Kamis, 13 Maret 2014

Stay

Diposting oleh Ossi Widiari di 03.05
DUA


Rio mengamati plester yang ada di mejanya sambil tersenyum miring, gadis itu tidak tau apa apa tentang dirinya dan ia tidak suka orang yang baru mengenalnya sudah ikut campur akan urusan pribadi Rio. Rio tau keinginan gadis itu untuk mengenal dirinya merupakan sesuatu yang baru di hidupnya, karena selama ini belum ada yang benar benar mengenal Rio mereka hanya takut pada kuasa Rio atau mereka hanya memanfaatkan Rio, kalau ada yang mengenalnya secara baik orang itu sudah lama pergi dari hidupnya.

Rio mendesis pelan, kehadiran gadis itu seperti mengingatkannya akan kisah lama dan Rio benci itu. Rio menggenggam erat plester di tangannya lalu berjalan menghampiri Ify yang sedang duduk di bangkunya.

“Lo, ambil plester ini lagi. Gue ngga butuh, gue ngga luka” Rio memandang Ify tidak suka, gadis itu hanya menatap Rio santai.

“Jelas jelas muka lo pada bonyok gitu”  Sahut  Ify.

“Kalo gue bilang ngga luka ya ngga luka!” Bentak Rio, Ify menjauh sedikit dari hadapan Rio. “Nih ambil plester lo!” Geram Rio.

“Lo..” Lirih Ify sambil menetralkan perasaanya.

“Jangan sok baik sama gue, gue muak sama lo!” Rio memukul meja Ify kasar sambil meletakan plester di depan Ify.


Rio keluar dari kelas dengan perasaan kesal sementara Ify meringkuk di bangkunya kerena ketakutan di bentak Rio, padahal Ify hanya berniat baik tapi kenapa Rio jadi marah padanya. Apa Rio tidak bisa di halusi?

“Sial”Dengus Ify.

Tak lama kemudian Tio ketua kelas Ify datang lalu disusul beberapa siswa lainnya. Ify melirik jam tangannya, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dan temannya Sivia belum datang juga.
Tiba tiba Kak Alvin muncul di depan pintu kelas Ify, Ify mengernyitkan dahi kebingungan karena Kak Alvin memanggil dirinya. Ify segera menghampiri Kak Alvin dengan rasa penasaran yang begitu besar.

“Ada apa kak?” Tanya Ify

“Fy, Sivia ngga bisa sekolah hari ini. Dia kesiangan parah ternyata, terus dia ngga mau di hukum” Ujar Kak Alvin, aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul.

“Oh yaudah Kak, aku buatin Sivia surat aja ya bilang dia izin” Usul Ify yang disetujui Kak Alvin dengan acungan jempol.

“Oke makasi ya, Ify!”Seru Kak Alvin sambil berlalu dari kelas Ify.

Kelas tanpa Sivia benar benar sepi, Ify jadi tidak punya teman mengobrol kalau sedang suntuk. Ify menghela nafas panjang lalu mencuri pandang ke bangku Rio yang kosong, sebenarnya alasannya tak betah di kelas selain tidak ada Sivia juga karena Rio tiba tiba menghilang.
Ketika bel istirahat berbunyi Ify langsung berjalan keluar kelas, Ia berniat mencari Rio dan meminta maaf. Ify yakin Rio tidak bolos keluar sekolah karena Rio meninggalkan tasnya di kelas. Ify mencari ke seluruh penjuru sekolah tapi
Ify tidak menemukannya.

Akhirnya Ify menelusuri bagian selatan sekolahnya dan memasuki gedung basket Indoor, Suara decitan sepatu dan
bola basket beradu di lantai membuat Ify bersemangat memasuki ruangan itru. Dugaan Ify benar, Rio sedang ada di sana bermain basket dengan lincah tapi Ify bisa tau dari gerakan Rio kalau Rio bermain sambil melampiaskan amarahnya.

“Rio, kenapa gue ngga pernah bisa ngerti jalan pikiran lo?” Ujar Ify pelan.

Ify duduk di kursi penonton tanpa di ketahui Rio, ia melihat adegan adegan permainan cowok itu seolah sedang menonton film favoritnya. Rio bisa berlari dengan gesit, Rio bisa memutar tubuhnya dengan lincah dan tembakan Rio ke Ring benar benar akurat. Sudah lima belas menit Ify duduk di bangku penonton dalam diam, Ia bahkan tidak menghiraukan bel masuk yang sebentar lagi berbunyi.

Sudah hampir satu jam Rio memutuskan untuk bermain basket di lapangan indoor untuk melampiaskan amarahnya, akhirnya Rio merasa lelah juga. Tembakannya tak lagi akurat, akhirnya kelincahan Rio juga berkurang dan mengakibatkan laki laki itu ambruk. Ify terkejut dan tiba tiba bangkit dari tempat duduknya, ia menghampiri Rio yang terduduk di tengah lapangan.

“Lo ngga apa apa?” Tanya Ify sambil mengulurkan tangannya.

Rio mendongak dan mendapati Ifyy berdiri di depannya membuat amarahnya naik lagi, Ia menepiskan tangan Ify dari hadapannya dan bangkit sendiri. Ify menghela nafas panjang, lalu mengikuti Rio di belakangnya.

“Gue minta maaf kalo udah bikin lo marah” Ujar Ify cepat sebelum Rio meninggalkannya lagi.”Gue minta maaf kalo gue bikin lo badmood, terus lo mutusin buat bolos” Imbuh Ify.

Rio membalik badannya dan menatap Ify lekat, ia berjalan mendekati Ify dengan pasti dan membuat Ify jadi takut sendiri, Ify mencengkram erat roknya karena rasa takut di pandangi Rio seperti itu, Ify takut Rio bersikap kasar padanya.

“Mau lo apa sih?” Ujar Rio tegas.

“Gue Cuma—“ Ify menggigit bibir bawahnya karena takut.

“Mau lo apa?!” Rio mencengkram pundak Ify erat sehingga gadis itu semakin takut.

“Gue pingin lo ngga bolos lagi, gue mau lo ikut kelas dan ngga bolos gara gara kejadian tadi pagi” Ujar Ify takut takut.

“Gue minta maaf  Rio” Lirih Ify. Rio melepaskan pundak Ify lalu berjalan dengan cepat keluar dari lapangan basket Indoor.

“Gue turutin permintaan lo, tapi jangan pernah lo bersikap sok baik sama gue” Ujar Rio sebelum ia keluar dari pintu.

Ify masih mematung di lapangan basket, Ify sendiri merutuki dirinya yang terlalu penasaran pada Rio seharusnya Ify menghindar saja begitu Rio menolak ajakn pertemananya, tapi Ify tetap keukeuh mendekati cowok itu.

“Permisi Pak” Ify memberanikan diri memasuki ruang kelas.

“Kemana saja kamu?” Tanya Pak Herman galak, Ify sudah ketar ketir mendapat respon seperti itu.

“Saya.. saya habis dari—“ Ify mengalihkan pandangannya membari waktu otakknya untuk berfikir, tiba tiba dia melihat
Rio duduk santai di bangkunya dan menatap Ify dingin. “Ruang guru” Ujar Ify tercekat.

“Lain kali, kalau ada perlu izin dulu dengan saya” Ify menghela nafas lega sambil mengangguk pelan.”Sekarang kamu boleh duduk” Ify tak butuh waktu lama untuk duduk tenang di bangkunya lagi.

Ketika pelajaran sosiologi selesai, Bu Kartika guru sejarah Ify memasuki kelas untuk mengisi jamnya. Bu Kartika mengajar dengan santai sehingga anak anak kelas XI IPS jadi semangat mengikuti pelajaran, ketika di akhir pelajaran Bu Kartika memberikan tugas untuk meneliti bangunan bersejarah dengan kelompok dua orang.

Seketika kelas menjadi gaduh karena mencari pasangan masing masing, Ify melirik bangku Sivia yang kosong lalu menghela nafas. Tiba tiba Nova mendekati bangku Ify, Nova melirik bangku Sivia yang kosong.

“Ify lo mau sama Sivia?” Ify tidak menjawab ia masih berfikir. “Kalo ngga, boleh ngga gue sama Sivia soalnya rumah gue kan deketan sama dia jadi gue gampang bikin tugasnya” Ify menimang nimang lalu mengangguk, Ia merasa kasihan juga pada Nova dan sepertinya Sivia tidak akan keberatan.

“Oke deh” Ujar Ify

Ify lalu memperhatikan seisi kelasnya, banyak teman sekelas Ify yang sudah mendapat pasangan dan sibuk menentukan tempat bersama pasangannya. Tapi ada satu orang yang masih duduk acuh di tempatnya, Ify mengumpulkan nyalinya mendekati orang itu sambil meyakinkan dirinya sendiri.

“Rio” Panggil Ify, Rio hanya melirik Ify tanpa menyahut. “Lo udah punya kelompok belum?” Tanya Ify. Rio hanya diam saja membuat Ify benar benar salah tingkah.” Kalo belum lo sama gue ya?” tanya Ify kaku.

“Gue ngga mau” Ketus Rio.

“Tapi—“

“Apa alasan lo mau kelompokan sama gue? Apa karena temen lo itu ngga ada?”Tanya Rio sarkatis.

“Bukan!” Sahut Ify spontan. Rio memicingkan matanya menatap Ify.

“karena gue pilihan terakhir di kelas ini?” Tuduh Rio. “Kalo ada orang lain yang belum punya pasangan apa lo masih
mau sama gue? Cih!” Rio membuang mukanya tidak mau berhadapan dengan Ify, pelan pelan Ify mundur dan kembali  ke bangkunya.

Ify terduduk di mejanya memikirkan kata kata Rio, awalnya Ify memang tidak menemukan pasangan lain dan ia juga tidak tau bagaimana jika Sivia memintanya untuk menjadi partnernya apakah Ify masih memilih Rio yang sudah menolaknya terang terangan.
***
Ify memijat keningnya yang terasa berat, semalam ia tidak bisa tidur gara gara perkataan Rio. Padahal pertanyaan Rio sederhana tapi mampu membuat Ify tidak bisa tidur semalaman.

“Ify!” Seru Sivia.

“Hai, lo ngga kesiangan lagi kan?” Canda Ify, Sivia mengkrucutkan bibirnya manyun.

“Ih Ify!” Gerutu Sivia.

“Eh iya, Via. Kita ada tugas sejarah lo berkelompok”Ujar Ify.

“Kelompok? Gue sama lo ya?” Tanya Sivia. Ify menggeleng lemah.

“Lo sama Nova. Ngga apa apa kan?” Tanya Ify.

“Ngga sih, terus lo sama siapa kalo gitu?” Ify menggeleng lemah. “Kalo gitu kenapa ngga lo aja yang sama gue,
lagian waktu kelas X kita cukup sering sekelompok kan” Ify tersenyum lemah mendengar tawaran Ify.

“Kenapa lo mau kelompokan sama gue?” Pancing Ify.
Sivia mengernyitkan dahinya bingung atas pertanyaan Ify “ya karena gue ngerasa nyaman aja kerja bareng lo” Ujar Sivia.

“Kalo sama yang lain gimana, seandainya gue ngga sekelompok sama lo?” Tanya Ify serius.

“Yah gimana ya, mungkin aku bakal ngga ngerasa nyaman Fy. Kan tiap orang beda beda” Ify menghentikan langkahnya mendengar kata kata Sivia, Ia tahu apa alasannya.

“Via, lo duluan ke kelas ya!” Seru Ify.

“Eh kenapa?” Belum sempat Ify menjawab Ify sudah berlari menjauh. Sivia menghela nafas lalu melangkahkan kakinya ke kelas.

Ify mengatur nafasnya yang sesak habis berlari, ia melirik jam tangannya sambil melihat ke gerbang sekolah. Sudah cukup lama waktu berlalu tapi orang yang di tunggu Ify tidak datang juga, ketika Ify hendak kembali ke kelas suara bising motor mengagetkan gadis itu.

“Hei kamu! Dasar anak nakal, kecilin suara motor kamu atau saya lapor Ke Pak Hendra” Teriak Mang ujang, satpam sekolah Ify.

Ify menatap pengemudi motor itu lalu berlari ke tengah jalan, ia tidak memperdulikan motor itu sedang melaju di depannya. Seementara Rio yang tengah mengemudikan motor melihat Ify di depannya merasa tertantang, ia berniat membuat gadis itu takut dan menyingkir sendiri.

Tapi Rio salah, Ify tetap bertahan di depannya tanpa menghindar sedikitpun dengan paksa Rio menarik remnya ketika ban motornya tinggal sejengkal dari Ify. Rio membuka helm dengan kesal dan menatap Ify galak.

“Ngapain lagi sih lo? Dasar cewek aneh, minggir lo!” Bentak Rio. Ify membuka matanya yang tadi ia pejamkan karena takut.

“Gue.. Cuma mau nanya sekali lagi sama lo, lo mau ngga jadi partner sejarah gue?” Tanya Ify takut, Rio tertawa garing lalu menatap gadis itu remeh.

“Ngga, bukannya lo sendiri ngga punya alasan jelas buat jadi kelompok gue, Ha?!” Ify menundukan kepalanya mendengar kata kata Rio.

“Gue punya kok” Sahut Ify, Rio turun dari motornya dan mendekati Ify.

“Apa? Karena lo ngga punya temen lagi?” Tanya Rio remeh.

“Bukan, tapi karena gue ngerasa bakal nyaman satu kelompok sama lo. Waktu gue liat lo masih belum dapet kelompok entah kenapa gue kepikiran buat satu kelompok sama lo” Jawab Ify, Rio tercengang mendengar perkataan Ify.

“Bullshit” maki Rio, Ify tidak menjawab. “Buat apa sih lo susah susah ngelakuin ini buat gue. Ngga penting banget!” Geram Rio.

“Buat gue penting… Tugas kelompok ini penting, karena gue yakin sama lo gue pasti bisa nyelesein tugas ini” Ujar Ify
yakin, Rio mendegus kesal ternyata cewek ini keras kepala juga.

“Liat aja, lo pasti nyesel satu kelompok sama gue!” Ancam Rio, Ify tersenyum sekilas.”Awas ya lo sampe nyembah suapaya berhenti satu kelompok sama gue” Ancam Rio sekali lagi, Rio segera menaiki motornya dan berlalu dari
hadapan Ify.

“Itu artinya kita satu kelompok kan Rio?” pekik Ify, Rio tidak menjawab malah mengemudikan motornya semakin jauh.

Ify tersenyum karena akhirnya ia berhasil satu kelompok dengan Rio, Ify tau Sivia lebih mau bekerjasama daripada Rio tapi apapun hasilnya nanti Ify tidak akan menyesal berkelompok dengan cowok dingin itu.
“Via, sorry ya” Ujar Ify ketika ia sudah sampai di kelas.

“Lo kemana sih tadi?” tanya Sivia keki. Ify hanya nyengir kuda tidak menjawab pertanyaan Sivia.

“Ngga kemana mana kok” Bohong Ify, Sivia tidak menyaut lagi setelah Bu Mei masuk ke kelas mereka.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi Kak Alvin sudah stay di depan pintu kelas Ify, Sivia segera menghampiri kak Alvin diikuti Ify di belakangnya. Kak Alvin tersenyum ramah kepada mereka berdua.

“Tumben nih Kak Alvin mau jemput ke kelas” Sindir Sivia.

“Yaudah besok ngga aku cari deh” Goda kak Alvin, Sivia memukul lengan kakanya itu ringan.

“Awas aja kalo berani”Ancam Sivia. Ify hanya tertawa melihat tingkah kakak adik yang satu itu.

“Eh Ify mau bareng kita ngga?” Tawar kak Alvin.

“Iya Fy, lo bareng kita aja”usul Sivia. Ify hanya menggeleng.

“Makasi ya, tapi aku udah janji pulang bareng Ayah nih” Tolak Ify.

“yaudah kalo gitu kita duluan ya Fy” pamit Sivia, Ify mengangguk lalu melambaikan tangannya.

Ify berjalan sendirian di bawah koridor sekolahnya menuju ke gerbang depan, tiba tiba Ify melihat Rio sedang berbicara dengan seorang anak laki laki di koridor memilih diam dan menonton adegan tersebut. Rio nampak geram dengan anak itu dan mencengkram erat kerah baju anak itu.

“Udah gue bilang kan, jangan cari masalah sama—“

“Rio! Udah Rio, ini sekolahan!” Cegah Ify, Rio melepaskan kerah baju anak laki laki itu dengan kasar.

“Apaan sih lo!” Bentak Rio.

“Rio, ini sekolah, lo bisa kena masalah” Ify mencoba memperingatkan Rio, tapi Rio memandang Ify tidak suka.

“Kenapa sih lo ngga pernah berhenti ganggu gue?” Tanya Rio frustasi. “Bisa ngga barang sedetik aja lo ngga usah
ikut campur apa urusan gue” Tambahnya, Ify diam sambil menggenggam erat kedua tangannya.

“Maksud gue kan supaya lo ngga kena masalah” Ujar Ify pelan.

“Terserah lo deh! Gue banyak urusan” Rio hendak pergi tapi Ify cepat cepat menahan tangan Rio. “Kenapa lagi? Masih belum puas lo ganggu gue?”Tanya Rio sarkatis.

Ify menggeleng lalu mengeluarkan kertas dan bolpoint dari dalam tasnya dan menyodorkan kepada Rio.”Gue minta nomor ponsel lo ya”Pinta Ify, Rio menjauhkan kertas dan bolpoint itu dari hadapannya.

“Mau lo apa sih?” Gerutu Rio keki.

“Kita kan satu kelompok jadi harus saling ngasi tau kalo ada apa apa, lagian ini Cuma buat tugas kok. Janji” Ify meletakan jari telunjuk dan jari tengah di depan wajahnya.

“Gue ngga mau, apapun alasan lo” Keukeuh Rio

“kalau gitu gue bakal terus pegang tangan lo sampe lo ngasi” Ancam Ify, Rio tertawa pelan lalu menatap gadis itu tajam.

“Lepasin tangan gue” Paksa Rio, Ify semakin memperat pegangannya.

“Ngga sebelum gue dapet nomer lo” Tuntut Ify.

“Gue bisa aja berbuat kasar sama lo, kaya gue memperlakukan anak tadi” Ify menelan ludahnya ketakutan tapi ia
masih belum gentar.

“Gue tau kok lo ngga mungkin ngelakuin itu” Rio menghentakan tangannya dengan kasar, sehingga cengkraman Ify melonggar dan terlepas. Ify meringis kesakitan.

“Siapa bilang?” Rio menatap Ify tidak peduli pada ringisan gadis itu. “Dasar cewek manja” maki Rio.

Rio segera berlari mengejar mangsa yang sudah kabur darinya, sementara Ify masih diam disana melihat Rio
menghilang dari pandangannya. Kalau Rio tidak mau memberikannya, mungkin TU akan dengan suka rela nomor ponsel Rio pada Ify. Sebenarnya gadis itu baru terpikir soal caranya ia mengontak Rio jika mereka akan meneliti bersama. Tapi apa Rio mau ikutt meneliti? Ify menghela nafas lelah lalu masuk ke mobil ayahnya yang sudah menunggu di gerbang
***
“Permisi Bu” Sapa Ify

Petugas di balik komputer itu mendongakan kepala dan mengangguk begitu melihat Ify berdiri di depan pintu. Pelan pelan Ify berjalan mendekat ke arah wanita paruh baya itu untuk menyampaikan tujuannya datang ke sini.

“Maaf Bu, saya butuh data siswa atas nama Mario Pratama. Apa ibu bisa membantu saya?” Tanya Ify sopan

“Baiklah saya carikan dahulu, sebaiknya kamu menunggu sebentar” Ujar wanita itu

Ify duduk di salah satu kursi di ruang TU selama sepuluh menit, sedangkan petugas TU yang Ify mintai tolong sedang asik tenggelam bersama ribuan data Siswa SMA Putera Bangsa.

“Silahkan, ini datanya bisa diambil” Petugas itu membuyarkan lamunan Ify.

“Terimakasi, Bu” Ujar fy tulus, ia lalu mengambil kertas yang di letakan di meja dan mulai menelitinya.

“Gotcha! Aku dapat nomernya”Ujar Ify bahagia.

Malam harinya Ify sedang menimang nimang kertas yang di berikan petugas TU tadi serta handphonenya sendiri, Ify sedang bingung apakah ia harus menelfon Rio sekarang atau besok saja? Tapi Ify ingin memastikan nomer ponsel itu.

“Halo?” Ify tersentak ketika ia mendengar suara dari ponselnya.

“Ha..Halo” Gagap Ify.

“Siapa nih?” Ify menggigit bibir bawahnya lalu memejamkan matanya.

“Ify—temen sekelompok lo. Lo inget?” Tanya Ify takut.

“Nggak!” Sambungan telefon langsung di putus sepihak ooleh Rio.

Ify berdecak kesal, ia menyesal memutuskan untuk menghubungi cowok dingin itu akibatnya Ify harus makan hati lagi dan lagi. Ify merutuki ponselnya yang tidak berdosa lalu tiba tiba benda itu berkedip tanda ada pesan masuk.

/Dari mana lo tau nomer gue?!/

Ify mengernyitkan dahi, ternyata Rio mengirim pesan untukknya.

/Maaf, karena lo ngga ngasi jadi gue minta di TU/

Ify segera menekan tombol send di handphonenya, tak lama kemudian pesan balasan dari Rio masuk ke ponsel Ify.

/Awas lo nelfon gue buat hal hal yang ngga berguna. Mati lo/

Ify mendengus melihat  balasan Rio, cowok itu benar benar dingin dan menyebalkan tapi jauh di dasar hati Ify ia sama sekali tidak benci pada Rio, ia tidak sakit hati setiap kali cowok itu membentak atau menghinanya karena sepertinya Ify mulai bisa menerima sikap Rio, apapun itu.

@Ossiwidiari_

0 komentar:

Posting Komentar

 

EYES OPEN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review