Blogroll
Labels
- Another Life (16)
- Cerpen (14)
- Love your life (15)
- Red (7)
- Resensi (1)
- Sajak (7)
- taylor swift (9)
- Untuk Neptunus (1)
Blog Archive
-
▼
2012
(28)
-
▼
Desember
(17)
- Another Life l Sebelas
- Another Life l Sembilan
- Another Life l Delapan
- Another Life l Tujuh
- Another Life l Follow me (Six to seven)
- Another Life l Enam
- Another Life l Lima
- Another Life l Four to Five
- Another Life l Empat
- Another Life l Dua
- Another Life l Tiga
- Another Life
- Dalam hidup, pilihan hadir sesering nafas berhembu...
- IF I CAN I WANT DELETE THIS DAY
- Sebuah Misi
- Our Weird Our Pride!
- THISEMBER BE MINE after All This Pain.....
-
▼
Desember
(17)
Watched
Rabu, 12 Desember 2012
Another Life l Delapan
DELAPAN
Sivia melangkah takut menuju pekarangan rumah Gabriel,Jantunganya berdegup kencang.Ada aura yang serasa mencekik leher Sivia ketika sampai dirumah Gabriel atau mungkin hanya keterkejutanya saja karena tiba tiba Gabriel mengajak Sivia kerumahnya.Sivia berjalan mengikuti Gabriel yang Nampak santai tapi Sivia tetap was-was memandangi sekeliling rumah Gabriel.
“Ayo masuk”Gabriel membuka pintu kayu jati rumahnya sehingga menimbulkan suara berdecit.Sivia hanya mengangguk masih ragu
“Mom..”Sivia menggigit bibir Grogi tidak menyangka akan bertemu siapa.
Wanita paruh baya menuruni tangga kebesarannya,Matanya memandang heran pada Gabriel.Lancang sekali anak itu kemari.
Sivia menatap resah langkah kaki Ibu Gabriel,penampilan wanita itu menggambarkan ia orang yang berada dengan segala jenis perhiasan menempel pada tubuhnya namun tidak terlihat norak.Gaun merah sebatas mata kaki membuat Sivia makin takut melihatnya,Mirip tokoh Antagonis di film film.
“Mom..ini Sivia,Sivia ini ibuku,Miranda”Sivia mengulurkan tangannya kaku sementara Miranda hanya tersenyum simpul.
“Miranda”
“Sivia”
“Mom..Sivia ini temanku di sekolah”Gabriel tersenyum mencoba mencairkan suasana.Miranda mengangguk mengerti
“Gabriel ikut aku,ambilkan minuman untuk temanmu”Gabriel mengangguk lalu menunjuk sebuah kursi agar Sivia duduk disana.
Sivia memandangi Mrs.Miranda lekat lekat,sepertinya ia pernah bertemu orang itu di suatu tempat Tapi Sivia lupa dimana
***
Ify memandang keluar jendela melihat samar samar barisan pohon pinus di balik kaca mobil Rio karena hari sudah malam.Rio duduk di balik kemudi tanpa banyak bicara padahal ada sejuta hal yang ingin ia bicarakan.Rio merasakan hatinya akan terbagi di satu sisi ia sangat menyayangi Ify,Orang yang baru dikenalnya tapi terasa lama dan disisi lain ia merindukan sahabatnya,Gabriel.Rio tau tidak ada yang bisa dipilihnya dan tidak ada yang mau di korbankannya.Tapi tidak dengan Cakka dan Alvin,Rio tau mereka sangat menginginkan Gabriel dan Rio akan berkorban,Bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk Cakka dan Alvin.
Rio melirik sekilas Ify yang menyandarkan kepalanya di kursi penumpang,Ify pasti mengantuk.Rio mengarahkan tangan kirinya ke puncak kepala Ify dan membelai rambutnya.Rio merasa tenang.Samar samar terdengar suara tawa Gabriel,Alvin dan Cakka.Ekspresi mereka,Kerinduan di setiap liter udara yang ada di ruangan itu.Masa kecil mereka yang Indah.Rio merasa hatinya sakit,semuanya bukan pilihan menurutnya itu semua pengorbanan.Rio melepas belaianya,lalu menatap kosong ke jalanan di depan.
Ify sudah benar benar tertidur ketika mobil Rio sampai di depan gerbang sekolah,Rio melongo kan kepalanya keluar jendela berusaha mencari satpam yang menjaga gerbang agar membukakan Gerbang.Nihil.Rio membuka pintu dan melangkah keluar.
“Pak..tolong bukakan pintunya”Rio mengetuk pintu Pos satpam sambil sedikit berdecak kesal.
“Aduh Dek kalo mau pintunya di buka bilang sama Mr.Rafael”Rio mengernyit heran
“Loh emangnya kenapa sih Pak? Biasanya juga nggak di tutup gini pintunya”Gerutu Rio
“Ini kan sudah lewat jam malam.Ini sudah jam 10.Lewat 30 menit dari batas jam keluar.”Rio menghentakan kakinya ke tanah lalu berbalik menuju mobilnya
“Mario”Rio menghentikan langkahnya ketika sebuah suara berat memamnggilnya,Ia segera berbalik.
“Kamu tau ini jam berapa Ha?!”Rio melengos frustasi ketika menyadari itu adalah Mr.Rafael.
“Ini sudah lewat jam malam”.Hening.”Kamu tidak boleh masuk!”Rio mendongak,menatap Gurunya itu dengan tatapan tidak terima.Oke dia tidak boleh masuk, Tapi Ify tidak mungkin tidur di mobil semalaman.
“Ayolah pak..ini pertama kalinya saya melanggar”Desak Rio
“Tapi peraturannya sudah jelas kan,Yang melanggar jam malam tidak boleh masuk”Rio berusaha menahan diri agar tidak mengumpat
“ganti saja hukumannya.Saya tidak ingin membuat teman saya menderita tidur di mobil semalaman”Gantian Mr.Rafael yang menatap Rio bingung
“Teman?”
“Saya pergi bersama Alyssa pak,Tadi kami ke Kota”Mr.Rafael geleng geleng kepala.
“Baiklah,karna saya tidak bisa membiarkan kalian diluar berdua saja malam malam begini bisa bisa terjadi sesuatu,Sebagai gantinya besok pagi kalian berdua harus membersihkan halaman belakang sekolah”
“Baiklah pak”Mr.Rafael segera menuju Pos Satpam memerintahkan security itu untuk membuka Gerbang
Tak lama kemudian mobil Rio meluncur memasuki halaman sekolah,Setelah parkir Rio langsung membopong Ify ke kamarnya.Agni yang muncul di depan pintu langsung mempersilahkan Rio masuk tapi setelah itu Agni menodong Rio dengan segala macam tuduhan.
“Ify kau apakan Ha?! Dia pingsan ya! Ayo jawab!!!”Agni ingin menarik kerah baju Rio.
Rio menahan tangan Agni yang sudah dekat dengan kerahnya dan meletakan jari telunjuknya di bibirnya,’jangan Ribut nanti Ify bangun”Agni merasa wajahnya memerah karena malu,Rio melepas tangan Agni dan berbalik menuju pintu
“Tolong jaga Ify ya..kalau aku ga bisa lagi”Agni mengernyit bingung
“Memangnya kau mau kemana?”Tanya Agni,Rio berhenti di ambang pintu dan menoleh pada Agni.
“Menyelesaikan urusanku”Agni semakin bingung,Rio tersenyum tipis dan berlalu dari kamar itu
***
“Sivia” Agni mengguncang tubuh Sivia,Sivia menggeliat masih mengantuk.
“Sivia..bangun! ini aneh sekali”Gerutu Agni
Sivia akhirnya menurut dan bangun dengan malas malasan.Sivia menguap lebar lebar membuat Agni bergidik ngeri.
“Kenapa sih”Sivia mengucek ngucek matanya sambil cemberut
“Aneh sekali”Gumam Agni
“Apanya sih? Ayolah Agni cepat bicaranya aku mengantuk!”Gerutu Sivia
“Rio..sepertinya dia akan meninggalkan Ify”
“Tidak mungkin,Kita sama sama tau kan Rio itu sayang banget sama Ify”Agni menggeleng
“Aku dengar sendiri Via.Dia minta aku jagain Ify,dia bilang dia mau pergi”
“Kemana?”Agni menghela nafas pasrah.Memang salah besar cerita pada Sivia
“Entahlah” Sivia hanya mengangguk ngangguk,Lalu merebahkan dirinya kembali
“Via! Kamu ga peduli sama Ify ya”Gerutu Agni
“Aduh Agni, Aku peduli tapi kan katamu tidak tau Rio mau kemana,sebaiknya kita cari tau dulu baru kita repot repot mikirin Rio dan Ify”Agni mengangguk antara binggung dan setuju,Nampaknya Sivia benar mereka harus tau dulu Rio akan pergi kemana.
“Yaudah aku mau tidur”Sivia menarik kasar selimutnya
Agni beranjak dari tempat tidur sivia hendak menuju kamarnya sendiri,Tapi langkahnya terhenti ketika melihat pohon anggrek di kamar Sivia
“Via” Panggil Agni
“Emm..”
“Ini Anggrek dari siapa?”Agni memandang curiga Anggrek bulan di meja Sivia
“Mamanya Gabriel,dikasi aku katanya”Agni melotot segera menarik selimut Sivia sampai terbuka
“Apa!!!”Teriaknya.Sivia mengusap ngusap kupingnya sendiri
“Agni pelan pelan ngomongnya”Ringis Sivia
“mamanya Gabriel? Kamu? Gabriel?OMG!”Pekik Agni
“Eh ? memangnya kenapa sih?”
“Gabriel Via..Gabriel.. Gabriel sepupu Rico! Yang mau nyelakain Ify”Agni mengguncang guncang bahu Via mencoba menyadarkan anak itu
“yaampun Agni kalau kamu ga kenal sama Dia kamu pasti mikir aneh aneh.Asal kamu tau ya.. mamanya Gabriel itu baik banget tau,Mukanya aja familiar gitu.Mana dia suka berkebun lagi,sama kaya aku”
“Tapi Vi..”
“Agni aku tau kok mana yang baik mana yang enggak.”Sivia menatap Agni dalam dalam
“Aku percaya Vi..”Agni menepuk punggung tangan Via lalu meneruskan langkahnya ke kamarnya dengan perasaan was was.
***
Ify memakai sepatu cepat cepat karena ia sudah terlambat masuk kelas biologi, hari ini ia semangat sekali karena akan mengerjakan tugas kacang merah itu dengan Rio.Semalam ia bermimpi di gendong Rio dan entah kenapa dia jadi sering senyum senyum sendiri memikirkan cowok itu.Dia pasti sudah hampir gila sekarang.Ify mendengus kesal berjalan dengan langkah panjang panjang di bawah atap koridor ,bagaimana mungkin dia masih memikirkan cowok itu di saat genting seperti ini.
Ify mengetuk pintu kelas dengan jantung berdebar debar, Ia merapal banyak sekali mantra berharap agar Mr.Edward sedang pergi entah kemana.Malang nasib Ify karena Mr. Edwars sedang menatapnya dingin dan Ify tau ini sudah masuk kondisi tidak enak.
“Bel sudah berbunyi 15 menit lalu Alyssa” Ify menyeringai tidak enak
“Saya minta maaf, Sir”Ify menunduk memandangi sepatunya yang Nampak awur awuran
“Sudahlah saya ada rapat hari ini,kamu boleh masuk tapi tetap haru menandatangani surat terlambat masuk”Ify mengangguk lega
Ify langsung menghempaskan tubuhnya di bangkunya, Ia lega sekali.Ify menatap jendela di sampingnya dan menemukan kacang merah itu hampir mati,pasti karena jarang disiram.Gawat.
“Aduh gimana nih.. kacangnya kok gini Yo?” Ify membalik badanya ke arah bangku sebelahnya tapi ternyata Rio tidak ada disana,Ify menoleh ke arah Sivia dan Agni dan berhasil mendapat senyum geli dari mereka berdua,Ify melotot kesal tapi dan keduanya langsung mengangkat bahu.
Kemana Dia?Apa dia terlambat bangun seperti aku atau sakit ?
Ify bergegas keluar kelas Biology berniat menemui Rio.
“Ify mau kemana,heh?”Seru Agni
“Ada urusan”Ify melambaikan tangannya lalu melesat meninggalkan kelas menuju asrama cowok
***
“Sivia kau tau dia pasti sedikit gila”Agni mengarahkan matanya ke pintu kelas yang baru saja dilewati Ify
Sivia terkikik “Jatuh cinta dan gila itu hampir sama”
“Menurutmu kita perlu mengikuti dia?”Tanya Agni, kali ini dengan nada khawatir.Sivia menggeleng pelan lalu mengangkat bahu
“Menurutmu orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi lupa membuat surat terlambat”Gerutu Agni
“Dasar Ify”Omel sivia “Kurasa aku harus membuatkan satu untuknya,Kau saja yang menyusul dia,Ya?”
Agni mengangguk, Mereka lalu bangkit dari kursi dan berjalan berlawanan karena Sivia harus pergi ke Ruang Guru untuk mengambil surat terlambat.
Sivia melintasi pintu depan perpustakaan dan memeriksa kedalam untuk melihat Alvin ada di sana atau tidak, namun ternyata bukan Alvin yang di temuinya tapi Gabriel.Anak itu langsung melambai pada Sivia dan bergegas meletakan buku bacaannya lalu berjalan ke arah pintu keluar.Sivia tersenyum,baru kali ini dia merasa ‘sedikit’ istimewa.
“Mau Kemana Vi?”Tanya Gabriel
“Tidak ada hanya pergi ke ruang guru”
“Butuh teman?”Gabriel tersenyum lembut,Sivia bahkan sampai membeku disana
“Boleh” Ia mencoba menjawab sesantai mungkin
“Ada perlu apa ke ruang guru ?”Tanya Gabriel setelah mereka berjalan beriringan
‘Ah.. tidak hanya mengambilkan surat untuk Ify.Surat terlambat”Gabriel tersenyum tipis
“Oh ya, Besok apa kau keberatan makan malam bersama Ibuku?”
“Aku boleh datang ke sana lagi?”Ujar Sivia tidak percaya
“Memangnya kenapa?”Gabriel terlonjak kaget
“Nggak.. maksudku aku.Ya ampun aku seneng banget di rumah kamu, Aku naksir banget sama tanaman ibumu”Gabriel tersenyum lega
“Jadi besok jam 7 aku jemput ya”Sivia mengangguk semangat
***
Ify menusuri koridor asrama cowok,Ia berjalan pasti menuju kamar Rio.Ify mengetuk pintu kamar itu tapi lama sekali sampai pintu itu di buka
“Hai”Ify memandangi laki laki di depannya kebingungan
“Ify”Ulang laki laki itu lagi
“Eh, Cakka.Liat Rio ga?”Tembak Ify langsung.Cakka hanya tersenyum
“liat Rio ga?”Ify jadi keki
Cakka menyeringai lalu menggidikan bahu.Ify mendengus kesal
“Lain kali kalo ga ada orangnya bilang langsung aja bisa”Cerca Ify.Cakka hampir terbahak bahak melihat ekspresi Ify tapi ia bisa langsung di tending ke Mars jika melakukannya belum lagi jika Ify tau kalau Cakka sedang berbohong
Cakka masih kesal dengan Rio yang pelit bicara sepanjang pagi,Anak itu bangun pagi pagi sekali sambil membawa sapu lidi dan baru saja masuk kamar beberapa menit lalu untuk mandi.Tapi ia tidak bisa dimintai keterangan.Bak Polisi yang gagal membuat si tahanan mengaku Cakka jadi keki padahal dari tadi ia sudah mengintrogasi mati matian cowok itu.Dasar aneh.
“Udah deh mending aku balik aja”Ify membalik badannya dan melangkah ke luar dari asrama cowok.Cakka menutup pintu dengan perasaan geli, Ia tidak bisa berhenti terkikik memikirkan Ify naksir sahabatnya,Rio.Sama sama aneh.
‘tok..tok..tok’
Cakka menatap pintu kamarnya Geli.Ify mungkin kembali lagi dan mengetahui gelagat Cakka,Cakka membuka pintu sambil nyengir kuda tapi sesaat kemudian dia jadi tersenyum kikuk.
“Kenapa Lo?”
“Eh,yel..Gue kira Ify”Cakka tersenyum malu.Gabriel mengernyit bingung antara mengapa Ify kemari dan sebagian dirinya yang masih berdesir mendengar nama itu
“Emang Ify tadi kesini?”Tanya Gabriel penasaran
“Ia.. dan gue bohongin dia’Cakka terkikik geli
“Ify tadi nyari Rio eh aku bohongin aja kalo Rio lagi pergi,Dia nya langsung bête gitu tau”Cakka tertawa
‘Maksud Lo,Ify kesini buat nyari Rio aja?”Tanya Gabriel setengah kesal
“Bukan,Tepatnya sih Cuma buat Rio.Kebayang ga sih cewek kaya Ify naksir si Rio?Lucu banget ya mereka”Cakka masih terkikik tanpa memperhatikan raut wajah tidak suka Gabriel
“Menurut Rio naksir Ify juga?”Tanya Gabriel sewot
“Kayanya sih Iya.Bener ga yo?”Cakka tersenyum ke arah Rio yang berdiri di depan pintu kamar mandi
‘Ap..pa?”Kata Rio gugup.Gabriel menatapnya tajam
“Lo naksir Ify kan?”Tanya Cakka menggoda.Rio pura pura sibuk dengan rambutnya yang basah
“Gue pergi ya.”Gabriel langsung melesat keluar kamar itu.
Rio langsung melesat masuk ke kamarnya,Ternyata benar dugaannya selama ini.mereka memang naksir gadis yang sama.
***
Ify duduk pasrah di halam belakang sekolahnya,Ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar diantara rerumputan yang tubuh liar disana.Ify tidak habis pikir dengan Rio, anak itu seenaknya saja pergi tanpa kabar.Padahal kemarin ia membuat Ify nyaman di sampingnya.Ify menghela nafas panjang.
“Ify kamu sudah selesai?”Ify memasang wajah bingung
“Maaf Mr.Rafael, selesai apa?”Ify menggaruk tengkuknya
“Bukannya saya menyuruh kamu membersihkan halaman belakan sekolah ini ya?”Ify sukses melongo karena perkataan Mr.rafael
“Hah?”Ify memandang Mr.Rafael bingung
“Mana Mario?Dia tidak ikut membantu”Ify semakin bingung.Ia menghela nafas panjang
“Maaf,Sir saya dari tadi juga mencari Mario…”
“Jadi siapa yang membersihkan halaman ini?”Potong Mr.Rafael
“alyssa! Bukannya saya sudah bilang pada Mario agar kalian membersihkan halaman ini besok pagi”Gerutu Mr.Rafael “Jangan seenaknya lari dari tugas”Ancamnya
Ify terdiam mendengar penuturan Mr.Rafael.Dia sama sekali tidak tau, Rio pasti membersihkan halaman ini sendirian.sial! apa maksudnya.. Ify langsung mengambil langkah seribu kembali menuju kamar Rio.
“Alyssa saya belum—“
Ify mempercepat langkahnya menuju asrama cowok,Lalu mengetuk pintu kamar Rio dengan kasar.Rio membuka pintu kamarnya dengan kesal,Matanya mebelalak mendapati sosok yang paling tidak ingin di temuinya di depan kamarnya
“I—Fy ?”Rio tergagap.Ify masih terpaku di tempatnya
“Maaf aku sibuk”Rio akan menutup kembali pintu kamarnya namun di tahan Ify
“Kenapa tidak bilang padaku soal hukuman itu? Merasa bisa sendiri.Ha!”Bentak Ify.Rio memalingkan mukanya
“kenapa yo”Pekik Ify sekali lagi,Rio masih bergeming
“Memangnya kalo aku bilang sama kamu,kamu bisa bantu?”Ify menatap Rio lama.
“Nggak kan”Sambung Rio.Ify menatapnya tidak percaya detik berikutnya hanya terdengar bunyi pintu di banting Rio
“Percuma aku nyariin kamu,Percuma”Ify berteriak dari balik pintu.Rio masih bersandar di sana menahan perih hatinya “Jadi percuma selama ini, percuma kamu baik sama aku kemarin”Ify merasakan nafasnya naik turun saking emosinya
Sesaat kemudian,Suara langkah Ify perlahan samar samar.Dia pergi.Untuk pertama kalinya Rio merasakan sebagian dirinya melayang entah kemana.
***
Gabriel mengepalkan tangannya keras keras, Ia selalu merasa kalah dari orang itu.Ia kalah, selalu.Gabriel memandang benci pohon di depannya seolah itu bayangan Rio.Ayahnya,teman temannya,Ify.Apalagi yang kurang? Ia dapat semuanya! Gabriel meninju kasar pohon akasia besar di depannya sampai tangannya memar.Ia sudah tidak tau lagi,Anak itu membuatnya selalu terpuruk.
Sivia berjalan melintasi deretan pohon akasia,Kata Mr,Rafael Ify tadi kesini dan bertingkah aneh,Sivia jadi merinding.Sivia memegangi tengkuknya yang terasa dingin.Suasana hutan memang mendukung soal kejadian aneh aneh seperti setan dan yg lainnya.Sivia kini merasakan bulu kuduknya meremang,Ia berulang kali merafal doa dalam hati.
‘Buk..Buk”Sivia melemas menyadari ada suara yang tertangkap kupingnya.
“Tolong..”Lirih Sivia
‘Arghhhhh..’Buk’ “Sivia memeluk lututnya ketakutan.
“Ify..”Sivia memanggil nama Ify
“Buk..Buk”Suara itu lagi.Sivia menguatkan diri untuk menuju asal suara itu
“If—“ Suara Sivia tercekat mengetahui siapa orang itu.Sivia bahkan tidak bisa bernafas saking takutnya melihat tangannya
“i—el?”Suara Sivia akhirnya keluar.Gabriel maju perlahan mendekati Sivia
Detik berikutnya Sivia membatu,matanya terbuka lebar sementara udara yang bisa masuk ke paru parunya hanya sedikit,Itu semua karna Gabriel memeluknya erat erat sampai ia kehabisan nafas.Sivia tidak habis pikir.Sivia makin bingung ketika pundaknya menjadi basah.Gabriel apa dia?
“Gue selalu kalah”Bahu Gabriel naik turun”Pecundang” Sivia benar,Dia menangis
“Enggak.Kamu bukan pecundang”Sivia mengelus lembut punggung Gabriel.
Gabriel mengeratkan pelukannya,Untuk yang pertama kalinya ia merasa memiliki sandaran.
“Jangan pergi..aku sudah cukup kesepian”Sivia membalas pelukan Gabriel.Dalam.Hangat.
Sivia memejamkan mata merasakan degup jantung mereka yang beriringan,Sivia bisa menjadi dirinya sendiri dalam pelukan Gabriel,lain dari pada yang lain.Sivia tidak perlu berpura pura senang seperti saat bersama Alvin.Dia ‘mungkin’ bahagia
***
Sudah hari ketiga semenjak kejadian itu,Ify dan Rio masih belum bicara.Sahabat sahabat mereka juga tidak mengerti mengapa mereka jadi jauh begini.Ify berusaha mati matian menganggap Rio tidak ada,Ia bahkan pindah kelompok Biology bersama Chrsty yang terkenal pamer itu,Ify rela asal ia bisa menjauh dari Rio.Rio sendiri menahan rasa kesalnya melihat Ify pindah kelompok.Rio bahkan mengulang proyek biology itu sendiri.
Ify memandang langit yang agak muram di depannya,Ia benar benar merasa hampa hari ini.Aneh, harusnya hampa berarti kosong…tapi Ify malah merasa terlalu penuh.Sesak.Ify memandang pohon pohon yang tertiup angin, Ah..andai angin bisa membisikan perasaanya pada Rio.Argh! Lagi lagi dia yang lewat di fikiran Ify,apa Ify memang tidak bisa melupakannya?Ify bergegas menuju kamarnya mungkin ia hanya perlu sedikit istirahat untuk mengatasi kegilaan ini.Ify menarik selimutnya cepat cepat lalu memejamkan matanya.Untuk sesaat ia bebas dari masalah ini.
Rio memandang bintang bintang yang agak tertutup mendung,Tapi ada satu bintang yang paling terang.Sirius.Rio menadangi bintang itu lekat lekat,sama seperti dirinya Bintang itu kesepian karena bintang yang lainnya di kalahkan oleh mendung.Sesaat rasa pedih mengahmpiri hatinya,semua pergi dari hidupnya.Kakaknya,Ibunya,Gabriel dan sekarang Ify? Rio menghela nafas berat.
‘krek’Rio menangkap bunyi pintu menuju atap sekolah di buka, berarti ada orang lain yang masuk keatap sekolah ini selain dirinya.Rio mengawasi pintu dan detik berikutnya semuanya seperti membeku.
“ka—“ Ify mengatupkan mulutnya begitu mendapati sosok Rio juga ada disana.Ify masih membeku di tempatnya,Rio kembali menegadah langit
Ify tau ia tidak bisa kembali tidur lagi untuk bebas sejenak dari masalahnya, di tambah ia memang tidak bisa tidur lagi sehabis bangun tadi .Ify menghela nafas pendek dan berjalan menghampiri Rio.Baru saja ingin mengatakan Boleh duduk disini? Rio sudah menggeser duduknya.Ify tersenyum tipis
“Ngapain ke sini?”Tanya Rio datar
“Ga bisa tidur”Sahut Ify cuek.Rio tidak bicara lagi ia menatap lagi langit malam itu
“Bintangnya”Gumam Ify
“Apa?”
“Bintang yang paling terang itu”Ify menunjuk bintang yang di pandangi Rio
“Sirius”
“Sirius,Keren”Takjub Ify
“Apanya?Dia kesepian.Lihat”Rio mendengus kesal
“Nggak.Bintang yang lain itu disana”Ify menunjuk awan mendung
“nggak ada”Jawab Rio jutek
“Bintang memang tidak selalu nampak,Tapi selalu ada”Entah hanya perasaan Rio atau Bagaimana perlahan Mendung itu menipis,Gadis ini memang mataharinya.
Ify benar,Sirius tidak benar benar kesepian.Tapi Rio memang kesepian.
“Aku mau jadi Sirius”Ify tersenyum memandang langit
“Bintang paling terang, yang paling cepat mati”Jawab Rio datar
“Tapi mereka lebih terang… terlihat mereka akan selalu diingat.”
“Walaupun cepat mati?”
“Ya.setidaknya dia punya waktu dan dimaanfaatkan sebaik baiknya”Jawab Ify yakin
Beberapa menit berlalu dengan keheningan,Rio dan Ify sama sama memandang bintang itu penuh misteri
“Aku mau jadi Sirius kamu,Jadi yang paling terang buat kamu”Ify memandang Rio tidak Percaya.Dia bilang apa barusan?
Categories
Another Life,
Cerpen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar