Lima Belas
Rio berlarian
menyusuri rumah itu, kemana ia harus mencari Ify? Ia yakin Ify masih disini gadis itu mungkin
di salah satu ruangan rumah ini. Rio berlari ke belakang rumah, kakinya
berhenti sampai di halaman belakang, mendadak tubuhnya lemas melihat gadis itu
terikat di tepian kolam berenang. Miranda mungkin akan menenggelamkan Ify, Rio
harus menolongnya sebelum terlambat tetapi
tubuhnya begitu lemas.
“Selamat datang, Rio” Rio menoleh dan mendapati Miranda ada
di hadapannya tersenyum licik.
“Mencari sesuatu huh?” Rio mendelik.
“Lepaskan dia”Geram Rio tetapi Miranda hanya tertawa
meremehkan.
“Tidak akan, sebelum kalian mati” Sahut Miranda dengki
“Apa yang kau inginkan? Ambil saja semua harta ku!” Rio
menatap Miranda tajam.
“Terlambat, sekarang aku tidak hanya menginginkan
hartamu.Tapi nyawamu!” Balas Miranda
“Kenapa kau begitu jahat pada keluarga ku? Kau bahkan
membunuh anakmu sendiri”
“Diam!” Pekik Miranda.
Rio menatap Miranda galak, perempuan ini benar benar tidak
waras.
“Kau anak sialan tidak tau apa apa, kau sama bodohnya dengan
Ibu mu”Geram Miranda
“Jangan menghina Ibu ku! Dia jutaan kali lebih baik darimu”
Pekik Rio.
“Kau dan lelaki tua Bangka itu sama saja, selalu membela
wanita itu” Keluh Miranda
“Itu karena kau tidak ada apa apanya di banding Ibuku” Ujar
Rio.
“Aku heran kenapa Ayah ku punya adik sepertimu”Rio menatap
Miranda meremehkan.
“Apa maksudmu?!” Pekik Miranda marah.
“Kau begitu jahat” Potong Rio enteng
“Dia menyayangiku” Ujar Miranda dengan menggebu gebu.
“Meskipun dia menyayangimu, dia masih lebih mencintai Ibu ku
kan? Jadi selama ini kau iri pada Ibu
ku?”Ejek Rio.
Miranda maju dan mendekatkan dirinya pada Rio, Ia berbisik
di telinga Rio.
“Kalau benar begitu baiklah”Ujarnya licik
“Tapi apa Ibumu bisa membuatmu melakukan ini?” Rio merasakan
bulu kuduknya merinding.
“Lepaskan gadis itu!”Pekik Miranda.
Rio melihat tali pengikat tangan kiri Ify di lepas, hanya
tali pengikat tangan kanan yang masih terikat kuat.Ify bisa celaka kalau
tercebur di kolam itu tanpa sadar, Ify bisa mati tenggelam.
“Cukup!” Desis Rio. “Katakan saja apa keinginanmu”
“Sudah aku bilang kan! Aku ingin nyawamu dan gadis itu!”
“Brengsek!” Maki Rio. “Kau wanita kejam! Pantas saja ayahku tidak pernah menganggapmu!”
“Jaga Bicaramu! Atau kau lebih suka gadis itu
mati,Hah!”Bentak Miranda.
“Ayahmu dulu begitu menyayangiku, dia benar benar menjadi
kakak yang selalu melindungiku”Miranda
menatap ke atas menerawang.
“Tetapi semenjak menikahi Ibumu dia tidak pernah lagi peduli
denganku, bahkan ketika suamiku meninggal
ia acuh terhadapku apalagi sejak
Ibumu mengandungmu”Geram Miranda.
“Tahukah kau, sejak
saat itu aku mulai membenci mu.Bahkan sebelum kau ada”Miranda tertawa licik.
“Oleh karena itu, aku berniat membunuhmu.Tetapi hanya Ibumu
yang mampu ku singkirkan”Mata Rio
membelalak, Ia maju selangkah dan menampar
pipi Miranda berani.
‘Plak!’ Miranda meringis memegangi wajahnya.
“Beraninya kau membunuh Ibuku!Kau kejam!”Maki Rio.
“Tidak! Wanita sialan itu lebih kejam, dia merebut segalanya
dariku. Bahkan anakku Steve!” Nada suara
Miranda meninggi.
“Aku tidak pernah ingin membunuh anakku sendiri, tapi Steve
terus membela wanita itu. Ia ingin
melaporkanku karena membunuh wanita sialan
itu”Suaranya berubah lirih.
Rio masih diam mematung ia tidak tau harus bagaimana, Ia
ingin melakukan sesuatu pada Miranda tetapi
keselamatan Ify bisa terancam.Sial!
“Steve ku yang malang…”Racau Miranda. “Sebenarnya Steve
begitu mirip denganmu, Rio. Kadang aku melihatmu seperti dirinya, kau tahu?” Miranda
membelai pipi Rio sekilas.
“Tetapi semenjak kematian Steve Ayahmu semakin tidak
memperdulikanku, Ia lebih memilihmu daripada aku dan Gabriel,Padahal seharusnya
dia memperhatikan adiknya yang sendirian ini!”
“Lalu mengapa kau menginginkan Ify?”Desis Rio.
“Itu karena Alyssa, kakak Ify yang melaporkanku ke polisi!
Gadis sialan itu begitu licik, ia melaporkanku karna membunuh Steve.Untungnya
ia begitu bodoh tidak memastikan siapa yang ada di penjara itu, ahh itu karena
aku sudah lebih dulu menghabisinya”
“Kau begitu kejam!Aku kasihan padamu, kau begitu kesepian.”Gumam
Rio menantang.
“Bukannya kau juga sama? Setelah Ayahmu meninggal memangnya
siapa yang ada di sampingmu?”Ejek Miranda.”Aku sebagai tantemu bahkan membuangmu begitu saja, kau sama
kesepiannya bukan?”Miranda tersenyum licik.
Rio mulai merasakan amarahnya naik, seenaknya saja Miranda
menyamakan dirinya dengan wanita kejam itu. Rio mencengkram erat pergelangan
tangan Miranda dengan geram.
“Aku tidak sama sepertimu, Aku senang Ayahku tidak peduli
padamu. Kau tidak pantas dihargai, kau Hina!”
“Bunuh anak itu!”Pekik Miranda.
Rio langsung reflek mendorong tubuh Miranda kuat kuat, dan
berlari secepatnya menuju Ify. Rio takut terlambat, ia harus segera berenang
menyelamatkan Ify. Tidak ada pilihan lain.
***
Gabriel mengerjapkan
matanya pelan pelan, Ia menemukan sosok Cakka dan Agni yang terikat tidak
berdaya. Gabriel meraih salah satu pecahan kaca dan membuka ikatan mereka. Gabriel
meraba pelipisnya yang terasa perih, bagaimana dengan yang lain? Apakah mereka
terluka seperti dirinya?
“Gabriel?” Gabriel menoleh pada Agni yang sudah sadar, gadis
itu memegangi lengannya yang sakit setelah terikat.
“Ada apa dengan Cakka?”Tanya Agni melihat sosok Cakka masih
berbaring di sebelahnya.
“Dia belum sadar, mungkin sebentar lagi”Ujar Gabriel.
“Cakka…”Agni menepuk pelan pipi Cakka kemudian dibalas
erangan lirih Cakka
“Kepalaku terasa berat”Keluh laki laki itu.
“Apa kau bisa berjalan?”Tanya Gabriel cepat.”Kita harus
menolong yang lainnya” Ujar Gabriel tegas.
“Baiklah, aku akan berusaha”Balas Cakka.
Mereka bertiga menyusuri rumah itu mencari jalan keluar
untuk memanggil bantuan, Gabriel sedikit heran melihat tidak ada penjaga di
rumah itu. Kemana perginya semua orang? Mungkin Rio berhasil memanggil polisi
dan menangkap Miranda, Gabriel mencoba mensugesti dirinya sendiri.
“Ini aneh” Gumam Cakka.
“Diamlah, jangan banyak bicara” Gerutu Agni.
Gabriel mendesis saat menyusuri tangga, ia mendengar suara
suara dari bawah sana. Mungkin anak buah Miranda, jantungnya berdegup kencang .
Gabriel mengisyaratkan Agni dan Cakka untuk diam.
“Ssts..Coba dengarkan” Bisik Gabriel, mereka menuruni anak
tangga itu dengan hati hati sambil mengendap ngendap.
“Si..siviaa”
Gabriel dan yang lainnya mematung di anak tangga terakhir,
mereka terpaku menyaksikan sosok bersimbah darah itu. Alvin masih saja terisak
memeluk tubuh mungil Sivia.
“Via…”Lirih Agni tidak percaya.
“Apa yang terjadi Alvin? Ayo kita bawa Sivia ke rumah
sakit!” Perintah Gabriel.
“Ayo Alvin cepat bawa dia, mungkin masih ada harapan untuk
menyelamatkannya”Ujar Cakka.
“Denyut nadinya masih ada, tapi lemah!”Gabriel memegangi
pergelangan tangan Sivia.
“Via sadar..Via”Lirih Agni.
“Ayo!”Gabriel menarik
kasar tubuh Alvin dan Cakka segera mengambil tubuh Sivia.
***
“Apa yang akan Ibu
lakukan?” Perlahan ia mulai merasakan dinginnya air danau itu.
“Bukannya seharusnya
aku yang mengatakan itu? Apa yang kamu lakukan? Memberi tahu Pamanmu kalau aku
yang membunuh wanita itu?”Terdengar suara tawa renyah di kegelapan malam.
“Bodoh! Anak bodoh!
Aku melakukan semua itu untukmu! kita bisa mendapatakan harta pamanmu”Pekik suara itu.
Pemuda itu masih
berdiri gentar di dekat danau, ia tidak bisa lari kemana mana.
“Tapi itu salah, itu
tidak akan merubah apapun. Aku tidak ingin hartanya,aku—“
“Diam kau!” Pekik
suara itu.
“Kalau kau terus
membelanya kenapa kau tidak menyusulnya saja”
Tiba tiba perasaan dingin dan sesak menyerang Rio, Rio tidak
bisa mendekati kolam itu. Ia tidak bisa berenang, tiba tiba kepalanya pening
setiap kali ingin berenang. Tapi tubuh Ify tidak berdaya terus menuju dasar
kolam itu. Ify bisa mati, Rio terus berperang dengan dirinya sendiri. Mau tidak
mau Rio harus bisa melawan ketakutannya sendiri.
Rio masuk ke dalam kolam itu dengan kepala luar biasa
pening, Rio takut tenggelam tetapi ia lebih ttakut kehilangan Ify, dengan mata
terpejam dan dada sesak ia menggapai gapai di air mencari cari tubuh Ify. Rio
merasa frustasi karena tidak dapat menemukan Ify sementara nafasnya serasa
mulai habis. Ia tidak kuat lagi.
“Steve!”
Rio mengerjapkan matanya bingung, tetapi ia melihat sosok
Ify. Apa ia sudah mati?
“Steve bertahanlah”
Rio ingin membuka mulutnya dan bicara kalau ia bukan Steve.
“Kau?” Rio mengernyit heran, kenapa kata kata ini yang
keluar dari mulutnya. Ia tidak bisa bicara kata kata lain. Ini seperti sudah di
gariskan, seperti sudah terjadi sebelumnya.
“Bertahanlah, Ku
mohon..” Gadis di depannya mulai menangis, Rio meneliti wajahnya. Ia mirip
dengan Ify tetapi ada yang lain darinya.
“Alyssa, aku tidak
kuat lagi”Rio tertegun. Dia memang bukan Ify, tetapi apa yang di lakukan
Alyssa disini.
“Ku mohon bertahanlah”
Rio tiba tiba terbangun dengan dada yang luar biasa sesak,
ia masih ada di kolam itu ia bisa mengenalinya walaupun matanya mulai buram.
Rio berusaha mencari cari Ify lagi, lama lama di rasakannya tangan dingin Ify
dalam genggamannya. Rio sekuat tenaga berenang ke atas melawan rasa sesak di
dadanya.
Rio mendapat sedikit semangat ketika ia melihat cahaya di
atasnya semakin mendekat, tangan Ify ia genggam lebih erat kemudian dia memaksa
tubuhnya semakin ke atas. Rio sudah kehabisan nafas, mungkin dadanya sudah
terisi air tetapi sedikit lagi dia sampai dan ia bisa menyelamatkan Ify. Rio
mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh Ify ke permukaan dan ketika
Rio sedikit merasakan oksigen memenuhi paru parunya semuanya terasa berat.
“Apa ia harus mati
lagi sekarang?” Batin Rio bersua di kegelapan.
Rio tidak ingin mati, rasanya ada banyak hal yang masih
belum ingin ia selesaikan. Tetapi ia takut tidak sanggup lagi.
“Kita tidak bisa
menentang takdir” Rio berusaha membuka matanya ketika ia mendengar suara
Ify.
Rio dapat melihat cahaya di sekelilingnya, tidak terlalu
terang tetapi menghangatkan. Kunang kunang. Otak Rio berfikir dengan cepat
mengenali tempatnya sekarang. Sepertinya ia pernah kemari, ia kenal
danau ini.
Ia kenal pepohonan di sini. Bukit itu, tempatnya pergi dengan Ify.
“Untuk apa aku
disini?” Rio bertanya dalam hati.
“Kita tidak bisa menentang
takdir’Lirih gadis itu lagi, Rio melihat mata gadis itu begitu sayu menatapnya
seolah mereka tidak akan bertemu lagi, entah darimana datangnya perasaan itu
tiba tiba Rio takut kehilangan sosok itu
“Memang tidak, tapi percaya padaku
takdir yang akan mempertemukan kita lagi” Rio meyakinkan gadis itu, Rio menatap
gadis itu dalam dan ia yakin itu Ify perasaan takut kehilangan itu semakin
nyata
“kau berjanji?”Tanya gadis itu
ragu.
“Aku pasti akan menemukanmu tidak
perduli kau di sembunyikan takdir yang aku harus ingat di kehidupan lain aku
hanya harus mencarimu”Ucap Rio tegas.
“kalau begitu kita bertemu di kehidupan
lain”Gadis itu tersenyum miris.Rio dapat merasakan kepedihan senyum itu, tadi
mengarahkan tanganya ke puncak kepala gadis itu dan menyandarkannya di bahunya
Beberapa saat kemudian Matahari mulai
merangkak naik, gadis itu menegakan kepalanya yang sedari tadi bersender di
bahu pemuda itu untuk yang terakhir kalinya ,meski setengah mati berharap
jangan sampai ini yang terakhir,ia harus bisa mempercayai janji lelaki
tadi.Begitupun laki laki itu yang berharap dengan sangat bisa menepati
janjinya,mengikuti alunan nyanyian takdir.Biarkan takdir yang membawanya
sekarang.
“Selamat tinggal
Alyssa” Suara dari mulutnya membuat Rio bingung. Lagi lagi dia bicara dengan
Ify tapi ia mengatakan itu Alyssa.
“Apa yang terjadi?”Bisik Rio lirih
***
“Apa yang terjadi?” Bisik Rio
“Rio?” Gabriel bangkit dari tempat duduknya menghampiri tempat tidur Rio.
“Kau sudah sadar?” Tanya Cakka.Rio hanya mengerang parau.
“Syukurlah” Ujar Agni.
“Ify mana?”Todong Rio.
“Tenang Rio, Ify selamat. Dia sedang keluar, katanya ke
suatu tempat” Jawab Agni.
“Miranda?”Geram Rio
“Tenang lah, setelah kami keluar dari sana kami langsung
menelpon polisi.Dia sudah di tangkap”Ujar Gabriel ringan.
Rio menatap Gabriel dengan tatapan menilai, apa yang di
lakukan anak itu? Memenjarakan Ibunya sendiri? Gabriel menatap lurus kedepan,
ia terlihat begitu yakin dengan apa yang ia lakukan.
“Gabriel, kau tinggal dimana sekarang?” Tanya Rio pelan.
“Entahlah, tapi asrama kedengarannya bagus. Kalau aku sudah
kulaih mungkin aku—“
“Bagaimana kalau bersamaku? Aku juga tidak tinggal dengan
siapa siapa.Aku rasa—“
“Baiklah,itu juga masuk pertimbanganku” Ujar Gabriel singkat
sambil tersenyum miring.
Rio merasa lega dalam hati, Gabriel sudah kembali seperti
dulu. Gabriel teman masa kecilnya sebelum anak ingusan itu berubah jadi laki
laki menakutkan yang dingin. Gabriel mungkin sama seperti Rio, sama sama
kesepian.
“Ngomong ngomong, aku ingin ke suatu tempat..”Ujar Rio.
***
Ify merasakan matahari semakin condong ke barat, langit
mulai menyisakan semburat jingga dan kelam. Malam ini ada cukup banyak bintang,
Ify tidak perlu khawatir akan turun hujan. Ify memandangi danau di depannya
sambil menghayal, pikirannya jauh melayang
ke dalam danau itu.
Satu satu cahaya kunang kunang mulai berdatangan, entah apa
yang Ify tunggu ia sendiri tidak yakin. Mungkin laki laki itu akan datang,
itupun kalau ia punya keyakinan yang sama dengan Ify. Semenjak ia bangun dari
pingsannya, Ify merasakan sesuatu yang harus di buktikannya, untuk itu ia
disini mencoba mencari kebenaran yang disimpan waktu.
“Ify?” Ify menoleh dan mendapati Rio disana, entah kenapa
hatinya lega.
“Sedang apa disini?”Tanya Rio.
“Entahlah, aku sendiri tidak tau” Ujar Ify sambil
tersenyum.”Bagaimana denganmu?” Tanya Ify
“Aku pikir aku sekarang seharusnya kesini,entahlah..”
Rio menatap Ify lama, kemudian menghela nafas panjang. Ia
mungkin gila karena mendengar Ify memanggilnya Steve, tapi ia penasaran mengapa
Ify bisa memanggilnya seperti itu.
“Sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan padamu” Ujar Ify.
“Aku juga”Sahut Rio cepat.
“Baiklah aku ingin mendengarmu dulu” Sela Ify.
“Apa..kau pernah memanggilku Steve saat kita ada di
kolam?”Tanya Rio,Ify menggeleng pelan.
“Tapi aku mendengarmu meneriaki nama itu padaku, ku kira
kamu pasti memanggilku begitu. Tapi kelihatannya sangat—“
“Apa kamu tidak bisa berenang?”Potong Ify
“Iya..”Jawab Rio
“Kenapa?”
“Entahlah, tapi dari dulu aku tidak berani berenang. Aku
takut tenggelam—“
“Takut tenggelam tapi tidak pernah mencoba,aneh”Gumam Ify.
“Kenapa kemarin kamu berenang menyelamatkanku?”Todong Ify.
“Bukannya sudah jelas, Aku takut kehilanganmu” Jelas Rio.
“Bukannya dulu kau berniat menjauh dariku? Kenapa tidak kau
lakukan lagi”Desis Ify
“Karna aku benci melakukannya”Ify mendelik ke arah Rio.
“Kenapa kau selalu seenaknya datang dan pergi,Rio! Kenapa?!
“Bentak Ify.Rio memating mendengar ucapan Ify,hatinya merasa pedih.
“Aku benci diperlakukan seenaknya Rio,kalau dulu kau pergi
dan sekarang kau kembali kenapa tidak aku saja yang pergi sekarang jadi kau
tidak akan kembali kan?”Rio menahan nafas mendengar kata kata Ify.
“Aku pergi ya,Rio”Ify tersenyum pada Rio kemudian berbalik
pergi.
“Tunggu!”Tahan Rio, laki laki itu memegangi tangan Ify. Ify
membalik tubuhnya dan menatap kosong pada tangannya yang di genggam Rio.
“Ku mohon jangan pergi, aku janji tidak akan kemana mana
lagi” Pinta Rio, Ify mengerjapkan matanya membiarkan air matanya jatuh.
“Aku sudah pernah kehilanganmu, aku tidak ingin kehilanganmu
lagi”Rio menatap mata basah Ify.
“Ku mohon, jangan biarkan aku mengulangi ke salahanku
lagi”Ujar Rio.
“Rio aku—“
“Percaya padaku,tolong” Rio mendekatkan tubuhnya pada Ify
dan memeluk gadis itu.
“Aku memang egois, aku kira Gabriel bisa membahagiakanmu.
Tapi aku sadar aku hanya menyakiti
hatimu.Aku minta maaf Fy”Gumam Rio.
“Maukah kau bersamaku sampai matahari datang Rio?”Pinta Ify.
“Kalau kau percaya padaku, aku akan menemanimu bahkan sampai
matahari tenggelam dan datang lagi esok hari, begitu seterusnya”
“Kalau aku percaya padamu, akankah kau disini selamanya?”Rio
mengangguk kecil dan Ify mulai memejamkan matanya.
“Aku takut kehilanganmu lagi”Lirih Ify.
Ify membiarkan hatinya bicara, ia menghilangkan keraguannya
pada Rio. Rio mungkin pernah pergi, tapi Ify tau entah mengapa laki laki itu
pasti akan datang kembali. Ify yakin itu.
“Aku tidak akan pernah pergi lagi Fy”Bisik Rio.
Ify mengerjapkan matanya yang terasa berat, entah berapa
lama ia tertidur. Ify mengamati sekelilingnya dan hatinya menghangat melihat
Rio masih ada di sisinya. Ify mengelus wajah pemuda itu sambil tersenyum, Rio
menepati janjinya.
Ify melihat semburat kemerahan di sebelah timur, kemudian
mengalihkan pandangan ke sekelilingnya. Entah mengapa Ify bahagia, melihat
semua ini Ify merasa tenang. Seperti hal yang sudah lama ia nantikan.
“Sudah pagi, aku masih di sini bukan?”Ify menoleh dan menatap
Rio yang sedang tersenyum padanya.
“Rio, akhirnya kau kembali”Gumam Ify.”Rasanya sudah lama
sekali kau berjanji akan kembali”
Rio menatap Ify dalam, rasanya dia sudah benar benar
merindukan Ify selama ini.Rio memejamkan matanya mendengarkan detakan
jantungnya dan teriakan hatinya yang bahagia.
“Disini dulu aku
pernah berjanji akan menemuimu lagi, di kehidupan lainnya.Alyssa, sekarang aku
datang” Rio menatap Ify sambil menggengam tangan gadis itu, bibirnya bicara
tidak masuk akal tapi Rio tahu selama ini kata itulah yang ia tunggu.
“Aku tau kau pasti
menepati janjimu Steve” Ify tau, Rio akan menepati janjinya di kehidupan
dulu.Sekarang Rio datang, Stevenya datang.
***
Bau tanah basah tercium di hidung Alvin, laki laki itu masih
setia menunggui makam Sivia. Alvin tidak akan pernah bisa memaafkan
kebodohannya, Alvin sudah kehilangan Sivia selamanya. Ia terlambat. Alvin
mengelus nisan Sivia dengan sayang.
“Via.. maafkan aku”Bisiknya
“Andaikan aku bisa menjagamu”Sesal Alvin.
Alvin menegadahkan kepalanya ke atas, menatap awan yang
kelabu di atas sana. Via disana, ada jauh di atas Alvin dan ia tidak bisa
menggapai gadis itu. Alvin benci kenyataan, Via sudah pergi dan ia tidak punya
kesempatan memperbaiki kesalahannya.
“Kalau di kehidupan ini aku tidak bisa menjagamu, maukah di
kehidupan lain kau membiarkan aku menjagamu?”Ujar Alvin.
Hujan mulai turun lagi, ttapi kali ini Alvin lega. Hatinya
tidak menangis seperti sebelumnya walaupun ia kehilangan Via untuk selamanya
tapi hatinya merasa teduh kali ini, mungkin hujan jawaban untuknya atas
persetujuan Tuhan memberikan ia kesempatan kedua. Di lain waktu tentu saja.
-Tamat-



0 komentar:
Posting Komentar