SATU
“Lakuin apa yang menurut lo harus lakuin tanpa harus menghancurkan apa yang lo punya” Ify
Ify melangkahkan kakinya ke dalam kelas XI IPS-1 dan mengalihkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, tahun ajaran kali ini Ify harus berpisah dengan teman sekelasnya sewatu kelas X karena pilihan jurusan tapi ada beberapa teman sekelasnya setahu Ify yang juga mengambil jurusan IPS.
“Ify, duduk sini!” Ify tersenyum simpul lalu melangkahkan kaki menuju suara yang tak asing baginya.
“Via! Dari tadi gue cariin juga” Ujar Ify, Ify meletakan tas nya di kursi lalu duduk di sebelah Via.
“Wah, kita sekelas lagi nih. Pasti seru!” Kata Via berapi api, Ify tersenyum lebar sambil menganggukan kepala.
Ketika bel sekolah berbunyi tanda pelajaran pertama akan di mulai Ify sibuk menyiapkan alat tulisnya sambil menunggu guru yang akan masuk, Sivia ikut ikutan mengeluarkan buku ekonominya dan bersiap siap untuk belajar.
“Selamat pagi anak anak” Semua orang di kelas mendongak mendengar suara lembut dari pintu.
“Pagi Bu” Balas mereka.
“Kalian sudah tau nama saya, bukan?” Sebagian anak anak mengangguk tapi ada juga yang menggeleng.
“Baiklah, nama saya Ibu Mei Adrian kalian silahkan memanggil saya Ibu Mei” Ujar Bu Mei ramah. “Saya rasa untuk mempersingkat waktu sebaiknya kita memulai materi ekonomi hari ini”Ibu Mei mulai menuliskan Sub Bab materi yang akan di pelajari lalu memberikan beberapa catatan.
Sesekali Ify merasa bosan mendengarkan ocehan gurunya yang satu itu tapi tetap ia tahan rasa bosannya, Ia tidak mau menyia nyiakan kesempatannya untuk bersekolah karena ia bercita cita menjadi Psikiater yang sukses kelak, itu lah alasan utama Ify memilih jurusan IPS.
Ify mengamati teman sekelasnya yang tidak berbeda jauh dengannya, ada yang mencuri curi kesempatan bermain Handphone ada pula yang sudah tertidur lelap di bangkunya. Ify tersenyum simpul melihat tingkah lucu teman teman sekelasnya yang baru. Tiba tiba Ify melihat satu bangku kosong di ujung ruangan, tapi tidak di ambil pusing olehnya.
“Patton, coba kamu jawab pertanyaan di buku nomer dua!” Ify terkejut, lalu kembali menatap ke depan seolah ia sedang memperhatikan.
“Eh Bu..itu.. Saya” Murid yang bernama Patton tergagap.
“Kamu tidur di kelas saya ya?” Tanya Bu Mei jengkel, Patton menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Eh Bu.. kemarin saya begadang bu” Elak Patton, Bu Mei menghela nafas berat.
“Sekarang cepat ke kemar mandi dan cuci muka” Perintah Bu Mei, Patton segera berdiri dan bangkit menuju ke lur kelas.
“Awas ya ada yang berani tidur lagi di kelas saya, saya suruh keluar detik itu juga!” Ancam Bu Mei.
Suara ketukan pintu di luar kelas membuat semua murid menoleh ke arah pintu, seorang cowok dengan santainya berjalan masuk ke kelas dengan tas yang masih tersampir di pundak padahal jam masuk sudah lewat dua puluh menit yang lalu.
“Permisi Bu” Ujarnya santai.
“Kamu murid di kelas ini?” Tanya Bu Mei, cowok itu balas mengangguk ringan. “Kenapa kamu baru dateng?” Tanya Bu Mei menyelidik.
“Ya karena saya telat, Bu” Jawab cowok itu.
“Kamu tau kan peraturan sekolah kita, kalau ada siswa yang—“
“Terlambat masuk ke sekolah harus mendapat konsekuensinya kan?” Ibu Mei menatap cowok itu dengan geram.
“Saya sudah di hukum kok Bu, tanya aja sama Pak Hendra”Jawab cowok itu.
Ify menatap adegan di depannya dengan penasaran, di dalam pikirannya kenapa ya ada anak yang bisa dengan santai menghadapi masalah seperti ini, padahal kalau Ify yang terlambat dia akan ketakutan sekali berhadapan dengan guru dan kena hukuman yang ribet itu. Mending pulang lagi deh.
“Sst..Fy” Panggil Sivia.
“Kenapa?”Bisik Ify.
“Lo tau cowok itu kan?”Tanya Via berbisik, Ify menggeleng tidak tau.
“Dia Mario Pratama” Bisik Sivia, Ify menatap Via sambil mengangguk.
“Oh jadi dia yang namanya Rio itu? Yang katanya nakal itu?” Tanya Ify.
Sivia meletakan jari telunjuknya di mulut lalu menatap Ify galak. “Gila lo ! kecilin dikit kek kalo ngomong” Hardik Sivia, Ify meletakan tangannya di depan dada dan memasang wajah bersalah.
“Besok kamu jangan terlambat lagi ke kelas saya, sekarang kamu duduk!” Perintah Bu Mei tegas, Rio menuruti pertintah Bu Mei dan melangkahkan kakinya ke kursi Patton.
“Eh?” Celetuk Ify, Rio melihat Ify sekilas dengan pandangan acuh lalu tetap duduk di kursi Patton.
“Gue duduk di sini ya?” Tanya Rio dingin pada Sena, teman sebangku Patton.
“Iy..Iyaa”Jawab Sena kikuk, Ify masih menatap Rio ganjil tetapi Rio bersikap seolah tidak ada apa apa.
Diam diam Ify penasaran juga dengan sosok Rio, selama Ini Ify hanya mendengar berita kenakalan Rio dari teman teman sekelasnya dulu. Katanya Rio suka berantem lah, bolos lah, dan masih banyak lagi hal hal ekstreme yang dilakukan Rio, dan ia bertanya tanya apa alasan Rio melakukan itu?
“Liat kan Fy, dia tuh egois banget. Anarkis deh”Omel Sivia pelan, Ify hanya tersenyum simpul.
“Udah deh, mungkin dia lagi bad mood hari ini” Ujar Ify.
Bel tanda istirahat membuat wajah wajah kusut di kelas Ify kembali bersinar, Sivia segera bangkit berdiri dan mengajak Ify ke kantin untuk makan bakso kesukaannya. Ify menuruti permintaan Sivia, ia mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan beranjak menuju ke pintu.
“Rio… apa lo mau tetep duduk di tempat gue?”Tanya Patton takut.
“Kenapa?” Balas Rio dingin.
“Ngga sih, gue nanya aja” Rio menatap Patton angkuh.
“Kalo gue mau tetep disini, kenapa?” Tanya Rio sengit.
“Ngga apa apa sih Rio, beneran deh” Patton nyengir kaku lalu segera berlalu dari hadapan Rio.
Ify terpaku di tempatnya berdiri karena adegan tadi, kenapa Rio bisa begitu emosi menanggapi pertanyaan Patton yang biasa saja? Ify menatap Patton yang keluar dari kelas sementara Rio yang bertahan dengan tatapan dinginnya.
“Permisi, lo bisa ngga jangan berdiri di tengah jalan gini?” Ify tersentak lalu mundur beberapa langkah.
“Maaf” Ujar Ify, tapi orang yang Ify ajak bicara tetap berjalan dengan santai.
“Ify? Lo kenapa? Diapain sama si rio itu?” Tanya Sivia kaget menemukan Ify mematung.
“Eh ngga kok, kita jadi ke kantin kan?” Ify segera menggandeng tangan Sivia agar temannya itu tidak bertanya tanya lagi.
***
Kelas XI IPS 1 sedang khusuk memperhatikan penjelasan Pak Karman tentang pelajaran statistika dasar, memang sih kelas IPS tidak dapat pelajaran IPA tapi untuk matematika mereka di ajarkan dasar dasarnya saja. Ketika Pak Karman memberikan beberapa soal latihan, Ify menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena kebingungan sendiri dengan soal yang Pak Karman berikan tak beda dengan Sivia yang sudah mengambil ancang ancang untuk melirik pekerjaan Nova.
“Permisi Pak” Semua mata tertuju ke arah meja guru, tepatnya pada Pak Karman dan Rio.
“Kayanya mau izin deh tuh orang”Tebak Via asal.
“Iya ada apa?”Tanya Pak Karman, Rio menyodorkan bukunya di meja Pak Karman.
“Ini pekerjaan saya pak” Kata Rio enteng, Ify menatap Rio tidak percaya.
“Coba saya lihat” Ujar Pak Karman.
Pak Karman memeriksa jawaban Rio satu persatu kemudian tersenyum lebar “Kamu hebat, sekali saya terangkan langsung mengerti” Puji Pak Karman, Rio tidak menganggapi, ia hanya mengambil bukunya yang sudah di nilai dan kembali ke tempat duduk.
“Keren”Desis Ify tak kentara.
Ify menatap Rio dalam, sejujurnya Rio membuat Ify benar benar penasaran karena sikap dinginnya, karena angkuhnya apalagi tatapan matanya yang tidak terbaca itu. Rio yang brandal ternyata jago matematika? Kalau begitu untuk apa dia ada di kelas IPS ini? Ify memaksa otaknya berfikir keras sambil mengamati Rio lekat lekat, tiba tiba cowok itu menoleh dan menatap Ify tajam. Ify segera memalingkan wajahnya menghindari tatapan maut Rio.
“Via” Bisik Ify.
“Kenapa?” Sahut Via. Ify mencondongkan tubuhnya ke arah Via.
“Menurut lo, Rio itu orangnya kaya gimana?” Tanya Ify. Sivia menatap Ify heran.
“Ngapain lo nanyain dia? Naksir ya?”Selidik Sivia, Ify menggeleng cepat. “Dia emang cakep sih Fy, tapi lo tau kan dia
trouble maker makanya dia ngga punya temen. Udah gitu galak lagi” Ify menghela nafas mendengar komentar Sivia.
“Iya sih Via, tapi masa sih dia ngga punya sisi baik. Setiap orang pasti punya kan Via” Bela Ify, Sivia berdecak kesal.
“Lo itu jadi orang jangan terlalu baik deh Fy, awas ya sampe lo kenapa napa gara gara terlalu kepo sama Rio! Mending jangan buat urusan sama dia deh Fy” Saran Sivia.
“Via kok lo ngomong gitu sih? Kita kan belum terlalu kenal dia jadi jangan nge judge dia seenaknya dong” Keukeuh Ify. Sivia mengibaskan tangannya di depan wajah Ify, ia tak habis pikir jmengenai Ify bisa bisanya temannya itu positive thinking pada cowok macam Rio.
Bel pulang sekolah bergema memenuhi SMA Putera Bangsa, Rio memasukan bukunya dengan asal sementara di seberang sana Ify mengawasi gelagat Rio, Sivia mengikuti arah pandang Ify dan berdecak kesal.
“Via.. tungguin bentar yah di luar” Pinta Ify, Sivia balas menatap Ify kesal tapi menuruti juga.
Suasana kelas sudah cukup lenggang akibat anak anak XI IPS 1 buru buru pulang ke rumah, hanya tersisa beberapa orang saja yang piket serta Rio yang malas pulang desak desakan dan Ify yang menunggui Rio. Ketika Rio hendak keluar kelas, Ify memotong jalan Rio dan berdiri di hadapan Rio.
“Hai gue Ify” Sapa Ify ramah. Rio menaikan alisnya sambil tersenyum miring.
“Bukannya lo udah tau gue?” Tanya Rio acuh, “Bukannya lo tadi pagi udah tau kalo nama gue Rio? Anak yang nakal itu kan?” Ify menelan ludah mendengar kata kata Rio, sementara Rio menatap Ify sinis.
“Gue—“ Ujar Ify gugup.
“Buat gue ngga masalah kalo lo buang buang ngomong sama gue, tapi jangan buang buang waktu gue” Rio berjalan melewati Ify tanpa peduli perasaan gadis itu.
Ify berjalan gontai keluar dari kelas dan menghampiri Sivia, Sivia sudah siap menasehati Ify lagi tapi gadis itu segera menepuk pundak Sivia dan menggeleng. Sivia menghela nafas berat, Ify memang keras kepala dan keukuh pada pendiriannya.
***
Ify menunggu mobil jemputannya di gerbang depan sekolah sementara Sivia sudah lebih dulu pulang bersama kakaknya, Kak Calvin Nugraha atau biasa di panggil Kak Alvin salah satu cowok paling eksis di SMA Putera Bangsa, alhasil Svia jadi kecipratan eksisnya. Yah ngga heras sih soalnya Sivia tampangnya ngga kalah jauh sama Kak Alvin.
Ify melirik jam tangannya, sudah tiga puluh menit Ayahnya terlambat menjemput Ify. Ify memandangi bus yang lewat di depannya, sebenarnya Ify ingin sekali pulang sendiri sehingga ia bisa bebas mampir ke toko komik langganannya atau jalan jalan bersama teman temannya terlebih dahulu tapi Ify tau Ayah dan Bunda pasti akan mengomeli Ify sampai di rumah.
“Ify?” Ify tersentak dari lamunannya, di lihatnya sosok ayah yang sudah ada di depannya. “Yuk, kita pulang” Ajak Ayahnya, Ify mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
“Gimana sekolahnya?”Tanya Ayah membuka pembicaraan.
“Asik kok Yah, temen sekelas Ify baik semua” Ify tersenyum tipis, ia tidak sepenuhnya berbohong karena semua anak di kelas XI IPS 1 baik pada Ify, kecuali Rio tentu saja.
“Wah, asik dong anak Ayah temennya baik semua”Ify mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke jalan raya. “Ify belajar yang rajin ya, kejar cita cita Ify jangan jadi kaya Kak Sion” Ify terpaku mendengar nasehat ayahnya.
“Ayah..”Lirih Ify, Ify menatap ayahnya terluka. “Sampe kapan Ayah ngga bisa maafin Kak Sion?” Tanya Ify pedih.
“Sampai dia bisa berubah, sampai dia mau menuruti nasehat Ayah” Ujar Ayah Ify tegas.
“Berarti itu ngga akan pernah terjadi” Batin Ify berat.
Ify tidak bicara lagi, ia memilih bungkam dan menatap jalanan Kota Jakarta yang padat. Di depannya mobil mobil saling mengklakson satu sama lain di tambah lagi udara yang sudah terkena polusi membuat Ify semakin badmood.
“Ini kenapa macet sih”Gerutu Ayah Ify, Ify tidak menanggapi.
“Kayanya ada ribut ribut deh di depan” Ujar Ify memicingkan mata.
“Memang ya, anak muda jaman sekarang itu kerjanya buat rusuh terus. Ngga pernah mikirin masa depan” Ujar Ayah Ify serius. Ayah Ify menurunkan kaca mobil dan memanggil tukang Koran di pinggir jalan.
“Mas saya beli koran Jakarta ya” Ujar Ayah Ify.
“Ini Pak, sepuluh ribu ya” Ujar Penjual koran itu. Ayah Ify mengangsurkan sejumlah uang kepada penjual koran itu.
“Ini ada apa sih Mas? Kok bisa macet gini?” Tanya Ayah Ify.
“Ada tawuran di depan, Pak” Ayah Ify berdecak kesal lalu membuka korannya dan mulai membaca.
Ify sedang mengamati keadaan di luar, tiba tiba beberapa warga berbondong bondong berjalan melewati sisi mobilnya sambil menggotong seseorang yang taka sing bagi Ify. Ify menahan nafas ketika melihat wajah Rio yang babak belur dari kaca jendela mobilnya, ia ingin sekali keluar tapi Ayahnya pasti tidak mengizinkan Ify pergi.
“Rio, apa yang terjadi?” Batin Ify khawatir.
Ify duduk di meja makan bersama Ayah dan Bunda mereka sedang menikmati nasi goreng buatan Bunda. Tiba tiba Ify memikirkan sosok kakaknya, apa kak Sion sudah makan? Apa Kak sion makan sendirian? Ify merasa dadanya sesak, dulu ia begitu bahagia punya seorang kakak laki laki yang berani tapi Ify salah, keberanian kakaknya lah yang menghancurkan semuanya.
“Ify kok ngelamun?”Tegur Bunda. Ify hanya menggeleng dan kembali memakan nasi gorengnya.
“Yuk Fy cepet habisin, nanti kita kesiangan lagi” Tutur Ayahnya, Ify mengangguk dan mamsukan satu suapan besar nasi goreng ke dalam mulutnya.
Ify pamit kepada Ayahnya dan segera turun dari mobil, ketika hendak menuju kelas Ify bertemu Kak Alvin sedang menuju ke kelasnya juga. Ify tersenyum manis pada kak Alvin dan di balas dengan senyuman maut yang di pakai Kak
Alvin memikat cewek cewek SMA Putera Bangsa.
“Mau kemana Fy?” Tanya Kak Alvin.
“Mau ke kelas kak, Sivia mana?” Tanya Ify sambil memperhatikan sekeliling.
“Dia bangun ke siangan tuh jadi gue tinggal. Kok lo datengnya pagian Fy?”Tanya Alvin.
“Ohh gitu Kak, mudahan tuh anak ngga telat deh. Iya kak, Ayah ada rapat di kantor” Jawab Ify.
“Kalo gitu gue duluan ya Fy, gue mau olahraga nih sama Pak Karim”Pamit Alvin, Ify mengangguk lalu kembali menuju ke kelasnya.
Kelas Ify masih sepi, sepertinya ia lah orang pertama yang datang pagi ini. Ify memilih mengeluarkan novel yang di bawanya kemudian tenggelam di dalam bab bab novel itu. Ify memang suka membaca novel lantaran novel merupakan pelarian yang paling baik untuknya jika sedang malas dengan dunianya sendiri, ia bisa mengintip dunia orang lain melalui tulisan novel.
Ify terkejut ketika seseorang berjalan ke dalam kelas dengan penampilan acak acakka, ketika Ify memfokuskan pandangannya ternyata orang itu ada Mario Pratama, teman sekelasnya yang dingin luar biasa. Ify tertegun ketika mengamati wajah Rio, bukan karena terpesona akan parasnya tapi ia tertegun karena mengingat kejadian kemarin di jalan.
“Rio?” Panggil Ify.
Tidak ada sahutan ataupun respon lainnya dari Rio, laki laki itu hanya memijat keningnya tanpa mempedulikan panggilan Ify, Ify menghela nafaslalu menghampiri Rio karena rasa penasarannya.
“Rio, lo ngga apa apa?” Tanya Ify lembut. Ify meletakan tangannya di pundak Rio namun langsung di tepis Rio dengan kasar.
“Kenapa sih lo gangguin gue?” Rio menatap Ify kesal.
Ify tidak mempedulikan tatapan kesal Rio, “Kenapa muka lo?”Tanya Ify, Rio segera memalingkan mukanya.
“Bukan urusan lo” Sahutnya ketus.
“Tapi lo luka Rio, apa kemarin lo kena pukul pas tawuran?” Tanya Ify hati hati.
“Darimana lo tau gue tawuran?!”Tanya Rio dengan nada tinggi, Ify sedikit takut tapi ia berusaha membuka mulutnya
untuk menjawab pertanyaan Rio.
“Gue, liat lo kemarin di gotong warga” Rio menatap Ify galak. “Gue ngga sengaja kok lewat sana” Imbuh Ify.
“Sekarang lo udah tau kan siapa gue? Gue cuma anak berandal yang ngga berguna” Rio menatap Ify angkuh.
“Belum, kalo gue Cuma kenal lo sebagai anak berandal itu artinya gue belum kenal lo secara baik Rio dan seharusnya gue ngga boleh menjudge lo sebagai anak berandal gitu aja” Ujar Ify, Rio menatap Ify seolah meremehkan gadis di depannya. “Kalo gue tau alasan lo jadi berandal, gue rasa itu baru namanya gue kenal lo Rio” Rio tertegun mendengar kata kata Ify.
“Mau lo apa sih?” Tanya Rio geram.
“Cuma mau ngasih ini” Ify mengeluarkan plester di kantongnya dan memberikannya pada Rio. “Lakuin apa yang menurut lo harus lakuin tanpa harus menghancurkan apa yang lo punya” Ify berlalu dari hadapan Rio dan tersenyum simpul.
“Gimana kalo semua yang gue punya sudah hancur? Apa yang harus gue lakuin?” Ujar Rio pelan tanpa bisa di dengar Ify.



1 komentar:
Slot machine games - DrmCAD
The jackpot 양산 출장안마 amount depends on the number of numbers 남양주 출장마사지 to get from each slot machine, with 남원 출장샵 a win 삼척 출장샵 percentage of 94.95%. When 계룡 출장샵 using a standard
Posting Komentar