Rabu, 12 Desember 2012

Another Life l Sembilan

Diposting oleh Ossi Widiari di 22.16

“Bintang memang tidak selalu nampak,Tapi selalu ada”Entah hanya perasaan Rio atau Bagaimana perlahan Mendung itu menipis,Gadis ini memang mataharinya.
Ify benar,Sirius tidak benar benar kesepian.Tapi Rio memang kesepian.
“Aku mau jadi Sirius”Ify tersenyum memandang langit
“Bintang paling  terang, yang  paling cepat mati”Jawab Rio datar
“Tapi mereka lebih terang… terlihat mereka akan selalu diingat.”
“Walaupun cepat mati?”
“Ya.setidaknya dia punya waktu dan dimaanfaatkan sebaik baiknya”Jawab Ify yakin
Beberapa menit berlalu dengan keheningan,Rio dan Ify sama sama memandang bintang itu penuh misteri
“Aku mau jadi Sirius kamu,Jadi yang paling  terang buat kamu”Ify memandang Rio tidak Percaya.Dia bilang  apa barusan?
***



SEMBILAN

“Kau tidak akan pergi lagi kan? Ri..Ri..o?”Ify mengerjapkan matanya tidak percaya,Hatinya lega luar biasa.

“Tidak sekarang..Ify,aku..aku tidak bisa untuk sekarang”Rio menatap Ify dalam dalam.

“Jadi?..Apa?”Suara Ify bergetar.

“Ada yang harus aku bereskan dulu,Fy..”Rio membelai rambut Ify.”Aku harus pergi untuk menyelesaikannya”Ify menggeleng pelan,matanya mulai berkaca
kaca”Aku janji hanya sebentar”Ucap Rio yakin.

“Rio..jangan,Rio!”Ify menggeleng bersikeras Rio tetap tinggal.

“Aku janji setelah semuannya beres, aku akan selalu di sisimu.Percayalah..aku tidak akan pergi lagi”
Ify menutup matanya , air matanya meluncur satu satu.Rio endekap tubuh Ify erat.

“Jangan menangis..nanti aku tidak akan bisa pergi”Lirih Rio.

“Aku memang tidak mau kau pergi”Suara Ify meninggi

“Tapi kita tidak akan bisa bersama Ify”Rio membelai lengan gadis itu.

“Jadi?...Jadi..”Ify seseggukan “Tidak akan bisa tinggal Rio?..Tidak bisa?”Rio menghapus air mata Ify.

“Berhentilah menangis Ify,aku tidak bisa melihat kau menangis”Rio memeggangi dadanya yang sesak”Aku janji akan kembali”

“Aku janji Ify..Janji”Ify mengangguk pelan dalam pelukan Rio.

Malam itu di bawah naungan bintang,Ify dan Rio berpelukan menitipkan hati mereka.Rio pada Ify dan Ify pada Rio.Malam itu Orion jadi saksi bisu,Janji yang mereka ucapkan,Janji bertemu di batas waktu.
***
“Ify semalam kau kemana sih?’Tanya Agni

“heh?Tidak ada”Sahut Ify lemas.

“Sejak kapan sih kau pandai berbohong”Gerutu Agni.

“Ayolah.Please… aku sedang tidak ingin membicarakannya.Agni mengangkat kedua bahunya sambil geleng geleng kepala.

“Hmm..”Gumamnya tidak jelas,lalu beranjak meninggalkan Ify.

Ify memeluk lututnya sendiri sambl menengadah ke jendela.Ia masih merasakan pelukan Rio disana,masih ingat bagaimana rasanya berada di sisi Rio.Tapi sekarang ia harus pergi?rasanya Ify tidak rela..Ia tidak mau ini terjadi, walaupun Rio berjanji akan secepatnya kembali.Tapi Ify tetap merasa takut seperti perasaan takut di bohongi.Di kecewakan.

Ify tau sebenarnya tidak ada yang ingin pergi,Rio menginginkan Ify disisinya sama seperti Ify menginginkan Rio.Tapi kenapa Rio harus merelakan waktu yang bisa mereka manfaatkan?Pasti ada sesuatu yang benar benar penting.sesuatu yang di sembunyikan Rio?
Perasaan Ify jadi campur aduk, kepalanya serasa berputar putar.Apa yang di sembunyikan Rio? Apa yang ingin dia tangani? Masalah macam apa itu..sesuatu yang bisa Rio lakukan sendiri,Tanpa dirinya.Apa Ify tidak  begitu penting buat Rio?tapi perkataan cowok itu tadi malam serasa menampar pikirannya sendiri,mencoba menyadarkan Ify.Nyatanya, semalam cowok itu mengakui arti dirinya di hatinya.Tapi kenapa sekarang Ify malah ragu? Ia memang penting…Tapi, ada yang lebih penting?



Ify berjalan lunglai ke kamar mandi untuk bersiap siap sekolah, hari ini akan jadi hari yang panjang.Penantian yang panjang di mulai dari sini, dari hari ini.Hari ini, akan jadi hari yang hampa…tanpa Rio.Ify terduduk lemas, bersandar pada dinding kamar mandi.Ia menelungkupkan wajahnya dan mulai terisak.
***
Rio berjalan menyusuri koridor sekolah, hari ini terasa berat tanpa Ify.Biasanya Rio akan bersemangat pergi ke kelas dan lebih semangat lagi ketika pulang sekolah.Ia bisa membawa Ify ke tempat mereka dan yang lebih membuat hatinya bahagia, Ia bisa melihat senyum gadis itu.

‘crekk..’Rio mendorong pintu pepustakaan yang seret itu sehingga menimbulkan bunyi berdecit.

“Al..”Miss Shilla melongo dari dalam perpustakaan dan terperangah melihat siapa yang datang hari ini “Ri..Rio?” Rio hanya menggidikan bahunya acuh tak acuh.

“Wah.. kau datang lagi ya? Sudah lama sekali kau tidak datang’Mrs.Shilla tersenyum lebar.

“Aku masih jadi asistenmu kan Miss?”Jawab Rio cuek.Shilla menyadari ada sesuatu yang terjadi pada Rio, membuatnya berubah menjadi seseorang yang dingin.

“Ify?”Rio terperangah dan menatap Mrs.Shilla malas.

“Well, jadi ada apa dengan kalian?”Mrs Shilla tersenyum getir.Rio segera beranjak dari hadapan Mrs.Shilla

“Ku kira sudah lama sekali tidak kesini, pekerjaan ku pasti banyak”Mrs.Shilla menghela nafas.

“Sebenarnya Alvin selalu membantuku,Rio”

“Oh..”Rio segera mengambil beberapa tumpukan buku yang acak acakan lalu menyusunnya.

Rio mengambil sebanyak mungkin pekerjaan yang bisa di kerjakaanya, selain karena tidak enak pada Mrs Shilla dan Alvin yang menggantikan tugasnya.Rio juga berusaha mengalihkan pikirannya pada Ify.Sebenarnya, kemarin Cuma alasannya untuk memberi kesempatan pada Gabriel.Mungkin butuh waktu lama untuk itu, Hari ini Rio memutuskan akan bicara pada Gabriel tentang Ify, keputusannya.Hari ini Rio akan mengorbankan perasaannya.Semalam Rio telah memutuskan,Rio tau benar bahwa ini tidak akan berlangsung cepat.Ini akan terasa layaknya penyiksaan yang tak mengizinkannya mati juga walaupun ia ingin

Rio berjinjit untuk mengambil sebuah buku yang menarik perhatiaanya, Buku itu seperti yang pernah ia baca beberapa waktu lalu.Buku yang memuat tentang kakaknya,Steve.Ahh iya, andaikan kakanya masih disini  semua pasti jadi mudah.Rio tidak akan bermusuhan dengan Gabriel dan tentu saja ia jadi punya teman cerita.Rio menarik keluar buku itu dan membuka halaman halamannya.Jantungnya berdegup keras begitu melihat sebuah foto,Misteri apalagi ini!Rio segera menyembunyikan buku itu dan diselundupkan ke dalam tasnya.Ia tidak mau Mrs.Shilla mengambil lagi buku itu.Rio memutuskan selama menunggu dengan hati yang terkoyak, Ia memutuskan menyelidiki hal ini.
***
Gabriel melangkah dengan riang menuju kamar Sivia, hari ini dia berencana membawa gadis itu pada Ibunya lagi.Ia senang melihat Ibunya dapat mengalihkan pikirannya dari ambisinya, lagipula Sivia juga sangat senang mengenal Miranda.
‘Tok..tok..tok..’

Gabriel mengernyit heran karena tidak ada jawaban.Gabriel mengintai melalui kaca pada pintu untuk melihat apakah Sivia ada di dalam, tapi Gabriel tidak menemukan siapa siapa.Gabriel mendengarkan isakan samar samar dari dalam kamar itu,Gabriel merapatkan telinganya pada pintu ia mengenali suara itu,Ify?

Gabriel mendobrak pintu dengan kasar lalu mengikuti suara tangisan itu dan membuka kasar pintu kamar mandi, tidak salah lagi Ify sedang meringkuk disana.Gabriel tercengang menatap Ify yang Nampak rapuh dan berantakan, Ia lalu berjongkok di depan Ify dan merengkuh gadis itu dalam pelukannya, tangisan Ify makin semakin keras sementara Gabriel hanya bisa mengelus lebut rambut gadis itu

“Fy..?”Ify tidak sanggup menjawab pertanyaan Gabriel ia hanya terisak.

“Ify ada apa?” Tanya Gabriel lagi,Ify mesih sesenggukan dalam pelukannya.

Gabriel hanya bisa memeluk gadis itu kuat kuat ia memutuskan berhenti bertanya alasan Ify menangis karena sedari tadi gadis itu masih belum sanggup menjawab.Gabriel dengan sabar mengelus rambut gadis itu lembut sampai Gabriel merasakan pelukan Ify melemah,Gabriel memegangi pundak Ify dan melepas pelukan mereka,Ia menatap mata Ify dalam bagaimanapun Gabriel tau Ify sedang terluka,matanya penuh kesedihan.

“Kenapa?”Tanya Gabriel lembut.Ify masih terisak kecil bersusah payah menjawab pertanyaan itu dengan susah payah.

“Ri..Rio..dia..diaaa”Ify kembali merasa sesak di dadanya mengingat hal yang akan terjadi padanya,Ia menangis lagi.

Gabriel mengepalkan tangannya kuat kuat,Rio…beraninnya dia!Gabriel sudah mati matian menjauhi Ify membiarkan Rio menjaga gadis ini, tapi nyatanya malah
Rio yang melukainnya.Gabriel tidak mau tau ia harus membuat perhitungan dengan Rio.Gabriel membopong Ify ke kemarnya dan membiarkan Ify beristirahat di kasurnya.
***
Rio baru keluar dari perpustakaan dan membeli sekaleng soda,Hari ini ia membuat dirinya sesibuk mungkin agar tidak memikirkan Ify,tapi nyatanya ia sekarang malah mencemaskan Ify,apa Ify merasakan pedih dihatinya?Apa Ify tau rasa sakitnya merelakan gadis itu ke pelukan Gabriel?Rio memejamkan matanya kuat kuat,Ia sudah berjanji akan membuat hari hari kedepan lebih baik, walaupun termasuk merangkul pundak Gabriel yang menggandeng Ify mesra..Ya, walaupun itu.Lagipula Rio harus menyelesaikan masalah kakaknya,Ia harus tau ada apa dengan Steve karena Rio merasa ada yang janggal tentang kematian kakaknya itu,kejanggalan yang membuat Ibunya tidak mau bercerita apa apa dan yang paling parah membuat ayahnya meninggal dua tahun kemudian karena tertekan kehilangan Steve.

Rio melangkah menuju atap sekolah dengan segala bayangan tentang kematian Steve,Ia merasa amat bodoh karena tidak bisa berbuat apa apa dan Ia merasa benar benar tidak berguna karena tidak bisa mengingat apapun, walaupun murni bukan kesalahan Rio yang baru berumur empat bulan waktu kakaknya itu meninggal.Semenjak kematian ayahnya,semua benar benar berubah Gabriel bahkan tidak mau menemaninya lagi padahal dari dulu kakak tirinya itu lah yang selalu menemaninya bermain,Dunia serasa tidak adil bagi dirinya.

Rio meneguk minumannya yang mendadak terasa pahit,selama ini ia sudah mengorbankan segalanya untuk satu satunya saudaranya yang tersisa tapi nyatanya semua hanya sia sia.Rio menggengam kaleng minumannya sehingga kaleng itu berbentuk tidak beraturan,detik berikutnya Rio menggeram keras keras!Kenapa semua harus terjadi padanya?Kenapa!

‘Bukk..!’Sebuah hantaman keras mengenai rahang Rio,Rio langsung jatuh tersungkur.

“Apa yang kau lakukan pada Ify,Ha?”Gabriel maju selangkah untuk menghajar Rio lagi.

“Apa maksudmu?”Rio segera bangkit dan tersenyum kecut pada Gabriel.

“Kau ini ya..”Gabriel melayangkan tinju di udara detik berikutnya ia menurunkan lagi tangannya.”Apa kau..bilang akan meninggalkannya?”Gabriel merasa
hatinya tertohok dengan ucapannya sendiri.

“Kalau ia kenapa?”Gabriel beringsut mendekati Rio dan mengambil kerah baju Rio,Ia mencengkram erat kerah itu sampai Rio kesulitan bernafas.

“Kan sudah aku bilang”Desis Gabriel “Jangan sakiti Dia”Bentaknya di depan muka Rio “Kau ini tidak punya hati ya? Kau tau aku menyukainnya kan!”Geram Gabriel.

Rio tersenyum masam mendengar pernyataan langsung Gabriel itu.

“Tapi kau juga tau kan,Ify mencintai siapa! Kau tidak bodoh,Rio.Jangan berpura pura buta”Gabriel mencengkram lebih erat kerah baju Rio.Rio terbatuk batuk kehabisan nafas.

“Jawab aku!”Suara Gabriel meninggi,Ia lalu mengarahkan pukulannya ke pipi kanan Rio.

“hahaha…ha”Rio tertawa masam sambil mencoba bangkit kembali.

“Aku tau Gabriel!Aku tau”Suara Rio terdengar putus asa.”Aku tau kau menyukai Ify”Desisnya sambil menahan sakit.

“Lalu kenapa kau tinggalkan dia!Kurang ajar kau!”Bentak Gabriel.Rio bangkit tertatih tatih dan berjalan medekati Gabriel,tiupan angin yang cukup kencang
membuat luka di wajah Rio terasa perih.

“Karna kau!”Rio berteriak di depan wajah Gabriel,Gabriel membelalakan matanya tidak percaya.

“A..aku?”Katanya tergagap.

“Tentu saja, kenapa kau? Kaget! Aku menyerahkan Ify padamu..kau tau, supaya kau berhenti marah marah padaku”Ujar Rio putus asa.

“Dulu kau baik sekali mau menjagaku, menggantikan Steve sebagai kakakku.”Lirih Rio

“Tapi semenjak Ayah meninggal,kau juga ikut pergi!”Rio menaikan nada suaranya “Semenjak itu hubungan kita menjauh..Kau tidak pernah lagi ingin
melihatku”Gabriel menutup matanya mendengar kata kata Rio.

“Kau tau…selama ini aku mencoba mengembalikan waktu waktu kita kakak!”Gabriel merasakan kepalanya berdenyut denyut,Ia tidak sanggup  mendengar kata kata Rio.

“Aku tau kau menyukai Ify,aku tau”Lirih Rio.

“Ify mungkin hal terakhir yang akan ku berikan padamu”Rio merosot jatuh ke tanah “Aku mohon..maaf kan aku,kakak”Rio berlutut di hadapan Gabriel.”Aku
mohon”Lirihnya putus asa.

“Aku merindukan masa masa kecil kita yang bahagia…aku merindukannya”Gabriel merapatkan rahangnya yang mendadak Kaku.

“Kau? Menyerahkan Ify padaku?Kau meninggalkannya?”Tanya Gabriel tidak percaya.

“Aku tau kau menginginkannya”Ujar Rio,Gabriel menggeleng dalam hati.

“Apapun akan kulakukan,Kak..asal kau kembali lagi menjadi kakak ku, saudara ku satu satunya”Gabriel menahan kuat kuat dirinya yang ingin memeluk Rio,Menahan bibirnya untuk berkata ‘Baiklah’

Gabriel menggengam erat erat tangannya sampai buku buku jarinya memutih,Rio jelas jelas tidak tau apa apa.Gabriel sudah pernah memikirkan ini mencari cari dimana kesalahan Rio,tapi sebenarnya Gabriel tidak pernah menemukannya.Hati Gabriel tau itu.Mungkinkah ia memaafkan Rio? Hatinya berkata ia bisa tapi otaknya tidak ,Ia tidak bisa memaafkan Rio dalam pikirannya karena ia tau Ibunya tidak akan mengizinkannya,Ibunya orang yang disayanginya…malah membenci orang yang disayanginya berikutnya.

Gabriel melepaskan pegangan Rio pada lututnya dengan kasar,Ia meninggalkan tempat itu dengan beribu kata maaf dalam hati.

0 komentar:

Posting Komentar

 

EYES OPEN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review