Kamis, 27 Maret 2014

Stay (empat)

Diposting oleh Ossi Widiari di 18.11


 Ify tau, Rio akan membawanya menemui hal hal baru lebih cepat

Sivia mengamati lekat lekat wajah Ify yang sebam gadis ini tak habis pikir apa yang habis dilakukan Ify, Sivia sudah curiga pada Rio karena laki laki itu juga ikut bolos bersama Ify. Berulang kali Sivia menatap Rio yang duduk kaku di bangkunya dengan sinis.

“Via, gue ngga apa apa kok” Ujar Ify mencoba meyakinkan temannya itu.
Sivia menggeleng, ia menunjuk warna biru di pipi Ify dengan sengit. Baginya lebam di wajah Ify tidak bisa berkata semua baik baik saja tapi kenala Ify tidak jujur saja dengan dirinya.
“Gue ngga percaya, sebelum lo bilang sama gue lo kenapa!” Seru Sivia, Ify mendesah pelan dan menggeleng.
“Bukannya gue ngga mau Via, tapi kali ini gue bener bener ngga bisa. Tapi lo jangan khawatir lagi ya” Bujuk Ify.
“Apa karena cowok itu?” Sivia melirik Rio sekilas.
“Bukan Via, bukan soal dia” Bela Ify, Sivia memicingkan matanya.”Beneran deh!” Ujar  Ify meyakinkan.
“Tapi kenapa muka lo lebam gini Fy” Desak Sivia.
“Gue ngga bisa cerita sama lo Via, tapi beneran deh ini bukan karena Rio” Ify meletakan tangannya di depan dada, Sivia mendesah berat.
“Terserah lo deh Fy, tapi jangan sampe Rio keterlaluan sama lo” Ify mengangguk mendengar kata kata Sivia.
“Makasih ya Via” Ujar Ify tulus. Sivia menghadap lurus lurus ke papan tulis, dalam hati ia tau luka di wajah Ify bukannya tidak berarti apa apa, tapi apapun itu Rio pasti ikut terlibat di dalamnya.
Sivia mengamati orang orang yang tengah bermain basket di lapangan, ia sedang menunggu kakaknya Alvin yang kelasnya terletak di lantai dua. Tanpa ia tahu, Alvin mengendap ngendap di belakang Sivia lalu menutup mata adiknya itu.
“Ayo tebak siapa?” Ujar Alvin, Sivia memukul tangan kakaknya itu alu melepaskan tangan yang menghalangi matanya itu.
“Apaan sih Kak, lagi badmood nih” Kesal Sivia, Alvin mengangkat sebelas alisnya kebingungan.
“Kenapa sih lo?” Tanya Alvin heran.
“Kakak kenal Rio?” Tanya Sivia, Alvin menggangguk mengiyakan.
“Kenapa sama Rio? Lo ngga nyari masalah sama dia kan?” tanya Alvin khawatir.
“Ngga lah, emang gue sebodoh itu?” Decak Sivia
“Terus kenapa?” Tanya Alvin.
“Ini soal Ify kak, Ify berubah semenjak kita sekelas sama Rio. Dia jadi sering bolos, terus sering banget ngelamun” Curhat Sivia.
“Ify deket sama Rio?”Bisik Alvin pelan, Sivia menggidikan bahu. “Apa mungkin Ify suka sama Rio?” Tanya Alvin pelan.
“Ngga tau juga Kak, tapi kalo dia suka…”Lirih Sivia, Alvin menepuk bahu Sivia pelan.
“Ngga apa apa kok Via” Ujar Alvin, Sivia memandang kakaknya itu dalam dalam.
“Kak Alvin, mau ngga kakak jagain Ify dari Rio. Kalo kaya gitu Kak Alvin bisa nolong Ify kalo terjadi apa apa.”Pinta Sivia. Alvin mengangguk sambil mengelus rambut adik satu satunya itu.
“As your wish” Ucap Alvin menenangkan.
Ify memegangi pipinya yang masih terasa nyeri, sesekali ia mendesis pelan tak terdengar. Ify memejamkan matanya menahan sakit lalu ia merasakan pundaknya di tepuk seseorang. Ify menoleh dan mengerjapkan matanya seolah tidak percaya.
“Rio?” Tanya Ify heran, karena cowok itu menyapanya duluan.
“Eh tugas sejarah kita, lo bisa ngerjain minggu ini ngga?” Tanya Rio. Ify mengangguk antusias.
“Gue bisa kok, sekarang aja mumpung besok hari minggu” Kata Ify semangat, ini momen yang pas untuk mengerjakan tugas itu mengingat orang tuanya sedang tidak ada di rumah, akhirnya Ify bisa pergi bebas.
“Mau kemana kita?”Tanya Rio, Ify berfikir sejenak.
“Gimana kalo ke monas?” Rio memandang Ify malas, lalu menggeleng keras.
“Emm.. gimana kalo ke kota tua aja” Rio mendesis pelan.
“Ngga seru banget sih lo” Kesal Rio, Ify memandang Rio tidak mengerti pikiran pemuda ini.
“Terus kita mesti kemana? Bukannya gue udah sebut nama nama tempat bersejarah ya?” Ujar Ify bingung.
“Stasiun kereta api Bandung” Jawab Rio singkat tapi sukses membuat Ify mengangga.
“Ba..Ban..Bandung?” Tanya Ify tidak percaya.
“Iya, kenapa lo ngga mau? Gue bisa kok sendiri, bukannya gue udah bilang kita mending ngga kelompokan?”Jawab Rio sengit, Ify menelan ludahnya mendengar kata kata Rio, bukannya dia yang ingin sekelompok dengan cowok itu tapi kenapa sekarang dia yang menyerah.
“O..Oke..”Jawab Ify gemetaran, Rio yang mendengar jawaban Ify bergegas meninggalkan gadis itu.
Tapi tangan Ify mencengkram lengan pemuda itu, Rio menepiskan tangan Ify lalu menatap gadis itu datar. Ify mengigit bibir bawahnya tidak tau harus mulai dari mana tapi ia merasa harus mengatakan ini pada Rio.
“Eh lo yakin? Maksudnya eh.. Bandung kan jauh”Ujar Ify takut.
“Lo takut?” Tanya Rio menantang Ify, Ify menimang nimang, ia melihat Rio yang tengah menatapnya menunggu jawaban.
“Enggak, tapi—“
“Yaudah, ntar kita ketemu di stasiun Gambir” Ify mengatupkan bibirnya rapat rapat mendengar perkataan Rio, Ify takut Rio tau bibirnya gemetar karena ketakutan.
Ify berjalan mondar mandir di dalam kamar, ia berusaha mengingat barang barang yang akan dia bawa, kemudian mengeceknya di dalam ranselnya lagi. Ify memandangi ponselnya dengan takut, ia tidak berani memberi tahu kedua orang tuanya.
“Gimana ya?” Ujar Ify bingung. “Ngga mungkin gue bilang mau ke Bandung, mana Cuma berdua lagi sama Rio” Timbang Ify.
Tak lama kemudian, Ify menemukan ide cemerlang. Ify mengambil ponselnya dan menghubungi Sivia, beberapa detik kemudian telefon Ify diangakat Sivia. Ify menarik nafas panjang lalu menyusun kata kata yang logis.
“Kenapa Fy?’ tanya Sivia.
“Via gue boleh minta tolong ngga?” tanya Ify pelan.
“Minta tolong apa nih,Fy?” Sahut Sivia, Ify mengetuk ngetukan jarinya di kakinya.
“Eh anu… boleh ngga gue nginep di rumah elo?”Tanya Ify takut.
“Yaelah gue kira apaan”Seru Sivia lega.
“Tapi Via, gue ngga tidur disana. Jadi kalo nyokap gue nanyain mau ngga lo bilang kalo gue nginep?” Ify memejamkan mata menunggu jawaban Sivia.
“Ha? Lo gila ya! Emang lo mau kemana sih?” Tanya Via beruntun seperti yang Ify duga.
“Gue mau.. emm ke Bandung..buat penelitian sejarah Via” Mohon Ify.
“Kenapa mesti ke Bandung sih Fy, emang tempat bersejarah di Jakarta udah habis apa?!” Tanya Sivia kesal.
“Via plis.. sekali aja”Ify mengecilkan suaranya.
“Tapi itu bahaya Fy, lo pergi berdua sama Rio?” Tanya Sivia tak habis pikir.
“Gue janji Via, gue ngga bakal ngapa ngapain, gue bakal jaga diri gue sendiri. Gue janji Via” Paksa Ify.
Sivia akhirnya luluh, ia tak tega melihat Ify memohon seperti itu “Oke, tapi lo harus pulang dengan utuh!” Ancam Sivia, Ify bernafas lega mendengar persetujuan temannya itu.
“Ortu lo kemana? Kok lo bisa kabur gitu?” tanya Sivia curiga.
“Mereka lagi keluar kota Via, makanya gue milih timing ini buat bikin tugas” Ujar Ify.
“Oke deh, pokoknya lo harus ingett janji lo” Sivia menaikan nada suaranya.
“Thanks Via” Ujar Ify tulus.
***
Ify turun dari taksi dan menapakan kakinya di pintu depan stasiun Gambir, ia melirik ke kiri dan kanan tapi tidak menemukan sosok Rio dimana mana. Ify mencengram erat tasnya yang berat karena takut Rio tidak menepati janjinya.
“Elo lama banget sih”Ify berbalik dan mendapati Rio sedang memegang cup mie instant.
“Maaf tadi gue izinnya lama” Rio tidak peduli dengan kata kata Ify, ia memanggul ranselnya dengan sebelah lengannya sambil membawa makanannya.
“Keretanya ntar lagi nih. Ini tiket lo” Rio memberikan Ify selembar tiket, lalu diambil gadis itu cepat.
Ify duduk di dekat jendela, di sampingnya Rio tengah mendengar music sambil memakan mie instant yang di belinya tadi. Ify mengamati wajah Rio yang santai, ia sama sekali tidak takut. Diam diam Ify kagum pada kehidupan Rio yang bebas seperti burung.
Ify mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ia melihat langit sore yang berwarna jingga di luar kaca bening itu. Ify menarik nafas dalam dalam, ia menyadari sesuatu yang telah lama diinginkannya akhirnya terwujud, sesuatu untuk melakukan apa saja.
“Lo udah izin kan?” Tanya Ify pada Rio.
“Ngga penting banget” Balas Rio cuek, Ify menggeser duduknya menghadap Rio.
“Tapi kalo orang tua lo nyariin gimana?”Ify menatap Rio takut. Rio berdecak kesal.
“Mereka ngga bakal peduli” Ujar Rio acuh.
“Rio..gimanapun mereka orang tua lo”Sahut Ify.
Rio melepas headset kasar, dia menatap Ify yang tengah menatapnya. Rio menatap Ify kesal, belum apa apa saja gadis itu sudah membuatnya susah, bagi Rio bersama Ify membuat perasaanya menjadi kacau karena ia tidak tau bagaimana cara mengatasi perasaanya. Selama ini Rio bisa mengatasi semua perasaan di hatinya, rasa benci, rasa sedih, senang, semua itu baginya sama saja. Tapi Ify tidak pernah bisa diatasinya, gadis itu selalu membuat hatinya nyeri tanpa ia sadari.
“Lo bisa diem ngga sih” Desis Rio tajam, Ify menunduk tak berani menatap Rio lagi.
“Maaf Rio, gue Cuma ngerasa itu penting buat lo. Mungkin lo bener, sesekali kita pengen tau seberapa penting kita buat orang lain, mungkin sesekali kita harus pergi aja. Sesekali kita harus bebas” Ify menggigit bibir bawahnya, mengapa ia jadi mencurahkan perasaanya?
Rio menatap Ify yang tengah menunduk menatap ujung sepatunya, ia medesah pelan. Gadis ini tau perbuatannya salah, tapi kenapa ia selalu memberi Rio sisi positif di setiapp hal negative yang ia lakukan? Rio memasang headsetnya di telinga sebelah kananya, lalu dengan gerakan cepat ia memasangkan sebelahnya lagi pada Ify.
“Terserah lo deh, gue mau tidur” Ujar Rio, Rio segera menurunkan topinya hingga menutupi setengah wajahnya dan tertidur.
Ify memegangi headset Rio yang terpasang di telinganya, ia menatap Rio yang tengah tertidur sambil tersenyum simpul. Lagu fix you milik secondhand serenade mengalun lembut di telinga Ify.
“Rio, lo cowok yang baik. Lo pasti ngelakuin hal hal terbaik yang lo bisa, apapun itu” Ify menyadarkan kepalanya di kaca jendela lalu berusaha memejamkan mata.
Tanpa Ify sadari, Rio sama sekali tak bisa tidur setelah mendengar perkataan Ify. Rio menahan tangannya untuk memeluk gadis itu, lagi lagi Rio berperang dengan perasaannya. Inilah yang  Rio benci dari Ify, perhatian dan pengertian yang Ify berikan lama lama membuat Rio ketergantungan dan merasa tak sanggup kehilangan.  Rio benci merasa memiliki dan akhirnya dicampakan, Rio benci.
Rio memandang siluet Ify yang tengah bersandar di jendela, di belakangnya langit jingga telang membentang. Rio menahan nafas untuk tidak menyentuh rambut gadis itu yang menutupi mata Ify. Rio tau Ify tulus berada di sisinya, tapi seberapa jauh Ify bisa menerima Rio?
“Kenapa lo ngelakuin semua ini buat gue? Lo bahkan ngga takut duduk di samping gue sekarang. Seberapa percaya lo sama gue?” Tanya Rio dalam hati.
Rio menyandarkan kepalanya yang terasa berat lalu berusaha memejamkan matanya, seharusnya ia menghindar sekuat tenaga dari Ify sebelum ia terlanjur percaya pada gadis yang baru datang di kehidupannya itu.
“Apa boleh gue percaya sama lo? Apa lo bisa jadi orang yang gue percaya? Bukan Cuma lo, gue juga takut” Ujar Rio pelan.
Bunyi peluit kereta api memaksa Ify membuka matanya yang berat, lehernya terasa sakit kerena tidur bersandarkan kaca, di sebelahnya Rio mesih tertidur pulas. Ify menepuk pundak laki laki itu tapi ia sama sekali tidak bergeming.
“Yo, bangun yo” Ify menepuk pundak pipi Rio tapi ia masih tidak bangun juga. “Rio, bangun dong” Ify menggoncangkan tubuh Rio pelan.
Rio merasa tidurnya diganggupun pelan pelan membuka matanya, ia melihat Ify tengah berusaha membuatnya terbangun. Rio mengambil tangan Ify di pundaknya lalu meletakannya mendekati tubuh Ify.
“Gue udah bangun”Jawab Rio datar, Rio segera mengambil tasnya lalu berjalan keluar.
Ify masih belum bergeming, ia mengamati tangannya yang tadi habis di genggam Rio. Ify merasa hangat saat tangan Rio menyentuhnya. Ify tersenyum simpul lalu menggendong tasnya yang penuh sesak.
“Lama banget sih lo” Gerutu Rio setelah Ify turun dari kereta.
Ify menggosok gosokan kedua tangannya karena kedinginan, “Iya sorry deh, sekarang kita mau kemana?” Tanya Ify bingung.
“Ya nyari penginapan lah, lo bawa uang banyak apa dikit?” Tanya Rio.
“Lumayan lah” Rio menghela nafas pasrah mendengar jawaban Ify.
“Ish lo ya”Decak Rio kesal “Yaudah mending kita di penginapan aja, biar hemat lagian Cuma satu malem” Usul Rio.
Ify merebahkan diri di kamarnya ia melepas sepatu kets dan meletakan tasnya. Ify merasa punggunya sudah retak akibat membawa tas yang begitu berat. Ify menerawang memandang  langit kamarnya kemudian matanya menjadi berat dan ia tertidur lelap.
Rio mengetuk pintu kamar Ify keesokan harinya, Rio bertaruh gadis itu belum bangun dari tidurnya jadi Rio memutuskan membangunkannya agar mereka tidak terlambat ke stasiun kereta api Bandung.
“Woi bangun woi!” Rio mengetuk pintu kamar Ify tak sabaran, Ify muncul beberapa menit kemudian dengan muka acak acakan sehabis bangun tidur.
“eemm?”Tanya Ify sambil mengusap matanya.
“Kebo banget sih lo, tidur aja ngga ganti baju. Cepet bangun gue ngga mau terlambat buat bikin tugas”Ujar Rio.
Ify melongo melihat Rio yang sudah rapi sedang berdiri di depan pintunya, Ify mengerjapkan matanya tidak percaya lalu mengucek ngucek matanya lagi. Rio berdecak kesal melihat tingkah Ify.
“Eh” Sadar Ify “Tunggu bentar, gue mau siap siap. Bentar aja!” Ify menutup pintu kamarnya dan ia bergegas untuk bersiap siap.
Rio kembali ke kamarnya dan mengambil kamera, dompet dan ponselnya. Ia memakai jaketnya dan menggantungkan kameranya di leher.  Rio menunggu Ify di depan pintu tak lama kemudian gadis itu keluar dengan rambut setengah basah dan tas yang kelihatan penuh.
“Duh gimana gue bisa lupa bawa hair dryer coba” Keluh Ify, Rio memandang Ify mengejek tapi tak kentara.
“Dasar cewek” Gerutu Rio. “Lo bawa apa sih? Tas lo kaya udah mau keluar gitu isinya” Ledek Rio.
“Ish, ini semua penting tau buat kelangsungan hidup gue” Ujar Ify.
Rio maju selangkah dan memeriksa barang barang yang di maksud penting buat Ify, Rio menemukan sisir, make up, sandal, dan segala sesuatu yang lebih pas di bawa untuk kemah pramuka. Rio memandang Ify sengit lalu mengeluarkan barang barang yang tidak penting itu satu persatu.
“Apaan sih lo?” Tanya Ify tak terima.
“Lo yang apa apaan, kita disini tuh mau penelitian bukannya mau kemah pramuka. Ngapain lo bawa bawa beginian, bikin repot mulu” Maki Rio, Ify menatap Rio kesal.
“Itu buat jaga jaga, kalo sesuatu terjadi sama gue kan gue bisa siap siap. Lo ngga tau pepatah sedia payung sebelum hujan?” Bela Ify, Rio menghela nafas berat melihat tingkah Ify.
“Please deh, kalo lo bawa payung pas terang, bukannya lo siap sedia ada juga lo orang gila” Ejek Rio, Ify cemberut karena kesal di bilang orang gila. “Bawa ponsel, dompet sama buku tulis aja.” Perintah Rio dengan keki Ify menuruti kata kata Rio.
“Awas ya kalo gue kenapa napa, lo bakal tanggung jawab”Ancam Ify.
“Kok gue?”Tanya Rio heran.
“Soalnya lo maksa buat ninggalin segala macam bentuk perlindungan diri gue di kamar jadi kalo gue kenapa napa lo harus tanggung jawab” Tuntut Ify.
“Udahlah lo tenang aja” Rio melangkah meninggalkan Ify yang masih sibuk menurunkan barang barangnya.
Rio menunggu di depan penginapan, ia mengarahkan kameranya pada jalan raya di depannya. Sudah lama ia tidak pergi memotret, jadi momen ke stasiun kereta ini juga bisa di jadikan moment untuk hunting foto.
“Yuk, sekarang gimana caranya kita ke stasiun kereta?” Tanya Ify yang sudah berdiri di belakang Rio.
“Naik itu” Rio menunjuk sebuah angkot di depan mereka, Ify menegak ludah melihat kendaraan umum yang sama sekali belum pernah di naikinya.
“Lo yakin?” Tanya Ify takut.
“Manja banget sih lo, ayo cepet” Rio tidak menjawab pertanyaan Ify, ia bahkan tak peduli gadis itu ketakutan.
Ify duduk di dalam angkot dengan gelisah, ia memainkan ujung baju nya dengan resah. Ify melirik Rio berulang kali tapi Rio menatap lurus lurus ke depan, Ify menarik nafas dalam dalam mencoba menenangkan dirinya bahwa tak ada sesuatu yang akan terjadi.
“Udah sampe, cepet turun!” Ify akhirnya bisa bernafas lega mendengar ucapan Rio.
Ify terpaku melihat stasiun kereta api Bandung yang merupakan peninggalan Belanda itu, di tempat itu cukup banyak wisatawan yang berlibur pada hari Minggu.  Ify tersentak ketika Rio menyuruhnya untuk cepat masuk ke dalam stasiun.
Ify berusaha mengikuti jalan Rio yang sangat cepat, langkah yang Rio ambil besar besar sehingga membuat kaki mungil Ify harus bekerja ekstra keras untuk mengikuti laki laki itu. Berulang kali Ify tertinggal jauh di belakang dan gadis itu berlari kecil untuk kembali bersisian dengan Rio.
Tapi makin lama, Ify semakin lelah untuk berlari mengejar  Rio. Akhirnya Rio menyadari kalau Ify berjalan terlalu lama. Rio menghentikan langkahnya dan menatap Ify kesal.
“Elo lama banget sih jalannya” Kesal Rio, Ify berusaha mengatur nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Rio.
“Sorry, gue udah berusaha buat ngga ketinggalan tapi—“
“Lo tau kan kalo ini tempat umum, kalo lo ilang gimana? Lo pikir lo bisa balik sendiri ke Jakarta?” Ify tertunduk mendengar ucapan Rio. Rio benar Ify tidak bisa apa apa kalau ia sampai hilang di tempat ini, ia tidak akan bisa bertahan sendirian.
“Lo jalan di depan gue” Perintah Rio, Ify mengikuti kata kata Rio ia berjalan mendahului laki laki itu tapi sebenarnya Ify tidak tahu harus berjalan kemana.
Rio memandangi punggung Ify, gadis itu berjalan sangat lambat membuat Rio jadi kesal sendiri. Kenapa Ify selalu membuat susah? Dari awal gadis itu tak pernah membuat segalanya menjadi mudah.
Rio mempercepat langkah kakinya menyusul Ify yang tengah berjalan di depannya, tak lama kemudian ia sudah bersebelahan dengan Ify, Rio dapat melihat wajah gadis itu yang tengah bingung menentukan arah. Akhirnya Rio menarik tangan Ify dan berjalan lebih cepat.
“Lo lambat banget sih” Protes Rio sambil membawa gadis itu berjalan lebih cepat.
Ify terdiam melihat tangannya di gandeng Rio, ia membawa Ify ke depan pintu masuk stasiun melewati gerombolan orang yang tengah menikmati suasana di stasiun kota Bandung yang tidak terpakai itu.
Ify memang lambat, Ify sendiri sadar itu. Ia memang lambat karena ia tak berani salah melangkah, tapi kadang Ify benci dirinya yang lambat, ia selalu tertinggal dari yang lainnya. Saat semua orang mendapatkan hal baru dalam perjalanannya Ify masih jauh tertinggal di belakang, tapi karena Ify berhati hati Ify tidak mudah kehilangan sesuatu.
Kehilangan membuat kita belajar untuk lebih hati hati menjaga sesuatu, itulah yang Ify coba lakukan. Belajar dari kehilangan. Tapi Ify lupa, semakin tak ada hal yang berubah, hidupnya akan tetap sama saja, Ify sekarang sadar saat melangkah begitu cepat bersama Rio , Ify tau hidup tak aka nada artinya kalau ia tak berani. Berani melangkah membuat kita mendapat hal baru, yang menggantikan rasa kehilangan.
Ify menggengam tangan Rio lebih erat seolah takut terlepas dan ia akan hilang, tapi bukan itu alasannya. Ify menggenggam tangan Rio lebih erat karena dia tau, Rio akan membawanya menemukan hal hal baru lebih cepat.

0 komentar:

Posting Komentar

 

EYES OPEN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review