"Ada satu yang ngga pernah bisa bohong, masa lalu"-Rio
Keesokan harinya Ify berjalan santai ke sekolah,
Sivia sudah duduk manis di bangku mereka dan sedang asik membaca novel. Ify
mendekat ke arah Sivia dan menepuk pundak gadis itu pelan.
“Eh elo Fy gue kirain siapa” Ujar Sivia, Ify tertawa
kecil lalu meletakan tasnya di sampin Sivia.
“Hari ini kita ngga ada PR kan?” Tanya Ify, Sivia menggeleng lalu kembali tenggelam di dalam novelnya.
Ify merasa di kacangin, ia memilih bergabung bersama
Patton dan beberapa teman temannya yang sedang bermain Truth Or Dare, Ify ikut
memutar pulpen Patton dan mengarah pada Irva.
“Truth Or
Dare?” Tanya Patton, Irva berpikir sejenak lalu berfikir.
“Dare aja deh, males banget bongkar aib gue sama
kalian”Kata Irva, Patton lalu mencari ide untuk mempermalukan Irva.
“Coba tembak Diva” Perintah Patton, Irva jadi
gelagapan sendiri.
“Eh.. kok harus Diva?” Tanya Irva takut.” Kenapa
ngga yang lain aja? Pacarnya Diva si Salsa kan galak tuh” Mohon Irva. Patton
menggeleng tegas tanda tidak ada kompensasi.
Irva mendekati Diva dengan takut takut sesekali Irva
melirik ke arah pintu takut pacar Diva muncul tiba tiba di kelas mereka, Irva
berdiri di sebelah Diva dengan kaku. Patton menahan tawanya sementara yang lain
mulai teratwa kecil melihat kegugupan Irva.
“Diva” Panggil Irva, Diva menoleh ke arah Irva
dengan bingung.
“Gue eh.. Gue mau” Ujar Irva grogi.
“Lo kenapa Va? Lo mau apa? “ Tanya Diva, Irva
mencengkram seragamnya erat erat.
“Gue suka sama lo, mau ngga jadi pacar gue?” Tanya
Irva cepat.
“Eh?” Ujar Diva terkejut, diujung sana Patton dan
kawan kawan mulai tergelak akibat ekspresi lucu
mereka berdua. “Maaf ya Diva,
gue kena ToD” Imbuh Irva cepat, Irva lalu kembali ke meja Patton dan langsung
memutar pulpen itu.
“Pokoknya lo semua tunggu aja pembalasan dari gue”
Ify hanya cekikikan mendengar kata kata Irva.
“Yuk cepet puter Va” Perintah Patton.
“Ya! Mampus lo fy!” Seru Irva
“Truth Or Dare?” Tanya Patton.
“Truth aja deh, males banget disuruh nembak orang”
Sahut Ify.
“Oke oke kasi gue aja yang nanya” Ujar Agni cepat.
Ify mengangguk lalu menunggu pertanyaan dari Agni.
“Dikelas ini siapa orang
ynag spesial buat lo?” tanya Agni.
“Sivia, kalian semua temen gue yang spesial” Jawab
Ify, Agni mendengus diikuti deruan anak anak yang lain.
“Yah kalo semua perasaan lo sama, apanya yang
spesial coba” Gerutu Zavana, Ify hanya tertawa ringan.
“Perasaan yang beda ya? Emmm” Ify mengetuk ngetukan
jarinya di dahi. “Siapa ya?” Pikir Ify.
“Eh.. apa lo punya perasaan spesial sama cowok
berandal itu? Soalnya kalo di liat liat lo care banget
sama dia, waktu tugas
sejarah aja lo mau kelompokan sama dia” Curiga Agni.
“Rio?” Tanya Ify memastikan, yang lain mengangguk.
“Ngga ada apa apa kok” Ujar Ify meyakinkan.
“Terus intinya ngga ada yang spesial nih buat lo di
kelas?” Ify mengangguk menjawab pertanyaan Debo.
“Tunggu aja, nanti gue bakal
jadi orang yang spesial buat lo” Canda Debo, Ify meninju pelan lengan cowok
itu.
Ify menatap Rio yang sedang mendengarkan lagu dari
headset di bangkunya, Ia menghela nafas pelan.
“Gue takut rasa penasaran gue ke
elo malah jadi bumerang buat gue, harusnya gue lari aja begitu ngeliat singa di
depan gue tapi kenapa gue malah tetap mendekat ke lo, Rio?” batin Ify.
Ify duduk di ruang tamu rumahnya dengan bosan, Ayah
dan Bunda berkali kali mengucapkan kata kata yang sama semenjak dua puluh menit
yang lalu. Ify yang capek sepulang sekolah jadi kesal sendiri, bagi Ify orang
tuanya terlalu parno.
“ Ify nanti kamu pulangnya naik taksi aja ya” Ujar
Bunda, Ify mengangguk mengerti.
“Terus kamu harus hati hati, kalau ada apa apa kamu
bisa telfon kita atau telfon polisi” Ify mengambil nafas panjang lalu
mengangguk.
“Kamu jangan sampai terlamabat makan, Bunda sudah
pesan Katering buat kamu” Lagi lagi Ify memaksa dirinya mengangguk.
“Kita ngga pergi lama kok Fy, cuma tiga hari aja
kok. Kamu harus bisa jaga diri” Ayah Ify memperingatkan.
“Iya Ayah” Sahut Ify malas.
“Apa Ayah suruh Tante Mila aja ya nginep disini?”
Pikir Ayah Ify, Ify langsung melotot mendengar kata kata Ayahnya. Yang benar
saja, tantenya yang cerewet itu? Bisa mati berdiri Ify.
“Ngga usah yah, Ify bisa kok! Lagian kasian Dimas di
tinggal mamanya” Ujar Ify mencari alasan.
“Inget pesan kami ya Fy” Untuk yang terakhir kalinya
Ify memaksa kepalanya mengangguk lalu ia memilih masuk ke kamarnya dan jatuh
tertidur di kasurnya.
Pagi pagi sekali Ayah dan Bunda bersiap siap menuju
ke bandara, Ify jadi harus ikut berangkat pagi pagi ke sekolah agar bisa
menumpang di mobil Ayahnya. Ketika sudah sampai di sekolah Ify segera pamit
kepada Ayah dan Bunda lalu berjalan ke kelas.
“Pagi pagi gini, mana ada orang di sekolah”Gumam
Ify.
Ketika melewati koridor yang sepi, Ify menangkap
suara beberapa orang yang sedang tertawa. Bulu kuduk Ify meremang sementara otaknya mulai berfikir yang tidak
tidak.
“Heh, cepet bagi ke gue obatnya!” Ify mendekatkan
teliganya dan memaksa kakinya berjalan mendekat.
Nafas ify tercekat ketika melihat segerombolan anak
laki laki sedang merokok dan bertukar bungkusan warna putih. Ify tidak tau
pasti itu apa, tapi melihat tingkah laku mereka Ify menduga itu adalah obat
terlarang. Kepala Ify limbung, bagaimana bisa ada anak di sekolahnya yang terlibat
barang haram seperti itu?
“Lo beli dimana nih Bos?” Tanya seorang anggota genk
itu.
“Di tempat biasa lah, kemarin si Roy nawarin tuh
obat sama gue” Yang lain menimpali sambil tertawa. Ify sudah pucat pasi di
tempatnya, dugaan Ify ternyata benar.
Ify hendak lari dari tempat itu, tapi tubuhnya
terasa berat sekali akibat rasa kaget luar biasa. Ify menyeret kakinya menjauh
tapi tiba tiba ia tersandung kakinya sendiri dan terjatuh.
“Aw..” Ringis Ify kesakitan, cowok cowok di depan
Ify langsung menyadari bahwa mereka kedatangan tamu.
“Eh siapa lo?” Ify mendongakan kepalanya dan
mendapati cowok cowok itu menatapnya.
“Gue..” Ujar Ify limbung.
“Berapa lama lo disana? Apa lo denger yang kita
bicarain?” Ify menggeleng dengan takut.
“Bodoh! Jangan bohong lo! Tampang lo ketakutan gitu,
mana mungkin lo ngga denger apa apa?!” Bentak seseorang, ia lalu mematikan
rokoknya dengac cara menginjaknya dan mendekat ke arah Ify.
“Bos mau apa?” Tanya sesorang.
“Gue mau ngasih pelajaran nih cewek lancang” Ify
memejamkan matanya ketakutan, cowok itu memaksa Ify berdiri dengan cara menarik
tangannya kasar.
“Bangun lo!” Paksa cowok itu sekali lagi, Ify
meringis merasakan tangannya yang sakit akibat perlakuan cowok itu. “Dasar
cewek sialan!” Cowok itu melayangkan tangannya dan mengenai pipi kanan Ify, Ify
merasakan pipinya perih luar biasa.
“Aww..” Ringis Ify kesakitan, Ify terduduk di lantai
merasakan pipinya yang panas akibat pukulan cowok itu. Ify merasakan dirinya
tidak mampu menahan tangis akibat rasa takut sekaligus rasa sakit yang dia
alami.
“Cengeng banget sih lo!” Bentak cowok itu, ia
kembali menarik tangan Ify agar cewek itu bangun.
“Denger ya, kalau sampai hal ini
kesebar lo bakal dapet yang lebih dari pada ini. Ngerti lo?” Ify tidak bisa
menjawab ia hanya terus terisak sehingga cowok itu menjadi geram.
Cowok itu kesal dengan perlakuan Ify, ia menarik
rambut Ify dengan kasar sehingga Ify menringis kesakitan lagi. Cowok itu
mengancam Ify untuk tidak bicara pada siapapun mengenai hal yang dilihat Ify
sambil menarik rambut Ify kuat.
“Lepasin! Ngapain lo mukul orang pagi pagi” Ify
merasakan cengkaraman di rambutnya mengendur, ia dapat menjauhkan dirinya dari
cowok itu.”Mukul cewek lagi, udah banci lo ya?” Cowok di samping Ify geram, ia
segera menghampiri tamu yang menggangu acaranya.
“Sialan lo!” Pekik cowok itu.
Ify tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya, ia
tidak berani melihat ke belakang tapi Ify dapat mendengar bunyi pukulan dan
hinaan dari kedua orang di belakangnya. Ify menahan nafasnya yang sesak, baru
kali ini ia mendapat perlakuan sekasar ini dan itu membuat Ify takut setengah
mati.
“Sialan lo Rio! Jangan ikut campur urusan gue lagi”
Rio menggeram lalu melayangkan tinjunya tepat di perut lawannya.
“Lo tuh yang sialan Esa, lo udah ngotorin sekolah
gue sama barang haram kaya gitu” Rio melemparkan tubuh Esa menjauh darinya, esa
sudah tidak bisa melawan kekuatan Rio lagi. “Lo semua, pergi dari sini! Bawa tuh
bos lo yang ngga berguna” Hardik Rio, tanpa menunggu lama anak buah Esa
langsung membantu bosnya berdiri dan pergi dari sana.
“Lo ngga apa apa? Kenapa ya lo selalu jadi
troublemaker?” Ify mendongakan kepalanya yang berat, pengelihatannya samar
samar karena air mata yang terus mengalir dari matanya tapi ia bisa tau dari
suara orang itu kalau dia adalah Rio.
“Cepet lo ikut gue, nanti malah di kira gue yang
ngapa ngapain lo” Rio membantu Ify berdiri dan membawa gadis itu ke tempat yang
cukup sepi.
Ify terduduk lemas sementara Rio berdiri cukup jauh
dari Ify, laki laki itu membiarkan gadis itu tenang terlebih dahulu karena
wajah gadis itu begitu pucat. Tapi Ify tidak bisa tenang, setiap kali ia
mencoba menenangkan dirinya kejadian tadi membuat Ify ketakutan kembali. Ify
tidak bisa tahan untuk tidak menangis.
Rio mendegar Ify terisak lagi, ia menghela nafas
panjang mencoba membuat dirinya sabar mendengar isakan Ify yang tanpa henti.
Rio membalik tubuhnya dan melihat bahu gadis itu yang bergetar, kepalanya ia
telungkupkan dalam lipatan tangannya.
“Kenapa lo masih nangis? Bukanya lo udah aman
sekarang?” Tanya Rio keki.
Ify tidak menjawab pertanyaan Rio, membuat laki laki
itu sedikit marah pada Ify karena menurutnya Ify seharusnya lebih kuat.
Bukannya dia sendiri yang mengakibatkan dirinya berurusan dengan Esa cs? Lalu kenapa
ia menangis tanpa henti sekarang?
“Ck! Lo itu ya, berhenti nangis kek gue pusing tau
denger lo nangis mulu! Lagian ngapain sih lo cari masalah sama mereka?”Bentak
Rio.
Rio menggaruk rambutnya frustasi karena Ify masih
belum berhenti menangis, bagaimana ia bisa membuat gadis di hadapannya berhenti
terisak? Tiba tiba Rio mengingat sesuatu, tapi ia tidak tau apakah ia bisa
melakukannya lagi karena sudah lama ia tidak melakukan ini.
“Bisa ngga lo berhenti nangis?” Rio mensejajarkan
tubuhnya dengan Ify. Ify berusaha menahan tangisnya ketika mendengar suara Rio
yang meninggi.
“Gue ta..kut” Lirih Ify, Rio menghela nafasnya
pelan.
“Gue jamin, Esa ngga berani nyentuh lo lagi. Lo bisa
pegang janji gue” Rio menyentuh pundak gadis itu
pelan sehingga Ify merasa
sedikit tenang.
“Makasih Rio” Ify mendongakan kepalanya menatap Rio,
Rio hanya mengangguk kaku.
“Rambut lo pasti sakit, tapi beberapa hari lagi
bakal hilang kok” Ujar Rio, Ify tidak tau harus menjawab apa jadi dia hanya
mengangguk.
“Gue balik ke kelas ya” Ujar Ify, Ify mencoba
berdiri tapi tiba tiba kakinya lemas dan ia terjatuh lagi.
“Ck!” Decak Rio. “Lo diem disini aja dulu, keadaan
lo ngga oke banget” Kata Rio, Ify mengangguk lemah.
“Lo boleh balik ke kelas kok, gue bisa sendiri” Ujar
Ify. Rio mengamati Ify sekilas lalu bangkit berdiri.
Ify terduduk sendirian di atap sekolah SMA Putera
Bangsa, tangannya panas akibat genggaman Esa yang begitu kuat. Ify ingin
menangis lagi, tapi Ify menahan air matanya agar tidak tumpah. Ify jadi
mengingat seseorang, dulu Ify pernah berkelahi dengan temannya dan orang itu
lah yang menolong Ify, ia bahkan rela di marahi Bunda demi menolong Ify.
“Kalo kakak disini, apa kakak bakal nolong Ify?”
Lirih Ify.
Ify menatap kaget ke arah tangga melihat Rio yang
berjalan mendekatinya. Rio berhenti di depan Ify dan menyodorkan sekantung es
batu di depan Ify, Ify menatap Rio tidak mengerti tapi Rio menggerakan es batu
itu di depan wajah Ify.
“Pipi lo biru, kompres pake ini aja biar ngga
terlalu bengkak” Ujar Rio datar.
“Elo?” tanya Ify tidak percaya. “Makasi ya Rio” Ujar
Ify tulus.
“Lo udah bilang itu tadi” Ujar Rio santai, Rio ikut duduk
di sebelah Ify tapi tetap menjaga jarak dari gadis itu.
“Lo ngga ke kelas?” Tanya Ify.
“Ngga, males gue belajar sejarah” Sahut Rio cuek.
Ify tidak bicara lagi, ia menekankan es batu itu ke
pipinya yang bengkak. Sebenarnya rasanya sakit sekali tapi Ify menggigit
lidahnya agar ia tidak meringis kesakitan di depan Rio.
Ify menatap Rio yang tengah memejamkan matanya,
mengingat kelakuan Esa tadi Ify jadi berfikir sesuatu, apa Rio juga melakukan
hal yang sama? Apa Rio juga memakai barang terlarang seperti itu.
“Rio?” Panggil Ify, Rio tidak menyahut ia tetap
bertahan di posisinya.
Ify berusaha mengabaikan Rio dan rasa penasaraanya,
ia kembali meletakan es batu itu di pipinya. Ify mengusap kepalanya yang terasa
sakit, tapi Ify yakin dalam beberapa waktu lagi rasa sakitnya akan hilang.
Untung Ayah dan Bunda tidak ada di rumah, kalau
tidak Ify bakal kesulitan mencari alasan agar orang tuanya tidak curiga. Ify
tidak bisa membayangkan apa yang akan Orang tuanya lakukan jika mengetahui
anaknya habis di pukuli oleh pecandu narkoba? Belum lagi sekolah Ify akan
tercoreng akibat siwanya terlibat narkoba.
Ketika Ify menoleh ke arah Rio ternyata cowok itu
sudah terbangun dari tidurnya, ia merebahkan dirinya sambil memandang lurus ke
atas melihat langit yang biru dan awan yang berarak di atasnya.
“Kalo dilihat awan sama langit kelihatanya menyatu
tapi ternyata mereka terpisah jauh banget ya” Gumam Rio membuat Ify menoleh ke
arahnya.
“Maksud lo?” tanya Ify tidak mengerti.
“Ya gitu, dimana mana yang namanya kenyataan itu
selalu pahit. Kadang mata juga bisa nipu kita, Cuma satu yang ngga pernah
bohong” Ujar Rio, Ify mengernyitkan dahinya bingung dengan sikap Rio yang tiba
tiba berubah drastis.
“Apa?” tanya Ify penasaran.
“Masa lalu” Jawab Rio datar. “Apa jadinya lo
sekarang, cuma karena pengaruh masa lalu kan? Lo hancur sekarang karena masa
lalu yang menghancurkan lo, lo kuat sekarang karena masa lalu yang bikin lo
tegar” Ify mengerjapkan matanya tidak percaya mendengar pernyataan Rio.
“Itu artiinya lo juga punya alasan kenapa lo jadi
kaya gini? Apa karena masa lalu lo?” Tanya Ify beruntun, Rio tidak menjawab Ia
hanya bangkit berdiri dan berniat meninggalkan Ify.
“Rio tunggu!” tahan Ify. Rio menghentikan langkahnya
menunggu kata kata Ify selanjutnya.
“Ada yang pengen gue tanyain sama lo” Ujar Ify, Rio
tidak bergemin di tempatnya. Ify menarik nafas dalam dalam mempersiapkan
dirinya menerima jawaban dari Rio.
“Esa sama temen temennya, lo tau mereka pake
narkoba?” tanya Ify takut takut.
“Iya” Jawab Rio singkat.
“Dari kapan?” Tanya Ify curiga.
“Udah lama banget, jauh sebelum lo tau” Ify
mendengus pasrah, ia takut tebakannya benar.
Ify merasakan lidahnya kelu untuk bertanya lebih
jauh, Rio sudah tau Esa memakai narkoba tetapi kenapa ia tidak melaporkannya
kepada orang lain? Kenapa Rio hanya diam saja? Apa Rio ternyata juga seorang
pemakai narkoba?
Rio hendak berjalan kembail ke arah tangga tapi
suara Ify tiba tiba membuat langkah kakinya membatu.
“Apa lo juga make narkoba?”
tanya Ify cukup keras, Ify menatap Rio dalam dalam menantikan jawaban yang
keluar dari cowok itu.
“Lo gila?” Ujar Rio datar, Rio membalik tubuhnya dan
membalas tatapan Ify. “Bukannya lo bilang supaya ngelakuin yang gue suka tanpa
hancurin apa yang gue punya?” Ify tidak bisa berkutik di tanya seperti Rio,
apalagi mata Rio mengunci matanya. “satu satunya yang gue punya cuma kehidupan
gue, walaupun kehidupan gue juga hancur, gue masih punya otak buat ngga nyoba
barang kaya gitu” Ify mendesah lega tanpa ia sadari.
“Kenapa lo ngga ngelaporin Esa?” Tanya Ify
penasaran.
“Gue takut nama sekolah gue tercemar, lagian selama
ini Esa ngga pernah main di sekolah tapi tadi benar benar ngga bisa gue
toleransi” Sahut Rio. “Lo mau nanya itu aja? Ngga penting banget sih” Gerutu
Rio, Ia segera berbalik dan melanjutkan langkahnya.
“Makasi Rio, gue tau lo orang yang baik” Teriak Ify,
Rio tersenyum kecil mendengar kata kata Ify.
“Makasi Ify, hari ini ngasi gue kesempatan untuk
berbuat baik” Ujar Rio pelan



0 komentar:
Posting Komentar