Blogroll
Labels
- Another Life (16)
- Cerpen (14)
- Love your life (15)
- Red (7)
- Resensi (1)
- Sajak (7)
- taylor swift (9)
- Untuk Neptunus (1)
Blog Archive
-
▼
2012
(28)
-
▼
Desember
(17)
- Another Life l Sebelas
- Another Life l Sembilan
- Another Life l Delapan
- Another Life l Tujuh
- Another Life l Follow me (Six to seven)
- Another Life l Enam
- Another Life l Lima
- Another Life l Four to Five
- Another Life l Empat
- Another Life l Dua
- Another Life l Tiga
- Another Life
- Dalam hidup, pilihan hadir sesering nafas berhembu...
- IF I CAN I WANT DELETE THIS DAY
- Sebuah Misi
- Our Weird Our Pride!
- THISEMBER BE MINE after All This Pain.....
-
▼
Desember
(17)
Watched
Rabu, 12 Desember 2012
Another Life l Lima
“ Seperti matahari aku tidak tau kapan ia mulai terbit dari timur ,aku juga tidak tau kapan aku mulai berjanji menjaganya…hanya seperti mengikuti garis takdir,seperti terbenamnya matahari.Tapi aku tau janji ini akan seperti terbitnya matahari,tidak pernah terlambat.Tidak akan ku ingkari.’—
Tristan dapat mendengar suara berat khas perokok dari luar pintu di hadapannya,Ia sebelumnya tidak pernah setakut ini masuk ke rumah ini tapi sekarang semuanya berbeda.Beberapa hari ini semuanya menjadi berubah,Karna Ify.
“Hai..my BigBrother”Tristan mendelik mendengar ucapan kakaknya.
“Yah”jawabnya malas.
“Kau terlihat bersenang senang beberapa hari ini”Kakaknya tersenyum penuh arti.
“Aku tidak punya banyak waktu,cepat katakan apa maumu Riko”
“Tidak banyak dan tidak macam macam”jawab Riko,ia lalu menghisap rokoknya dalam dalam dan menghembuskannya di depan muka Tristan,Tristan hanya diam tidak bergeming.
“Apa maumu?”Ulang Tristan sekali lagi.
“Ini bukan mauku Tristan…kau yang mengajakku..Jadi aku ingin misi kita dipercepat”
“Ap-apaa?”Nafas Tristan tertahan di tenggorokan mendengar perkataan Riko.
“Apa masih kurang jelas?”Riko tersenyum miring “misi kita di percepat jadi malam ini,kita habisi malam ini”Tawa Riko menggelegar memenuhi ruangan itu yang lainnya hanya tersenyum licik hanya Tristan yang masi mematung dan menatap kosong ke depan,Tristan tidak mau hal ini terjadi!
“kenapa kau diam ha?”Tanya Riko saat melihat reaksi Tristan.
“Kau lupa untuk tugas ini,Tristan ingat keluarga kita! Ingat Ibumu sendiri!”Riko berteriak di kuping Tristan,sementara Tristan masih beku di tempatnya.
“Bawa dia kesini Tristan!hanya ini kesempatan kita”Sahut Riko datar lalu kembali bergabung bersama teman temannya.
Tristan menendang ban mobilnya keras keras saat sudah sampai di luar ruangan itu,Tristan tidak bisa melakukannya tapi Tristan harus,ini demi Ibunya..demi nama keluarganya.
***
Rio menghantamkan tangannya ke dinding perpustakaan mengakibatkan rak rak buku menjadi sedikit bergetar untung Mrs.Shilla sedang keluar sebentar,Buku buku jarinya serasa sakit.Tapi hati Rio jauh lebih sakit Tristan dan ify dua duanya benar benar membuat dia menjadi bingung,apa yang harus Rio lakukan? Tristan..orang itu jelas jelas berbahaya!ia secepatnya harus menjauh dari ify tapi masalahnya Rio sendiri tidak tau alasan yang jelas untuk melindungi gadis itu,Rio bukan orang yang penting bagi gadis itu,lagipula bagaimana caranya rio keluar dari tugas Mrs.Shilla ini.
Rio menjambak kesal rambut hitam coklatnya lalu memilih untuk segera menyelesaikan pengintaiannya selama ini,Rio harus tau ada apa dengan sepupunya itu.Harus.Rio berjalan menyusuri rak arsip perpustakaan tanganya bersentuhan dengan buku buku yang sampulnya sudah memudar warnanya sementara matanya begitu jeli membaca satu persatu judul buku yang dicarinya,langkah Rio terhenti ketika melihat sampul coklat usang,Buku yang beberapa hari lalu pernah dilihatnya.Rio dengan cepat menyambar buku itu dan melihat isi dalamnya.
Rio membolak balik halaman dengan cepat Ia tidak begitu perduli dengan isi lainnya di buku itu,Rio hanya mencari satu nama ‘Stevent haling’ tidak perlu waktu lebih lama Rio sudah dapat menemukan nama itu tapi Rio tetap masih tidak mengerti kenapa tidak ada satupun foto di sana dan tidak ada satupun pesan yang ditulis kakak Gabriel itu di buku alumninya.Apa yang terjadi?
Rio kembali membalik halaman buku itu,jantungnya berhenti ketika matanya menangkap foto seseorang yang ia kenal…orang itu!Astaga..keringat Rio meluncur deras dari pelipisnya Ia membaca satu per satu pesan yang orang itu tulis.
Tahun tahun terbaik aku bersekolah disini saat bersama stevent,Steve benar benar membuat hidupku berwarna aku dan wanita wanita lain disini pasti setuju ,Hal yang sangat ku ingat saat bersekolah disini yaitu saat sekolah kita memenangkan basket,anggar,lomba berenang dan..itu semua karna Steve…dengar Steve..aku tau kau tidak disini tapi aku mengingatmu,mengenangmu..sepanjang hidupku.
Rio menelan salivanya yang terasa kasar setelah membaca tulisan itu,wanita itu mengenal kakaknya dan sekarang wanita itu berada di dekat Rio.Rio melirik takut takut ke meja Mrs.Shilla tapi mejanya masih kosong lama sekali Mrs.Shilla keluar.Rio menggigit bibir bawahnya berharap keringatnya berhenti meluncur,Sekarang Rio tau alasan Alvin mungkin benar,Gabriel hanya iri padanya Ia dan Steve tepatnya.gabriel tidak begitu popular layaknya Rio dan kakaknya.Alvin benar..tapi darimana Alvin tau?Rio harus segera bertemu Alvin.
“Rio..sedang apa kau?” Rio menutup bukunya kasar ,Jantungnya berdegup kencang.
Rio membalik badanya pelan pelan dan mendapati sosok Mrs.Shilla berdiri di belakangnya.
‘Tidak apa apa Mrs”Jawab Rio,Mukanya sudah seputih kertas sekarang.
“Apa yang kau bawa?”Tanya Mrs.Shilla Ia mencondongkan tubuhnya melirik ke belakang tubuh Rio.
“Tidak apa-apa hanya sebuah buku”Jawab Rio.
“Berikan padaku”Rio merasakan tangannya bergetar saat mengangkat buku itu dan memberikannya pada Mrs.Shilla.
“Buku alumni,apa yang kau lakukan?”Tanya Mrs.Shilla nadanya terdengar panic.Rio memejamkan matanya sebentar sebelum menjawab lagi.
“Tidak Mrs hanya membersihkannya saja”Bohong Rio,Mrs.Shilla mengangguk kaku.
“Rio kurasa kau boleh beristirahat hari ini”Rio membelalakan matanya tidak percaya akan ucapan Mrs.Shilla.
“Emm..”Gumamnya “Baiklah”Kata Rio akhirnya,Ia harus bertemu Alvin sekarang.
Rio berjalan menjauhi Mrs.Shilla yang masi mematung di tempat tadi,Rio lalu membuka pintu perpustakaan dan berjalan keluar
***
Sivia bertepuk tangan paling keras saat Alvin memenangkan pertandingan Anggar saat latihan.Alvin lalu tersenyum simpul pada Sivia dan segera berganti baju.Tak lama kemudian,Alvin menghampiri Sivia yang masih tersenyum.
“Keren sekali”Puji Sivia,Alvin lalu tersenyum tipis.
“Biasa saja”Jawabnya merendah.”kau ada acara hari ini?’Sivia membelalakan matanya mendengar kata Alvin barusan,Apakah ia akan merencanakan sebuah kencan?
“emm tidak”jawab Sivia.
“Bagus,Ayo kita ke perpustakaan”Sivia membelalakan matanya untuk kedua kalinya,Alvin tidak bisa ditebak.
Alvin menarik tangan sivia menyusuri jalan menuju perpustakaan.Alvin mengenggam erat tangan Sivia untuk menetralisir detak jantungnya,Alvin tidak pernah merasa se canggung ini.Berbeda dengan Sivia genggaman Alvin malah membuat
jantungnya meloncat loncat dalam rongga dadanya,Sivia susah bernafas.
Alvin membuka pintu perpustakaan dengan takut takut lalu mendapati sosok yang ia cari sedang memasukan buku kedalam box kardus besar.
“Selamat siang Mrs.Shilla”Sapa Alvin dengan suara bergetar.
“Oh..Hai..Alvin Jonathan”Jawab Mrs.Shilla sambil tersenyum ke arah Alvin dan Sivia.
“Ada yang bisa saya bantu?Kalian berdua sedang mengerjakan tugas atau..”Mrs Shilla tersenyum penuh arti.Alvin reflex melepaskan tangannya dari Sivia yang membuat Sivia melotot,Ia kecewa.
“Tidak..tidakk”jawab Alvin gugup “Aku mencari buku Mrs”jawab Alvin.
“Baiklah,Buku apa?”Tanya Mrs.Shilla
“Buku..emmmm”Alvin berpikir keras,Sebenarnya Ia tidak sedang mencari buku.”Sivia kau mencari buku apa tadi?”Tanya Alvin,Sivia menyipitkan matanya menatap Alvin.”Kau mau cari buku apa?”Alvin menyeringai kaku.
“Shakesphere’Jawab Sivia asal.
“Ohh tunggu sebentar” Mrs.Shilla berjalan menuju sebuah rak buku diikuti Alvin yang terlihat bersemangat dan Sivia yang benar benar ingin berteriak.
“Ahh ada diatas”Gumam Mrs.Shilla,ia lalu menarik sebuah kursi dan menaikinya.
Mrs.Shilla menggapai gapai buku yang di cari Sivia dengan susah payah tiba tiba kursinya bergoyang goyang,Rupanya kursi kayu itu sudah terlalu tua dan rapuh Mrs.Shilla jadi terhuyung dan akan terjatuh.Alvin dengan Sigap menangkap tubuh Mrs.Shilla,Alvin menatap dalam mata Mrs.Shilla yang juga menatapnya jantungnya berdegup kencang.
Sivia menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya,Alvin begitu mesra memeluk tubuh Mrs.Shilla padahal
Sivia baru berbalik untuk melihat koleksi buku perpustakaan.Tapi malah pemandangan ini yang Alvin suguhkan saat Sivia menghadap Alvin lagi,Sivia membalik badanya dan berjalan secepat mungkin keluar dari perpustakaan.
Sivia menyeka air matanya kasar sambil terus berlari menuju kamarnya lalu mengetuk pintu kamarnya dengan tidak sabar,Tidak lama kemudian Agni muncul di depan pintu Ia baru saja akan menasehati Sivia panjang lebar tapi Sivia langsung memeluknya dan menangis dalam pelukan Agni.
“Siviaa..Sivia ada apa?”Tanya Agni kaget,Sivia masih terus terisak.
Agni mengajak Via duduk di sofa putih lalu mengelus pelan rambut Via,Sivia masih sesenggukan Ia merasa benar benar sakit melihat perlakuan Alvin.Agni menatap Sivia lembut lalu tersenyum ke arah Sivia.
“Apa yang terjadi padamu?’Tanya Agni.
“Alvin..dia tidak benar benar menyukaiku”Sivia memejamkan matanya mengakibatkan beberapa tetes air matanya jatuh lagi.
“kenapa kau berkata seperti itu?”Tanya Agni.
“tadi di perpustakaan ia dengan mesra memeluk Mrs.Shilla”Sivia menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis lagi.
“Laki laki’Jawab Agni,Ia lalu meremas jari jarinya karna merasa kesal.
‘Apa yang Cakka lakukan?’Tanya Sivia.
“Dia sengaja menggunakan ekskul memasak untuk bermesraan.Menjijikan”Gerutu Agni.
Sivia menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya,Ia menatap Agni yang masih terbakar amarah.
“kita harus berubah Via”Agni memandang lurus Tv di depannya.Sivia mengangguk walau tidak mengerti dengan maksud Agni.
“Ify mana?”Tanya Sivia.
“Dia sedang keluar bersama Tristan”
“Tristan? Sepupu Gabriel itu?”Tanya Sivia.
“kau tau dia?”Tanya Agni kembali.
“ya..kau tau dia anak yang nakal walaupun wajahnya bisa diperhitungkan..Tapi ia tidak seterkenal Gabriel karna
sikapnya”Sivia kembali menjadi dirinya yang tau tentang segala hal mengenai cowok-cowok-yang-bisa-di-perhitungkan.
“APA?!”Agni memekik mendengar penuturan Sivia,Ia langsung melotot panic.”Kenapa tidak pernah bilang?Ify dalam bahaya!”Sivia melotot juga mendengar perkataan Agni,ia juga baru menyadari apa yang ia katakan barusan dan Agni benar..Ify dalam bahaya!.
Agni dan Sivia sama sama bangkit dari tempat duduknya dan menuju pintu kamar mereka,Agni mengunci pintu dengan terburu buru sekali lalu berlari secepatnya mencari Rio,Gabriel atau siapa saja dari keempat laki laki itu.
***
Ify memasukan tangannya ke dalam kantong jaketnya lalu mengikuti Tristan yang terlihat ketakutan.Ify mengernyitkan dahinya padahal tadi Tristan bilang akan menunjukan sesuatu padanya.Tristan menoleh pada Ify yang terlihat kebingungan,ia menghela nafas berat .Ini terlalu rumit!
“Tristan?sebenarnya kemana tujuan kita?”Tanya Ify.Tristan hanya tersenyum kaku.
Mereka sudah sampai di depan pintu coklat yg kemarin didatangi Tristan.Tristan membasahi bibirnya sebentar lalu berdoa dalam hati agar tidak terjadi apa apa dengan ify walaupun Tristan tau tidak semudah itu.
Gabriel mendongakan kepalanya menatap punggung Ify dan Tristan yang masuk ke dalam markas Riko,Gabriel memukul pohon yang menjadi tempatnya bersembunyi sambil mengumpat tidak jelas.Gabriel tidak tau apa yang harus ia lakukan sudah jelas Gabriel tidak bisa berbuat apa apa ,Kecuali satu hal!Gabriel lalu berlari sekencangnya menuju mobilnya dan melesat kembali menuju sekolah,hanya ini caranya.
Ify memandang bingung kerumunan orang orang yang tidak di kenalnya,Ify merapatkan dirinya pada Tristan tapi orang orang itu semakin memandangnya aneh.Tristan merasakan keringatnya mengucur jelas,Orang orang disini bertambah banyak daripada kemarin.Ify dalam bahaya!dan ia sama sekali tidak bisa berbuat apa apa.
“Hai..selamat datang nona Ify”Riko menuruni anak tangga dengan senyum licik.
“Tristan..siaaapa dia?”Suara Ify bergetar,Tristan menarik nafas dadanya terasa sesak.
“Kerja bagus Tristan”Riko semakin mendekat ke arah Ify dan Tristan ,Ia bertepuk tangan singkat.Tristan memandangnya sinis.
“Tristan siapa dia?”Tanya Ify dengan suara hampir ingin menangis.”Apa yang terjadi disini?”Lirih Ify.
Riko meraih tangan ify lalu menggengam jarinya,Ia tersenyum penuh arti pada Ify.Ify hanya bisa menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya agar tidak bergetar,tangannya sudah sedingin es sekarang.
“Tristan..”Lirih Ify.
“hahahaha….”Tawa Riko menggelegar.”Untuk apa minta tolong padanya?Ia yang membawamu kesini bukan?…hahahaha”Tawa Riko,Ify menatap Tristan tidak percaya ia minta perlindungan pada Tristan tapi Tristan hanya membeku.
“Nona Alyssa”Panggil Riko,Ify merasakan dahinya berdenyut.Ia tidak suka dipanggil seperti itu.
“Lepaskan aku”Pekik Ify saat genggaman Riko berubah menjadi cengkraman.Tapi Ify hanya mendengar tawa Riko.
“lepaskan”Ify meronta ronta agar Riko melepaskan tangannya.Ify merasakan sekelebat bayangan hinggap di kepalanya.Ify memegangi dahinya sendiri karna kepalanya semakin berdenyut.
“hahahahaha..Nona Alyssa apa yang terjadi?”Suara Riko kembali terdengar di telinga Ify.Ify memegangi dahinya yang
terasa semakin sakit.Riko mengendorkan cengkramannya pada Ify Ia setengah mati ingin sangat puas sudah membuat Ify tersiksa.
“Cepat ikat dia”Seru Riko,Tristan meneguk salivanya yang terasa kasar.
Tristan mengangkat tubuh Ify lalu mendudukannya di sebuah kursi kayu Tristan mengikat tangan ify dengan ikatan yang sengaja di longgarkan,Tristan tau akan ada yang datang menyelamatkan Ify.
***
Agni sudah kehabisan nafas saat melihat Rio berjalan tergupuh gupuh ,Agni segera memakai sisa kekuatannya untuk menuju kearah Rio.
“Rio”pekik Agni,Sivia yang tadi mengekor Agni jauh tertinggal di belakang.
“Ada apa?”Tanya Rio santai.
“Ify..Ifyyy’Agni berteriak.Rio mebelalakan matanya,Ada yang tidak beres.
“Cepat!Ayo kita segera ke lantai atas”Rio mengambil langkah panjang panjang saat mendengar penjelasan Agni,Ia ingin segera mungkin bertemu Gabriel.
“Kalian cari Cakka dan Alvin”Perintah rio,Via yang kelelahan mengangguk lemah diikuti Agni yang langsung melesat.
Rio mengambil haluan menuju atap sekolah,Gabriel ada disana.Pasti!
Rio langsung dapat melihat sosok Gabriel disana sedang menikmati semilir angin dengan santai,Rio mengepalkan tangannya kuat kuat.Gabriel tersenyum dalam hati,perkiraanya tidak salah Rio pasti datang.Rio berjalan menuju Gabriel mencoba untuk menetralisir keinginannya menghabisi Gabriel,Ify lebih penting sekarang walaupun Rio tau ada campur tangan Gabriel di sana.
“Cepat katakan dimana Ify!”Bentak Rio,Gabriel mengulum senyum,matanya masih terpejam.
“Kau lihat kan aku tidak sedang bersamanya”Sahut Gabriel Ringan,Tangan Rio serasa akan melayang.
“Sial.”Gumam Rio,Gabriel menatap Rio penuh arti.
“Kau tau sendiri kemana harus mencarinya”Rio berjalan cepat ketika mendengar kata Gabriel barusan,Ia tau benar sekarang kemana harus mencari Ify.
Rio menuruni anak tangga dengan gesit Ia bertemu dengan Alvin dan Cakka juga Via dan Agni disana.Rio segera mengarahkan dagunya menunjuk parkiran di depan mereka.Alvin dan Cakka mengangguk mengerti.
Alvin segera melemparkan kunci mobilnya pada Cakka menyuruh Cakka untuk mengambil alih kemudi,Harus ada yang ia katakan pada Via.Rio menginjak gasnya keras keras sehingga mobil hitamnya tidak terlihat dalam sekejap.Cakka mengimbangi deru mobil Rio dengan cukup kewalahan,Agni sampai berkeringat dingin di sampingnya.Sivia memegang sabuk pengamannya erat erat mukanya sudah seputih awan sekarang,Alvin jadi Iba melihat Sivia ketakutan seperti itu.
“Sivia”panggil Alvin tapi Sivia masih tidak bergeming.Alvin menghela nafas berat,mungkin Sivia tidak ingin bicara apapun saat ini.Alvin menatap lurus lurus ke jalanan di depannya mobil Rio hanya terlihat lampu belakangnya sekarang.
Rio menutup kasar pintu mobilnya tak lama kemudian mobil Alvin datang disebelahnya,Rio menunggu Cakka dan Alvin keluar dari mobil.
“Aku tak meminta kalian ikut masuk”
“walaupun kau tidak meminta aku akan tetap masuk’Jawab Alvin,Sivia mengerjapkan matanya tidak percaya.
“Aku juga”Yakin cakka,Rio mengangguk.
“Aku juga”Sambar Agni dari belakang.Rio ,Alvin dan Cakka kompak menoleh ke arah Agni.
“Jangan”Sahut cakka lalu Agni menatapnya sengit .
“Dia itu temanku”Pekik Agni.Rio hanya menghela nafas.
“Baiklah”Jawab rio.
Alvin mendobrak pintu kayu di depannya kasar tak lama kemudian Alvin dan yang lain bisa melihat dengan jelas segerombolan laki laki berperawakan sangar,Sivia hanya bisa meneguk air liurnya melihat pemandangan ini.
Alvin lalu berlari kerarah gerombolan orang di sebelah kanannya Ia lalu di hadang dua laki laki sangar,Alvin melayangkan tinjunya tapi hanya menimbulkan gerakan ke belakang oleh lelaki itu,Sementara Alvin hanya bisa menghindar dahulu menunggu laki laki itu kehabisan tenaga.
Cakka mengarahkan tendangannya tepat di perut salah seorang laki laki besar itu mengakibatkan orang itu jatuh terduduk di lantai ,dua temannya datang Cakka menatap dua lawanya itu meremehkan lalu kembali melayangkan pukulan pukulannya pada lawanya,Semua masuk.
Alvin merasakan deru nafas lawannya sudah terengah engah,Alvin lalu mencari celah agar bisa memukul kepala lawannya,setelah mendapatkan kesempatan dan melayangkan pukulannya lawanya jatuh terkapar di lantai,Alvin menoleh ke kanan tapi tidak mendapati musuhnya satu lagi,ia malah mendapati jeritan Agni yang memerintahkan Sivia lari menyelamatkan diri.
Sivia menutup matanya erat erat kakinya terasa berat sekali tubuhnya gemetar hebat,Suara teriakan Agni dan jeritan Agni masih bisa di tangkap Sivia tapi Ia tidak mampu bergerak.Agni jadi kewalahan menghadapi lawannya karna salah satu preman itu mengincar Sivia,beberapa kali Ia terkena pukulan di wajah dan lengannya.
Cakka sudah bisa mengambil alih keadaan satu pukulan lagi Ia akan menang mengakibatkan lawanya jatuh terkapar,Ia melihat Rio juga sudah menangani dua lawannya dengan mudah.
“Rio cepat cari Ify”Pekik cakka.
Rio segera berlari memeriksa setiap ruangan yang ada disini,lalu mendengar jeritan Ify.Rio mempercepat langkahnya perasaanya mulai tidak enak.
Categories
Another Life,
Cerpen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar