Blogroll
Labels
- Another Life (16)
- Cerpen (14)
- Love your life (15)
- Red (7)
- Resensi (1)
- Sajak (7)
- taylor swift (9)
- Untuk Neptunus (1)
Blog Archive
-
▼
2012
(28)
-
▼
Desember
(17)
- Another Life l Sebelas
- Another Life l Sembilan
- Another Life l Delapan
- Another Life l Tujuh
- Another Life l Follow me (Six to seven)
- Another Life l Enam
- Another Life l Lima
- Another Life l Four to Five
- Another Life l Empat
- Another Life l Dua
- Another Life l Tiga
- Another Life
- Dalam hidup, pilihan hadir sesering nafas berhembu...
- IF I CAN I WANT DELETE THIS DAY
- Sebuah Misi
- Our Weird Our Pride!
- THISEMBER BE MINE after All This Pain.....
-
▼
Desember
(17)
Watched
Rabu, 12 Desember 2012
Another Life l Four to Five
Hujan,Matahari dan Pelangi.
Ini tentang sebuah harapan yangdatang bersama hujan yang menguap bersama matahari dan muncul sebagai pelangi,Tentang harapan yang hampir hanyut bersama hujan,Tenggelam bersama matahari dan Pudar bersama pelangi ,Tentang Mimpi yang hampir menjadi nyata,Tentang mengejar sebuah bayangan dan mengikuti arus takdir
Jika harus memilih..siapa yang harus aku pilih,mengikuti rinai hujan..hangat matahari atau indahnya pelangi,Ketiganya sama saja..walaupun berbeda aku hanya bisa melihatnya monotone,Abu Abu.
Hujan
Tristan tidak pernah menyangka kali ini perkataan Gabriel itu benar 100%.Ify tidak bisa disakiti,Sebenarnya bukan tidak bisa mungkin Ia yang tak tega.Gadis yang telah bersamannya beberapa hari ini membuat pikirannya tidak menentu kadang senang kadang khawatir.Ia tak tau kenapa Ify bisa bersikap sebaik itu padanya walaupun Tristan tau betul Ify kadang masih menunggu Rio,Tristan sendiri tidak tau kemana anak itu menghilang bahkan membiarkan Tristan leluasa mendekati Ify.
Tapi karna menghilangnya Rio,Tristan sendiri jadi tidak bisa menyakiti Ify,semakin sering bersama Ify semakin besar pula harapan Tristan pada gadis Rio itu.Sekarang Tristan menyesal mengambil tugas Gabriel ini.
“Seandainya bukan tangan ku yang harus melakukannya”batin Tristan
Tapi setelah menimang nimang jika tidak menerimanya pun ia tidak akan pernah bertemu Ify.Hujan mulai turun membasahi tanah yang kering,aroma hujan perlahan menusuk hidung Tristan.Ify bagaikan hujan dihati Tristan menyirami setiap celah kering yang dahulu menyakitkan untuknya.
Tristan menyembulkan kepalanya melihat ruang kelas biologi yang cukup ramai tak susah untuknya mendapati Ify duduk di tempat praktik mereka sambil menatap rintik hujan yang mengalir di balik kaca.
“Hai fy..”sapa tristan.
“Hai..sudah lama?”Sambut Ify.
“Tidak..baru saja ‘Jawab Tristan sambil tersenyum yang diikuti senyuman Ify.
“masih menunggu matahari fy?”Tanya Tristan.Tristan hafal benar kalau Ify setiap hari memandang langit dengan harapan matahari muncul.
“Em..bukannya ini musim hujan?”Tanya Ify lalu menggeleng pelan,Ia sedang tidak menunggu matahari.
Tristan merasakan hatinya baru di guyur hujan saat mendengar perkataan Ify,Bunga bunga itu jadi tumbuh semakin subur.Ify tidak lagi menunggu matahari pikir Tristan.
“Ify coba lihat kacang merah kita”Tristan menyodorkan wadah plastic pada ify.
“Banyak yang busuk”Gumam Ify.
“sepertinya terlalu lembab..sebaiknya kita jauhkan saja dari jendela”Usul Tristan,Ify hanya mengangguk.
Kacang merah mereka tidak mengalami perubahan pesat lagi karna terlalu banyak yang busuk.Ify dan Tristan jadi kesulitan mengamatinya,Sebenarnya Tristan berulang kali member usul pada Ify agar mengulang eksperimen kacang merah mereka,tapi Ify menolaknya karna tidak mau Rio jadi tidak mendapat kelompok dan bekerja sendirian
Ify sendiri beberapa hari ini masih menunggu matahari berharap matahari menyinarinya dan kacang merahnya,Atau Ify berharap Rio datang menyibak hujan dan mengerjakan tugas kacang merah itu bersama sama.Ify pernah berfikir kalau semua kacang merah itu akan tetap hidup,selama ada Rio..Mereka akan tetap tumbuh,seperti perasaan Ify.Selama ada Rio..
Tapi Rio tidak datang sesering hujan mengguyur,Rio seperti hanyut terbawa air hujan dan lupa jalan pulang.Rio seperti hilang menguap dan ify merindukannya .Hujan semakin deras menghantam bumi,bunga bunga pun merunduk karna hantaman hujan,lalu bagaimana dengan bunga waktu itu, meraka tidak akan mekar lagi? Atau mungkin mati.
Ify lalu mencatat perkembangan kacang merahnya dibantu Tristan,Ify sebenarnya sangat kagum pada sosok Tristan.karna selama Rio pergi Tristan lah yang menemaninya,membantu mengerjakan tugas bahasa atau mengerjakan laporan Biologi,Tristan seperti musim hujan..meneduhkan.
“fy..Fy..apa yang kau pikirkan?”Tanya Tristan sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan muka Ify.
“Apa..? emm tidak ada”Jawab ify.
Tristan menghela nafas berat,Ternyata ia salah besar mengira Ify telah melupakan Rio.Ify tidak pernah harusnya ia mengingat kata Debo kemarin.
‘kau tau sendiri bagaimana takdir memilih dan sebenarnya kita sama sama sudah membaca akhirnya’
Tapi Tristan bersikukuh,Ia hanya tau akhirnya tapi tidak dengan pertengahannya,Apapun bisa terjadi di pertengahan temasuk memiliki Ify.
Matahari
Tristan melirik jam tangan hitamnya lalu melihat Ify dengan tatapan minta maaf.Tristan harus pergi sekarang jadi dia tidak bisa menemani Ify menunggu hujan reda seperti hari hari sebelumnya.
“Ify..sepertinya aku tidak bisa menanti hujan reda bersamamu,Aku ada urusan”Sesal Tristan.
“Em..tidak apa apa,Aku bisa sendiri’Ify duduk di beranda depan kelas Biologi lalu tersenyum meyakinkan pada Tristan.
“baiklah,Besok kita bertemu lagi ya..”Tristan seperti ragu mengucapkan kata kata itu.
Ify tersenyum sebentar lalu detik berikutnya Tristan berlari menerobos hujan,Ify menatap punggung Tristan yang semakin menjauh.Ify mengadahkan tangannya menampung air hujan yang terasa dingin di kulitnya.
Entah sudah berapa lama ify menghabiskan waktu untuk menunggu hujan dan sekarang Ify merasa bosan,kemarin jika menunggu hujan biasanya Ify ditemani Tristan jadi ia mempunyai teman mengobrol,tapi sekarang ia hanya sendirian.Ify menggesek gesekan ujung sepatu converse hitamnya dan menatapnya kosong,lalu tiba tiba pulpen hitam menggelinding di sampingnya.
Rio akhirnya selesai dengan pekerjaan membersihkan perpustakaannya siang ini,beberapa hari ini Rio selalu disibukan dengan pekerjaan pekerjaan yang di berikan Mrs.shilla.Kemarin Rio sebenarnya ingin mengundurkan diri menjadi penjaga perpustakaan tapi Rio enggan melakukannya setelah ia menemukan buku alumni 18 tahun lalu,Rio masih ingin mengetahui semuanya jadi ia terus mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya tentang kakak sepupunya yang misterius itu.
Rio menyusuri koridor ruang kelas biologi,lama sekali ia tidak melihat kacang merahnya,Apa masih hidup atau sudah layu? Rio menghentikan langkahnya ketika mendapati Ify sedang duduk satu meter darinya di depan kelas sambil menunduk menatap sepatunya.Tubuh Rio melemas melihat gadis yang menghantui mimpinya belakangan ini ada di depannya,Ia sekarang dapat merasakan aroma shampoo Ify nyata memenuhi paru parunya.Gadis itu kembali membuka torehan nyata di hati Rio saat melihatnya kemarin bersama Tristan,Tanpa sadar pena di tangan
Rio meluncur menggelinding mendekat ke arah Ify.
Ify mengambil benda hitam itu lalu menorah ke arah kanan dan merasakan darahnya membeku saat menyadari sosok yang berdiri di depan matanya,Nyata dan Jelas tidak seperti mimpinya selama ini yang penuh dengan harapan,sosok yang ada di depannya benar benar dia.Ify tidak tau harus meluncurkan pertanyaan mana lebih dulu terlalu banyak pertanyaan yang ia rangkai untuk sosok di depannya ini,terlalu banyak.
Rio merasakan kakinya seperti di lem pada lantai putih yang di pijaknya,Rio tidak bisa bergerak lagi saat gadis itu menoleh ke arahnya Ia tidak bisa pergi dan tidak bisa mendekat.Rio tidak bisa kemana mana,Separuh hatinya ingin sekali pergi mengingat kejadian kemarin,separuhnya lagi berteriak teriak ingin mendekat pada gadis itu.
“maaf ini punyaku ,terjatuh barusan”Rio mengucapkan kata kata itu dengan kaku seperti pertama bertemu,Setelah ia memutuskan untuk mendekat ke arah Ify berharap Ify tidak memiliki hubungan lebih jauh dengan Tristan.
“oh iya..silahkan”Ify menyodorkan pulpen Rio dengan kecewa.Seperti baru bangun dari mimpi indahnya
“Bagaimana kacang merahnya?”Tanya Rio basa basi sambil mengambil tempat duduk di sebelah ify.
“ohh itu”Kata Ify ceria saat Rio duduk di sebelahnya “banyak yang busuk”Ucap Ify nanar
“Sinari dengan senter saja..Sekarang musim hujan jadi lembab”Jawab Rio.Ify hanya mengangguk semangat.
“Oh ya..kemarin aku melihat ada tiga orang nama di kelompok kita,siapa dia?”Tanya Rio pura pura.
“Ohh itu Tristan”Jawab ify.
“Pacar barumu ya?”Tanya Rio sinis,Rio merutuki dirinya sendiri telah bertanya seperti itu ditambah lagi hujan semakin reda mengakibatkan pertanyaan rio jelas sampai di telinga Ify.
“eh..memangnya kenapa?’Tanya Ify girang.
“Tidak..lupakan”Jawab rio datar,Ify menghela nafas berat.
“Aku melihatmu berdua kemarin bersamanya,Jadi ku pikir..”Jawab Rio.
“Ahh tidak tidak Tristan hanya temanku”Jawab Ify, Ify menatap langit yang menampilkan sedikit berkas berkas matahari di balik tirai hujan yang mulai menipis.Ify merasakan ada harapan yang mulai muncul seperti berkas sinar yang baru di lihatnya tadi,Ify tersenyum penuh arti.
“Tidak perlu kau jelaskan juga”Jawab rio datar.Ify langsung mematung mendengar perkataan rio.
“Jauhi dia”lanjut rio sinis,Ify menoleh ke arah Rio menatap mata coklat itu berani.
“Apa maksudmu?”Tanya Ify.
‘jauhi dia”Ulang Rio sekali lagi,kali ini ia balas menatap Ify menantang.
“Untuk apa? Kau tau Rio selama kau pergi hanya dia yang ada di dekatku”Jawab Ify tajam.Rio terdiam kaku mendengar kata kata Ify.
“terserah..liat saja nanti”Jawab Rio datar,Rio lalu mengalihkan pandangannya dari Ify dan segera berdiri.
Rio berdiri dan berjalan cepat menghilang dari koridor sekolah,Ify benar benar masuk perangkap Tristan,Ia sudah kecolongan beberapa hari saja,Tapi Rio berjanji tidak akan lebih lama lagi.
Pelangi
Gabriel ikut menatap punggung Rio bersama Ify,Ia mendengar semua perkataan Rio dan tau benar apa yang dipikirkan anak itu.Saat ini ia juga ingin menghajar Tristan bersama Rio sekarang.Gabriel masih bersembunyi di balik pintu ruang multimedia menatap Ify yang mulai terisak,Gabriel benar benar ada di posisi yang serba salah.Berada di depan langkah Tristan dan di belakang bayang bayang Rio.
Gabriel mendekatkan langkahnya menuju Ify dan menepuk punggung gadis itu pelan,Ify segera mengusap air matanya dengan tangannya kasar,tidak boleh ada yang tau ia menangis.Ify menoleh ke belakang mendapati Gabriel disana menatapnya Khawatir.
“Apa yang terjadi ?’Tanya Gabriel pura pura.Ify menggeleng lemah.
“Kenapa menangis?”Tanya Gabriel lagi tapi Ify hanya menggeleng kembali.Gabriel menghela nafas,Ify tidak akan menceritakan semua perkataan Rio.gabriel tau benar Ify sama seperti dirinya sama sama kehilangan harapan.
“Ify ayo ikut aku”Gabriel mengulurkan tanganya pada Ify.Ify menerimanya ragu, tapi mengikutinya saja berharap
Gabriel bisa menghibur dirinya sedikit.
Gabriel berlari kecil bersama Ify menerobos gerimis gerimis kecil yang masi berjatuhan ,Ia membawa Ify ke belakang sekolah dan mengajak Ify berdiri di bukit paling tinggi.Gabriel ingin memastikan sesuatu.
‘Untuk apa kita kemari?”Tanya Ify.
“Coba lihat disana”Gabriel menunjuk matahari yang masih malu malu.Ify mengangguk sambil tersenyum pahit.
“Disini gerimis”Gabriel mengadahkan tangannya memperlihatkan ify butiran air hujan membentuk titik titik kecil di tangannya.”Sebentar lagi mungkin muncul pelangi”Sambung Gabriel.
“Iyaa..sebentar lagi muncul pelangi”Jawab Ify.
Ify dan Gabriel sama sama terdiam menunggu munculnya pelangi,mereka sama sama sibuk dengan pikirannya masing masing,Ify juga masih memikirkan Rio..Ia masih ingat jelas bagaimana senangnya saat Rio bertanya sinis soal tristan tapi kemudian berkata sama sinisnya lagi kalau Ify tidak perlu menjelaskan secara detail hubungannya dengan Tristan.
“Ify lihat pelanginya sudah muncul”Pekik Gabriel girang,Gabriel tau pelangi ini akan muncul menjawab keraguannya akan harapannya.
Ify menatap pelangi itu sambil tersenyum,Balutan warna warna indah itu menyatu membentung lengkungan sempurna di langit itu,Bagai sebuah harapan sehabis hujan di tengah ketidak pastian menunggu datangnya matahari,Pelangi datang memberikan harapan kalau semua akan baik baik saja.Semuanya akan indah pada waktunya.
Gabriel tersenyum senang saat pelangi mulai muncul dengan latar langit biru,Pelangi harapannya.Gabriel menatap lekat lekat pelangi itu berharap selalu ada harapan untuknya,Berdiri di tengah derasnya hujan di sengat teriknya matahari tapi dengan semua itu Gabriel dapat melihat pelangi.Pelangi itu dirinya,harapan yang hampir pupus.
“Terimakasi Gabriel”Gumam ify,Gabriel menoleh dan tersenyum singkat.
“Masih ada harapan..seperti pelangi ini,Dia datang saat kau benar benar kehilangan harapan”Sambung Ify.Gabriel tersenyum pahit.
Apa masih ada harapan untuknya agar tetap bersama Ify?Apa masih bisa melindungi Ify dari Tristan?Gabriel tidak tau..kapan Hujan itu meluluhlantahkan semua ini,kapan hujan yang teduh itu balik menyerang menutup matahari bahkan mungkin membinasakan pelangi.Gabriel tidak tau dan Ify sama sekali tidak tau,ia hanya masih bermain dengan pikirannya sendiri.
Categories
Another Life,
Cerpen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar