DUA
Rio mengamati plester yang ada di mejanya sambil tersenyum miring,
gadis itu tidak tau apa apa tentang dirinya dan ia tidak suka orang yang
baru mengenalnya sudah ikut campur akan urusan pribadi Rio. Rio tau
keinginan gadis itu untuk mengenal dirinya merupakan sesuatu yang baru
di hidupnya, karena selama ini belum ada yang benar benar mengenal Rio
mereka hanya takut pada kuasa Rio atau mereka hanya memanfaatkan Rio,
kalau ada yang mengenalnya secara baik orang itu sudah lama pergi dari
hidupnya.
Rio mendesis pelan, kehadiran gadis itu seperti mengingatkannya akan
kisah lama dan Rio benci itu. Rio menggenggam erat plester di tangannya
lalu berjalan menghampiri Ify yang sedang duduk di bangkunya.
“Lo, ambil plester ini lagi. Gue ngga butuh, gue ngga luka” Rio memandang Ify tidak suka, gadis itu hanya menatap Rio santai.
“Jelas jelas muka lo pada bonyok gitu” Sahut Ify.
“Kalo gue bilang ngga luka ya ngga luka!” Bentak Rio, Ify menjauh sedikit dari hadapan Rio. “Nih ambil plester lo!” Geram Rio.
“Lo..” Lirih Ify sambil menetralkan perasaanya.
“Jangan sok baik sama gue, gue muak sama lo!” Rio memukul meja Ify kasar sambil meletakan plester di depan Ify.
Rio keluar dari kelas dengan perasaan kesal
sementara Ify meringkuk di bangkunya kerena ketakutan di bentak Rio,
padahal Ify hanya berniat baik tapi kenapa Rio jadi marah padanya. Apa
Rio tidak bisa di halusi?
“Sial”Dengus Ify.
Tak lama kemudian Tio ketua kelas Ify datang lalu disusul
beberapa siswa lainnya. Ify melirik jam tangannya, sebentar lagi bel
masuk akan berbunyi dan temannya Sivia belum datang juga.
Tiba tiba Kak Alvin muncul di depan pintu kelas Ify, Ify
mengernyitkan dahi kebingungan karena Kak Alvin memanggil dirinya. Ify
segera menghampiri Kak Alvin dengan rasa penasaran yang begitu besar.
“Ada apa kak?” Tanya Ify
“Fy, Sivia ngga bisa sekolah hari ini. Dia kesiangan parah
ternyata, terus dia ngga mau di hukum” Ujar Kak Alvin, aku hanya
mengangguk dan tersenyum simpul.
“Oh yaudah Kak, aku buatin Sivia surat aja ya bilang dia izin” Usul Ify yang disetujui Kak Alvin dengan acungan jempol.
“Oke makasi ya, Ify!”Seru Kak Alvin sambil berlalu dari kelas Ify.
Kelas tanpa Sivia benar benar sepi, Ify jadi tidak punya
teman mengobrol kalau sedang suntuk. Ify menghela nafas panjang lalu
mencuri pandang ke bangku Rio yang kosong, sebenarnya alasannya tak
betah di kelas selain tidak ada Sivia juga karena Rio tiba tiba
menghilang.
Ketika bel istirahat berbunyi Ify langsung berjalan keluar kelas, Ia
berniat mencari Rio dan meminta maaf. Ify yakin Rio tidak bolos keluar
sekolah karena Rio meninggalkan tasnya di kelas. Ify mencari ke seluruh
penjuru sekolah tapi
Ify tidak menemukannya.
Akhirnya Ify menelusuri bagian selatan sekolahnya dan memasuki gedung basket Indoor, Suara decitan sepatu dan
bola
basket beradu di lantai membuat Ify bersemangat memasuki ruangan itru.
Dugaan Ify benar, Rio sedang ada di sana bermain basket dengan lincah
tapi Ify bisa tau dari gerakan Rio kalau Rio bermain sambil melampiaskan
amarahnya.
“Rio, kenapa gue ngga pernah bisa ngerti jalan pikiran lo?” Ujar Ify pelan.
Ify duduk di kursi penonton tanpa di ketahui Rio, ia
melihat adegan adegan permainan cowok itu seolah sedang menonton film
favoritnya. Rio bisa berlari dengan gesit, Rio bisa memutar tubuhnya
dengan lincah dan tembakan Rio ke Ring benar benar akurat. Sudah lima
belas menit Ify duduk di bangku penonton dalam diam, Ia bahkan tidak
menghiraukan bel masuk yang sebentar lagi berbunyi.
Sudah hampir satu jam Rio memutuskan untuk bermain basket
di lapangan indoor untuk melampiaskan amarahnya, akhirnya Rio merasa
lelah juga. Tembakannya tak lagi akurat, akhirnya kelincahan Rio juga
berkurang dan mengakibatkan laki laki itu ambruk. Ify terkejut dan tiba
tiba bangkit dari tempat duduknya, ia menghampiri Rio yang terduduk di
tengah lapangan.
“Lo ngga apa apa?” Tanya Ify sambil mengulurkan tangannya.
Rio mendongak dan mendapati Ifyy berdiri di depannya
membuat amarahnya naik lagi, Ia menepiskan tangan Ify dari hadapannya
dan bangkit sendiri. Ify menghela nafas panjang, lalu mengikuti Rio di
belakangnya.
“Gue minta maaf kalo udah bikin lo marah” Ujar Ify cepat
sebelum Rio meninggalkannya lagi.”Gue minta maaf kalo gue bikin lo
badmood, terus lo mutusin buat bolos” Imbuh Ify.
Rio membalik badannya dan menatap Ify lekat, ia berjalan
mendekati Ify dengan pasti dan membuat Ify jadi takut sendiri, Ify
mencengkram erat roknya karena rasa takut di pandangi Rio seperti itu,
Ify takut Rio bersikap kasar padanya.
“Mau lo apa sih?” Ujar Rio tegas.
“Gue Cuma—“ Ify menggigit bibir bawahnya karena takut.
“Mau lo apa?!” Rio mencengkram pundak Ify erat sehingga gadis itu semakin takut.
“Gue pingin lo ngga bolos lagi, gue mau lo ikut kelas dan ngga bolos gara gara kejadian tadi pagi” Ujar Ify takut takut.
“Gue minta maaf Rio” Lirih Ify. Rio melepaskan pundak Ify lalu berjalan dengan cepat keluar dari lapangan basket Indoor.
“Gue turutin permintaan lo, tapi jangan pernah lo bersikap sok baik sama gue” Ujar Rio sebelum ia keluar dari pintu.
Ify masih mematung di lapangan basket, Ify sendiri
merutuki dirinya yang terlalu penasaran pada Rio seharusnya Ify
menghindar saja begitu Rio menolak ajakn pertemananya, tapi Ify tetap
keukeuh mendekati cowok itu.
“Permisi Pak” Ify memberanikan diri memasuki ruang kelas.
“Kemana saja kamu?” Tanya Pak Herman galak, Ify sudah ketar ketir mendapat respon seperti itu.
“Saya.. saya habis dari—“ Ify mengalihkan pandangannya membari waktu otakknya untuk berfikir, tiba tiba dia melihat
Rio duduk santai di bangkunya dan menatap Ify dingin. “Ruang guru” Ujar Ify tercekat.
“Lain kali, kalau ada perlu izin dulu dengan saya” Ify
menghela nafas lega sambil mengangguk pelan.”Sekarang kamu boleh duduk”
Ify tak butuh waktu lama untuk duduk tenang di bangkunya lagi.
Ketika pelajaran sosiologi selesai, Bu Kartika guru
sejarah Ify memasuki kelas untuk mengisi jamnya. Bu Kartika mengajar
dengan santai sehingga anak anak kelas XI IPS jadi semangat mengikuti
pelajaran, ketika di akhir pelajaran Bu Kartika memberikan tugas untuk
meneliti bangunan bersejarah dengan kelompok dua orang.
Seketika kelas menjadi gaduh karena mencari pasangan
masing masing, Ify melirik bangku Sivia yang kosong lalu menghela nafas.
Tiba tiba Nova mendekati bangku Ify, Nova melirik bangku Sivia yang
kosong.
“Ify lo mau sama Sivia?” Ify tidak menjawab ia masih
berfikir. “Kalo ngga, boleh ngga gue sama Sivia soalnya rumah gue kan
deketan sama dia jadi gue gampang bikin tugasnya” Ify menimang nimang
lalu mengangguk, Ia merasa kasihan juga pada Nova dan sepertinya Sivia
tidak akan keberatan.
“Oke deh” Ujar Ify
Ify lalu memperhatikan seisi kelasnya, banyak teman
sekelas Ify yang sudah mendapat pasangan dan sibuk menentukan tempat
bersama pasangannya. Tapi ada satu orang yang masih duduk acuh di
tempatnya, Ify mengumpulkan nyalinya mendekati orang itu sambil
meyakinkan dirinya sendiri.
“Rio” Panggil Ify, Rio hanya melirik Ify tanpa menyahut.
“Lo udah punya kelompok belum?” Tanya Ify. Rio hanya diam saja membuat
Ify benar benar salah tingkah.” Kalo belum lo sama gue ya?” tanya Ify
kaku.
“Gue ngga mau” Ketus Rio.
“Tapi—“
“Apa alasan lo mau kelompokan sama gue? Apa karena temen lo itu ngga ada?”Tanya Rio sarkatis.
“Bukan!” Sahut Ify spontan. Rio memicingkan matanya menatap Ify.
“karena gue pilihan terakhir di kelas ini?” Tuduh Rio. “Kalo ada orang lain yang belum punya pasangan apa lo masih
mau sama gue? Cih!” Rio membuang mukanya tidak mau berhadapan dengan Ify, pelan pelan Ify mundur dan kembali ke bangkunya.
Ify terduduk di mejanya memikirkan kata kata Rio, awalnya
Ify memang tidak menemukan pasangan lain dan ia juga tidak tau bagaimana
jika Sivia memintanya untuk menjadi partnernya apakah Ify masih memilih
Rio yang sudah menolaknya terang terangan.
***
Ify memijat keningnya yang terasa berat, semalam ia tidak bisa tidur
gara gara perkataan Rio. Padahal pertanyaan Rio sederhana tapi mampu
membuat Ify tidak bisa tidur semalaman.
“Ify!” Seru Sivia.
“Hai, lo ngga kesiangan lagi kan?” Canda Ify, Sivia mengkrucutkan bibirnya manyun.
“Ih Ify!” Gerutu Sivia.
“Eh iya, Via. Kita ada tugas sejarah lo berkelompok”Ujar Ify.
“Kelompok? Gue sama lo ya?” Tanya Sivia. Ify menggeleng lemah.
“Lo sama Nova. Ngga apa apa kan?” Tanya Ify.
“Ngga sih, terus lo sama siapa kalo gitu?” Ify menggeleng lemah. “Kalo gitu kenapa ngga lo aja yang sama gue,
lagian waktu kelas X kita cukup sering sekelompok kan” Ify tersenyum lemah mendengar tawaran Ify.
“Kenapa lo mau kelompokan sama gue?” Pancing Ify.
Sivia mengernyitkan dahinya bingung atas pertanyaan Ify “ya karena gue ngerasa nyaman aja kerja bareng lo” Ujar Sivia.
“Kalo sama yang lain gimana, seandainya gue ngga sekelompok sama lo?” Tanya Ify serius.
“Yah gimana ya, mungkin aku bakal ngga ngerasa nyaman Fy.
Kan tiap orang beda beda” Ify menghentikan langkahnya mendengar kata
kata Sivia, Ia tahu apa alasannya.
“Via, lo duluan ke kelas ya!” Seru Ify.
“Eh kenapa?” Belum sempat Ify menjawab Ify sudah berlari menjauh. Sivia menghela nafas lalu melangkahkan kakinya ke kelas.
Ify mengatur nafasnya yang sesak habis berlari, ia melirik
jam tangannya sambil melihat ke gerbang sekolah. Sudah cukup lama waktu
berlalu tapi orang yang di tunggu Ify tidak datang juga, ketika Ify
hendak kembali ke kelas suara bising motor mengagetkan gadis itu.
“Hei kamu! Dasar anak nakal, kecilin suara motor kamu atau saya lapor Ke Pak Hendra” Teriak Mang ujang, satpam sekolah Ify.
Ify menatap pengemudi motor itu lalu berlari ke tengah
jalan, ia tidak memperdulikan motor itu sedang melaju di depannya.
Seementara Rio yang tengah mengemudikan motor melihat Ify di depannya
merasa tertantang, ia berniat membuat gadis itu takut dan menyingkir
sendiri.
Tapi Rio salah, Ify tetap bertahan di depannya tanpa
menghindar sedikitpun dengan paksa Rio menarik remnya ketika ban
motornya tinggal sejengkal dari Ify. Rio membuka helm dengan kesal dan
menatap Ify galak.
“Ngapain lagi sih lo? Dasar cewek aneh, minggir lo!” Bentak Rio. Ify membuka matanya yang tadi ia pejamkan karena takut.
“Gue.. Cuma mau nanya sekali lagi sama lo, lo mau ngga
jadi partner sejarah gue?” Tanya Ify takut, Rio tertawa garing lalu
menatap gadis itu remeh.
“Ngga, bukannya lo sendiri ngga punya alasan jelas buat
jadi kelompok gue, Ha?!” Ify menundukan kepalanya mendengar kata kata
Rio.
“Gue punya kok” Sahut Ify, Rio turun dari motornya dan mendekati Ify.
“Apa? Karena lo ngga punya temen lagi?” Tanya Rio remeh.
“Bukan, tapi karena gue ngerasa bakal nyaman satu kelompok
sama lo. Waktu gue liat lo masih belum dapet kelompok entah kenapa gue
kepikiran buat satu kelompok sama lo” Jawab Ify, Rio tercengang
mendengar perkataan Ify.
“Bullshit” maki Rio, Ify tidak menjawab. “Buat apa sih lo susah susah ngelakuin ini buat gue. Ngga penting banget!” Geram Rio.
“Buat gue penting… Tugas kelompok ini penting, karena gue yakin sama lo gue pasti bisa nyelesein tugas ini” Ujar Ify
yakin, Rio mendegus kesal ternyata cewek ini keras kepala juga.
“Liat aja, lo pasti nyesel satu kelompok sama gue!” Ancam
Rio, Ify tersenyum sekilas.”Awas ya lo sampe nyembah suapaya berhenti
satu kelompok sama gue” Ancam Rio sekali lagi, Rio segera menaiki
motornya dan berlalu dari
hadapan Ify.
“Itu artinya kita satu kelompok kan Rio?” pekik Ify, Rio tidak menjawab malah mengemudikan motornya semakin jauh.
Ify tersenyum karena akhirnya ia berhasil satu kelompok
dengan Rio, Ify tau Sivia lebih mau bekerjasama daripada Rio tapi apapun
hasilnya nanti Ify tidak akan menyesal berkelompok dengan cowok dingin
itu.
“Via, sorry ya” Ujar Ify ketika ia sudah sampai di kelas.
“Lo kemana sih tadi?” tanya Sivia keki. Ify hanya nyengir kuda tidak menjawab pertanyaan Sivia.
“Ngga kemana mana kok” Bohong Ify, Sivia tidak menyaut lagi setelah Bu Mei masuk ke kelas mereka.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi Kak Alvin sudah stay di depan
pintu kelas Ify, Sivia segera menghampiri kak Alvin diikuti Ify di
belakangnya. Kak Alvin tersenyum ramah kepada mereka berdua.
“Tumben nih Kak Alvin mau jemput ke kelas” Sindir Sivia.
“Yaudah besok ngga aku cari deh” Goda kak Alvin, Sivia memukul lengan kakanya itu ringan.
“Awas aja kalo berani”Ancam Sivia. Ify hanya tertawa melihat tingkah kakak adik yang satu itu.
“Eh Ify mau bareng kita ngga?” Tawar kak Alvin.
“Iya Fy, lo bareng kita aja”usul Sivia. Ify hanya menggeleng.
“Makasi ya, tapi aku udah janji pulang bareng Ayah nih” Tolak Ify.
“yaudah kalo gitu kita duluan ya Fy” pamit Sivia, Ify mengangguk lalu melambaikan tangannya.
Ify berjalan sendirian di bawah koridor sekolahnya menuju
ke gerbang depan, tiba tiba Ify melihat Rio sedang berbicara dengan
seorang anak laki laki di koridor memilih diam dan menonton adegan
tersebut. Rio nampak geram dengan anak itu dan mencengkram erat kerah
baju anak itu.
“Udah gue bilang kan, jangan cari masalah sama—“
“Rio! Udah Rio, ini sekolahan!” Cegah Ify, Rio melepaskan kerah baju anak laki laki itu dengan kasar.
“Apaan sih lo!” Bentak Rio.
“Rio, ini sekolah, lo bisa kena masalah” Ify mencoba memperingatkan Rio, tapi Rio memandang Ify tidak suka.
“Kenapa sih lo ngga pernah berhenti ganggu gue?” Tanya Rio frustasi. “Bisa ngga barang sedetik aja lo ngga usah
ikut campur apa urusan gue” Tambahnya, Ify diam sambil menggenggam erat kedua tangannya.
“Maksud gue kan supaya lo ngga kena masalah” Ujar Ify pelan.
“Terserah lo deh! Gue banyak urusan” Rio hendak pergi tapi
Ify cepat cepat menahan tangan Rio. “Kenapa lagi? Masih belum puas lo
ganggu gue?”Tanya Rio sarkatis.
Ify menggeleng lalu mengeluarkan kertas dan bolpoint dari
dalam tasnya dan menyodorkan kepada Rio.”Gue minta nomor ponsel lo
ya”Pinta Ify, Rio menjauhkan kertas dan bolpoint itu dari hadapannya.
“Mau lo apa sih?” Gerutu Rio keki.
“Kita kan satu kelompok jadi harus saling ngasi tau kalo
ada apa apa, lagian ini Cuma buat tugas kok. Janji” Ify meletakan jari
telunjuk dan jari tengah di depan wajahnya.
“Gue ngga mau, apapun alasan lo” Keukeuh Rio
“kalau gitu gue bakal terus pegang tangan lo sampe lo ngasi” Ancam Ify, Rio tertawa pelan lalu menatap gadis itu tajam.
“Lepasin tangan gue” Paksa Rio, Ify semakin memperat pegangannya.
“Ngga sebelum gue dapet nomer lo” Tuntut Ify.
“Gue bisa aja berbuat kasar sama lo, kaya gue memperlakukan anak tadi” Ify menelan ludahnya ketakutan tapi ia
masih belum gentar.
“Gue tau kok lo ngga mungkin ngelakuin itu” Rio
menghentakan tangannya dengan kasar, sehingga cengkraman Ify melonggar
dan terlepas. Ify meringis kesakitan.
“Siapa bilang?” Rio menatap Ify tidak peduli pada ringisan gadis itu. “Dasar cewek manja” maki Rio.
Rio segera berlari mengejar mangsa yang sudah kabur darinya, sementara Ify masih diam disana melihat Rio
menghilang
dari pandangannya. Kalau Rio tidak mau memberikannya, mungkin TU akan
dengan suka rela nomor ponsel Rio pada Ify. Sebenarnya gadis itu baru
terpikir soal caranya ia mengontak Rio jika mereka akan meneliti
bersama. Tapi apa Rio mau ikutt meneliti? Ify menghela nafas lelah lalu
masuk ke mobil ayahnya yang sudah menunggu di gerbang
***
“Permisi Bu” Sapa Ify
Petugas di balik komputer itu mendongakan kepala dan
mengangguk begitu melihat Ify berdiri di depan pintu. Pelan pelan Ify
berjalan mendekat ke arah wanita paruh baya itu untuk menyampaikan
tujuannya datang ke sini.
“Maaf Bu, saya butuh data siswa atas nama Mario Pratama. Apa ibu bisa membantu saya?” Tanya Ify sopan
“Baiklah saya carikan dahulu, sebaiknya kamu menunggu sebentar” Ujar wanita itu
Ify duduk di salah satu kursi di ruang TU selama sepuluh
menit, sedangkan petugas TU yang Ify mintai tolong sedang asik tenggelam
bersama ribuan data Siswa SMA Putera Bangsa.
“Silahkan, ini datanya bisa diambil” Petugas itu membuyarkan lamunan Ify.
“Terimakasi, Bu” Ujar fy tulus, ia lalu mengambil kertas yang di letakan di meja dan mulai menelitinya.
“Gotcha! Aku dapat nomernya”Ujar Ify bahagia.
Malam harinya Ify sedang menimang nimang kertas yang di
berikan petugas TU tadi serta handphonenya sendiri, Ify sedang bingung
apakah ia harus menelfon Rio sekarang atau besok saja? Tapi Ify ingin
memastikan nomer ponsel itu.
“Halo?” Ify tersentak ketika ia mendengar suara dari ponselnya.
“Ha..Halo” Gagap Ify.
“Siapa nih?” Ify menggigit bibir bawahnya lalu memejamkan matanya.
“Ify—temen sekelompok lo. Lo inget?” Tanya Ify takut.
“Nggak!” Sambungan telefon langsung di putus sepihak ooleh Rio.
Ify berdecak kesal, ia menyesal memutuskan untuk
menghubungi cowok dingin itu akibatnya Ify harus makan hati lagi dan
lagi. Ify merutuki ponselnya yang tidak berdosa lalu tiba tiba benda itu
berkedip tanda ada pesan masuk.
/Dari mana lo tau nomer gue?!/
Ify mengernyitkan dahi, ternyata Rio mengirim pesan untukknya.
/Maaf, karena lo ngga ngasi jadi gue minta di TU/
Ify segera menekan tombol send di handphonenya, tak lama kemudian pesan balasan dari Rio masuk ke ponsel Ify.
/Awas lo nelfon gue buat hal hal yang ngga berguna. Mati lo/
Ify mendengus melihat balasan Rio, cowok itu benar benar
dingin dan menyebalkan tapi jauh di dasar hati Ify ia sama sekali tidak
benci pada Rio, ia tidak sakit hati setiap kali cowok itu membentak atau
menghinanya karena sepertinya Ify mulai bisa menerima sikap Rio, apapun
itu.
@Ossiwidiari_
Blogroll
Labels
- Another Life (16)
- Cerpen (14)
- Love your life (15)
- Red (7)
- Resensi (1)
- Sajak (7)
- taylor swift (9)
- Untuk Neptunus (1)
Watched
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar