Sabtu, 17 Agustus 2013

Another Life l Empat Belas

Diposting oleh Ossi Widiari di 23.08


 EMPAT BELAS






Sivia merebut paksa ponselnya dari Gabriel,ia memekik dengan putus asa “Jangan…jangan kemari!” Sivia meraung frustasi,ia tidak ingin Alvin terlibat dalam masalah ini juga.Alvin bisa saja jadi tawanan Miranda juga,pikiran buruk mulai menghantui Sivia,ia melihat Gabriel marah “Kau jahat Gabriel! Biarkan saja dia disana” Isak Sivia.Sivia terduduk lemas,ponselnya terlepas dari genggaman ia menelungkupkan wajahnya frustasi.

“Maaf..Sivia,tapi ini jalan terbaik”Gumam Gabriel.

‘Brak’ Gabriel dan Sivia bersamaan menoleh ke arah pintu.

‘Mau apa kalian?”Desis iel tajam.

“Jangan banyak omong kau!”Orang itu menggebrak pintu “Cepat kurung mereka!”Orang tadi Memanggil temannya dan memberikannya tali panjang.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang!’’ Isak Sivia, Gabriel memandang kedua orang itu waspada.

“Sivia, cepat ke belakangku” Desis Gabriel. Sivia pelan pelan berjalan ke belakang Gabriel.

“Ambil kayu itu” Bisik Gabriel “Pukul saat aku beri aba aba”

Sivia mengambil kayu itu dengan takut takut, dua orang itu masih sibuk dengan Agni dan Cakka. Ketika mereka mendekat, Gabriel mengawasi mereka lekat lekat.

“Sekarang!”Pekik Gabriel, laki laki itu langsung menunduk dan Sivia mengayunkan balok kayu itu kedepan sekuat tenaga.

“Sialan!”Pekik salah satu laki laki bertubuh kekar yang terkena hantaman kayu itu.

“Cepat lari!” Geram Gabriel, Sivia segera menyambar gagang pintu.


“Tidak Cakka! Jangan sakiti dia” Gabriel menyambar kerah baju laki laki yang lolos dari hantaman Sivia. 

“Jangan sentuh dia,brengsek!” Gabriel mengarahkan tinjunya tepat ke arah rahang orang itu sehingga laki laki itu tidak jadi mengarahkan pisau ke arah Cakka.

“Kurang ajar kau”Laki laki itu balas mengarahkan pukulannya ke Gabriel. “Edo bangun kau!” Geramnya pada temannya yang jatuh tersungkur.

“Sivia cepat pergi dari sini, biar aku yang menjaga Agni dan Cakka”Sivia menggelang kuat kuat sampai air matanya jatuh satu satu.

“Tidak bisa, Gabriel! Mana bisa aku pergi”Isaknya.

Gabriel masih beradu pukul dengan laki laki itu, bibirnya sudah robek di sudut kiri sementara rahangnya terasa sakit sekali. Ia ingin Sivia disini, tetapi itu berarti tidak ada harapan lagi. Sivia harus pergi, ia satu satunya kesempatan mereka.

“Cari Rio, semuanya akan selesai Sivia”Sivia masih keras kepala berdiri di ambang pintu, sementara Edo mulai sadar “Sial! Cepat Sivia! Jangan memperumit semua ini”Gabriel menyandung kaki Edo sehingga laki laki itu jatuh kembali.

Sivia memaksakan kakinya berlari, ia masih menangis takut terjadi apa apa pada teman temannya. Sivia mengendap ngendap sepanjang lorong menghindari bertemu penjaga. Sivia bersembunyi di setiap sudut rumah tetapi menjaga pendengarannya ke pintu depan, berharap ia bertemu Rio secepatnya.
***
Alvin mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli pada makian orang di jalan tentangnya. Ia harus secepatnya kerumah Gabriel, teman temannya dalam bahaya. Sivia dalam bahaya. Hati Alvin menjerit tidak tenang, ia menyesal. Alvin memasuki jalanan yang sepi, ia semakin menekan pedal gas kuat kuat tiba tiba sebuah sedan hitam datang dari depan dengan kecepatan tinggi. Alvin segera menginjak remnya dan mambanting kemudinya.

“Sialan!” Maki Alvin, ia keluar dari mobil tepat ketika pengemudi sedan itu keluar.

“Rio!”Pekik Alvin “Apa yang kau lakukan?”

“Minggir! Aku ingin menemui Gabriel, Ify hilang! Aku harus mencari Gabriel”Geram Rio.

“Tenang Rio, Gabriel tidak ikut campur. Dia menelponku minta bantuan, mereka semua di sekap”Jelas Alvin.

“Kita harus kesana, secepatnya!” Geram Rio. “Cepat!” Rio menutup kasar pintu mobilnya dan berlari masuk ke mobil Alvin.

Alvin segera memasukan gigi dan menekan gasnya kuat kuat. Mereka meninggalkan jalanan itu dengan hati takut dan benci sekaligus, jangan sampai Miranda menyakiti teman teman mereka. Jangan!

“Bagaimana rasanya mati? Apa menyakitkan?”Suara kecil itu bertanya, tetapi tidak takut sama sekali jika ia sendiri akan mati.

“Tidak, rasanya hanya seperti terbang. Apa kau takut?”Tanya suara berat itu.

“Tidak, mungkin aku bisa bertemu denganmu disana” Perempuan itu tersenyum ke depan.

“Kenapa kau melakukan semua ini untukku?”Tanya suara berat laki laki itu.

“Entahlah…mungkin kau terlalu berarti bagiku, sehingga aku ingin selamanya bersamamu”

“Kalau aku punya kesempatan kedua, aku ingin Tuhan mempertemukan kita lagi”Laki laki itu menatap langit langit dengan puluhan kunang kunang diatasnya

“Jadi apa di kehidupan lain kita bisa bersama?”Tanya gadis itu.

Rio membuka matanya, ia sempat tertidur sebentar dan bermimpi aneh. Rio menoleh ke arah Alvin yang masih focus pada jalan di depannya.

“Setelah tikungan ini” Geram Alvin, laki laki itu membanting setir kemudinya.

“Cepat turun”Rio membanting pintu mobilnya dan melangkah berani ke rumah Miranda.

Rio dan Alvin mendobrak pintu depan rumah Miranda, Miranda duduk di sebuah kursi besar memandang 
Rio dan Alvin sambil tersenyum misterius. Rio dan Alvin balik memandang Miranda benci.

“Selamat datang, Anakku” Rio tidak menjawab apapun “Jarang sekali kau mengunjungiku, tapi hari ini tiba tiba kau ada disini”

“Cukup basa basimu! Di mana teman teman ku”Geram Rio.

“Kenapa kau bicara seperti itu padaku?”Miranda tersenyum.

“Kalau kau tidak melepaskan mereka, aku kan menelpon polisi dan mengatakan siapa yang terbaring di rumah sakit itu”ancam Rio.

‘Sialan! Cepat habisi dua orang ini”Perintah Miranda. Anak buah Miranda mendekati Rio dan Alvin, mereka mengarahkan pukulannya ke arah Rio dan Alvin sementara Miranda pergi dari ruangan itu.
Rio dan Alvin beberapa kali menghindari pukulan dari anak buah Miranda, mereka jelas kalah jumlah 
tetapi mereka tidak mau menyerah. Rio mengarahkan tendangannya pada salah satu anak buah Miranda yang mencoba menyerangnya sementara Alvin menumbangkan salah satunya.

“Rio mereka banyak sekali”Ujar Alvin.

“Benar, kita kalah jumlah”

“Kita harus menyelamatkan mereka Rio,waktu kita tidak banyak”Alvin mengarahkan tinjunya mengenai perut orang di depannya.”aku bisa menghadapi mereka. Pergilah Rio, selamatkan teman teman kita” Ujar Alvin mantap.

Rio mencengkram erat baju anak buah Miranda yang coba menendangnya, lalu ia hempaskan ke lantai.Rio berbalik dan segera menuju tangga, Alvin benar ia harus menyelamatkan yang lainnya sebelum terlambat.

“Hati hati Alvin, aku tidak ingin kau mati”Dengus Rio.

“Tenang saja, aku tidak akan mati”Alvin tersenyum miring.

Rio berrlari menyusuri koridor dan mengecek pintu satu satu, ia harus menemukan Ify dan yang lainnya. Rio mendobrak salah satu pintu dan menemukan sosok tubuh Gabriel berlumuran darah sementara Cakka dan Agni terikat tak berdaya.

“Gabriel”Rio mendekati tubuh Gabriel dan menepuk pipinya, Gabriel menggeliat kecil.

“Rio?” Gabriel melihat Rio dari sudut matanya yang lebam, ia mencoba bangkit tetapi dadanya sakit sekali karena terkena tendangan salah satu orang tadi.

“Apa yang terjadi?”Tanya Rio sambil membantu Gabriel duduk.

“Aku mencoba membantu Sivia kabur, apa kau bertemu dia?”Rio menggeleng.

“Kau harus segera ke rumah sakit”Paksa Rio.

“Tidak, aku harus menyelesaikan semuanya dulu”Balas Gabriel.

“bagaimana Cakka dan Agni?”Tanya Rio, Rio berpaling dari Gabriel dan membuka ikatan kedua temannya.

“Cakka?” Rio menepuk pipi Cakka.

“Dia pingsan” Balas Gabriel. “Bagaimana kau bisa masuk?”Tanya Gabriel.

“Alvin di bawah” Jawab Rio.

“Kalau begitu aku akan ke bawah juga, kau harus menemukan Ify dan Sivia Rio”Perintah Gabriel.

“Tapi kau terluka Gabriel”Bantah Rio.

“Bukan masalah, cepat pergi” Rio mengangguk dengan berat hati.

“Tapi bagaimana dengan mereka berdua?”Tunjuknya pada Cakka dan Agni.

“Anak buah Miranda akan menangani kita dahulu, mereka mungkin disangka sudah tidak berdaya”Rio mengangguk lalu berjalan menuju pintu.

“Rio?”Rio menoleh pada Gabriel.”Maafkan aku” Rio mengerjapkan matanya tidak percaya.

“Maafkan aku” Ulang Gabriel.Rio mengangguk kaku tidak tau harus bagaimana.

“Jangan mati” Rio tersenyum sebelum berlalu dari hadapan Gabriel.

***

 Gabriel berhasil turun dengan susah payah, ia menegakan badanya membantu Alvin menghadapi anak buah Ibunya. Sementara Alvin sibuk menghajar mereka satu satu, Gabriel ikut membantu walaupun ia lebih sering menhindar ketimbang menghajar.

“Gabriel apa kau bisa?”Tanya Alvin.

“tentu saja”Sahut Gabriel.

‘Ini!” Gabriel menerima sebuah potongan kayu dari Alvin dan mengayunkanya ke sekitarnya.

Alvin berhasil menumbangkan cukup banyak orang, ia bergegas ke arah Gabriel yang tersungkur disana.

“Gabriel!” Alvin menerjang beberapa orang di sekitar Gabriel dan menghampiri Gabriel.

“Bertahan”Geram Alvin

‘Dor..Dor’ Alvin membelalakan matanya tidak percaya, beberapa anak buah Miranda mengeluarkan senjata mereka.

“Sial, bangun Gabriel!” Alvin mengangkat Gabriel dan meletakannya di sisi lain tembok sementara ia bersembunyi di balik meja.

“Apa yang harus aku lakukan?”Gumam Alvin.Ia melirik laki laki dengan pistol yang semakin mendekat itu,Alvin sama sekali tidak tau apa yang harus di lakukan.

“Keluar kau!” Pekik Orang itu

‘Dor..Dor’

Alvin harus bagaimana?
***

Sivia mengendap endap ke arah balkon dan melihat seorang pemuda yang membawa pistol, Sivia takut kalau Alvinlah yang sedang di buru pemuda itu. Sivia pelan pelan mengendap ke bawah dan menyaksikan adegan itu dalam diam.

“Aku disini” Sivia membelalakan matanya, melihat Alvin berdiri dari balik sebuah meja.

“Alvin..”Lirih Sivia.

Alvin pelan pelan maju ke depan,sementara pemuda tadi tersenyum mengejek. Pemuda itu mengarahkan pistolnya ke arah Alvin tetapi Alvin tetap maju mendekat, Sivia hanya bisa berdoa dalam hati.

“Aku tidak takut mati, aku lebih takut jika temanku yang mati”Ujar Alvin meyakinkan dirinya sendiri.
Alvin tidak takut menghadapi laki laki bersenjata itu, ia tetap maju ke depan sampai suara pelatuk pistol di tarik.

‘Dor’

Alvin tiarap dengan sigap di lantai dan segera menerjang laki laki yang membawa pistol itu, laki laki itu terhuyung ke belakang dan senjatanya terlepas dari genggamannya. Alvin dan laki laki itu beradu pukul dengan kekuatan seimbang, seseekali mereka saling menghajar satu sama lain. Mata Alvin sudah lebam dan sudut bibirnya berdarah.

Sivia menyaksikan pemandangan itu dengan ngeri, ia menarik nafas lega saat Alvin menghindari peluru itu.Tetapi tiba tiba seseorang dari arah pintu muncul dan menngeluarkan pistol dari balik sakunya. Sivia membelalakan matanya, orang itu ingin menembak Alvin. Sivia harus bagaimana? Alvin masih sibuk menghajar orang tadi, ia tidak tau apa yang mengancamnya. Sivia memijat pelipisnya, ia teringat kata kata Alvin ‘Aku tidak takut mati, aku lebih takut jika temanku yang mati’. Sivia berdiri dari tempatnya dan segera berlari menuju Alvin.

Alvin menoleh ke belakang, menyadari ada suara tembakan lain, Ia membelalakan matanya menyadari Riko menarik pelatuk pistolnya ke arahnya, Alvin akan mati.Alvin menyadari ada bunyi berdebam lain di depannya. Ia melihat sesosok tubuh yang di kenalnya sudah terjatuh menyentuh lantai sementara darah mulai mengucur dari tubuh itu.

“Sivia!” Alvin mengarahkan tinjunya dengan sekuat tenaga pada orang di depannya yang langsung jatuh pingsan.

Alvin bangkit berdiri dengan mengambil sebuah balok kayu, ia menerjang Riko dengan penuh amarah. Alvin mengayunkan kayu itu dengan brutal tidak kenal ampun pada Riko yang sudah jatuh tersungkur, Alvin menyambar pistol Riko dan melemparkannya ke sembarang arah.

“Sivia!” Alvin berjalan tertatih menuju tubuh Sivia, Alvin menjatuhkan dirinya di samping Sivia. Ia meletakan kepala Sivia di pahanya dan mengusap lembut pipi Sivia.

“Al..al..vin”Bisik Sivia, Alvin mengangguk lemah.

“Aku disini Via..Aku disini, bertahanlah” Sivia menggeleng sambil tersenyum

“Aku..tidak..kuat..lah..gi”Sivia bicara dengan susah payah.
Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Sivia, ia tidak sanggup melihat Sivia seperti itu. Alvin memejamkan matanya, air matanya mengalir satu satu jatuh ke bawah.

“Ka..mu..nangis..heh?”Tanya Sivia putus putus. “ha..ku ngga..mauh..kamu nangis” Bisik Sivia.

“Aku tidak mau kamu pergi” Lirih Alvin.

“Ha..ku cinta..ka..muh”Sivia berbisik pelan.

“aku juga Vi! Aku minta maaf selama ini aku tidak pernah melihatmu! Aku bodoh Vi!” Alvin menggeram frustasi.

“Inih..saja..cukup,Vin”Sivia terseyum lembut.

“Jangan tinggalin aku Vi” Alvin menunduk mendekatkan wajahnya pada Sivia, perlahan bibir Alvin menyentuh bibir Sivia dengan lembut.

Sivia memejamkan matanya, ini saja sudah lebih dari cukup untuknya. Alvin mendekapnya dan mengatakan cinta padanya. Sivia merasa ini semua seperti mimpi, ia merasakan bibir Alvin mengecupnya penuh cinta, Sivia bahagia walaupun ia tau ini akan berakhir.

Alvin merasa Sivia membuka mulutnya pelan, ia masih mencurahkan perasaannya pada ciuman mereka. Alvin takut kehilangan Sivia tetapi ia bahagia Sivia menjadi miliknya. Alvin merasakan nafas Sivia mulai putus putus, ia ingin menarik dirinya tapi tangan Sivia menarik tengkuknya. Alvin meneteskan air matanya mengetahui nafas Sivia semakin lama semakin lemah dan kemudian berhenti berhembus.

Alvin melepaskan dirinya dari Sivia, ia memeluk tubuh itu dengan sayang dan perasaan menyesal.Andai Alvin punya kesempatan ia akan melakukan apa saja asal ia bisa bersama Sivia lebih lama.Apa saja.

“Aku mencintaimu, maaf aku terlambat menyadarinya”


To be continued

0 komentar:

Posting Komentar

 

EYES OPEN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review