirnya,Pasti!
Waktuku mungkin tidak banyak lagi…tapi setidaknya hari hari terakhirku sudah sangat menyenangkan..dan terima kasih Ify
Terimakasih untuk tetap hidup
Ify menatap agni tidak percaya sementara air matanya mengalir deras.Ify tidak bisa menahan getaran hatinya untuk tidak menangis.

“Jadi dimana dia?”Tanya Ify gemetar.Agni hanya menggeleng menyesal.

“Jadi dia pergi Ha!?”Ify menaikan nada suaranya,Agni langsung memeluknya.

“Jadi dia sudah pergi?”Ify menangis dalam pelukan Agni.Dia pergi


Ify menarik selimutnya sambil memeluk lututnya yang gemetaran,Ia masih belum tidur sementara Agni dan Sivia mungkin sudah tidur.Ify melihat bintang di langit hitam malam dan yakin salah satunya adalah Tristan.Ify menatap kosong surat Terakhir Tristan lalu membaca ulang isinya dan malah membuat Ify kembali menangis.
Ify mengusap air matanya dengan punggung tangan lalu menyadari masih ada tulisan di balik surat itu,Ify mengusap lagi air matanya sehingga matanya cukup jelas untuk membaca sekarang


Jangan menangis,kau bisa merasakan aku di setiap rintik hujan..Aku tidak pernah pergi,tidak benar benar pergi.

Ify menyeka air matanya membaca kalimat terakhir Tristan.Ify tau ada alasan yang jelas utuk bertahan dan dia akan tetap bertahan demi Tristan,Ify tau Nyawa tristan sangat berharga Ify tidak akan menyianyiakannya Ia akan mencari tau alasan tristan.Harus!

0 komentar:

Posting Komentar

 

EYES OPEN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review