Rio berlari menerobos kerumunan orang di lobi rumah sakit
dengan kasar,ia sudah tidak peduli Sivia tertinggal jauh disana.Wanita itu
harus segera di temuinya,harus.Rio mendorong kasar beberapa orang yang
menghalangi jalannnya sehingga pekikkan dan makian berdengung di
telinganya.Sivia mencoba menyamakan langkah dengan Rio namun selalu gagal,ia
berdecak kesal melihat kerumunan orang yang menggerutu mendelik kesal juga
padanya
.
“Rio!”Panggil Sivia,Rio tidak bergeming sambil memegangi
lututnya dengan nafas terengah engah.”Kemana
dia?”Tanya Sivia
“Dia terlalu cepat,sialan!”Maki Rio.”Aku harus pergi
sekarang,Via”Via mengikuti Rio di belakang tapi laki laki itu segera berbalik
dan menatap Via lurus lurus “Via...kali ini aku ingin minta tolong
padamu”Tatapan Rio berubah sendu “Aku mohon”
“Aku akan membantumu sebisaku,Rio.Apalagi jika soal Ify”Ujar
Via yakin.
“Bicaralah dengan Gabriel,aku tau dia pasti tau sesuatu.Jangan
biarkan kejadian yang dilakukan Riko berulang lagi”Rio menatap Sivia lama.Sivia
menghela nafas panjang lalu membalik tubuhnya menjauh dari Rio.
***
Sivia tidak tau apa yang harus dilakukannya,Gabriel adalah
orang yang paling sering menemaninya akhir akhir ini,ia orang yang sering
mengobati luka hati yang di buat Alvin untuknya.Gabriel adalah sandarannya
tetapi di sisi lain Rio begitu membutuhkannya,ada sesuatu yang Gabriel tau dan
itu adalah rahasia lama yang penting bagaimanapun hanya dirinya yang Rio
percaya bisa membongkar itu semua.
Sivia duduk di bangku lobi dengan lemas,ini pilihan dan ia
harus memilih.Sivia menatap nanar pada dua orang di seberangnya,seorang gadis
dengan seragam pasien yang tangannya digenggam seorang pemuda di
sampingnya,keduanya tersenyum saling menguatkan.Sivia sadar dia sendirian,Agni
tidak tau semua rahasia kelam Rio dan Sivia sendiri tidak mungkin membongkar
rahasia besar Rio sekalipun pada sahabatnya.Alvin? Sivia menghela nafasnya yang
terasa sesak,sudah berapa lama ia tidak menatap mata Alvin yang selalu
menenangkannya? Sudah terlalu lama sampai rasanya mereka terlalu jauh.Alvin
bukan lagi sandarannya.
Sivia menangis dalam diam,semuanya terlalu tiba
tiba.Kepergian Alvin,Kedatangan Gabriel dan Kenyataan yang di berikan
Rio.Semuanya bagaikan kilat yang menyabar raga Sivia,cepat dan menggoreskan
luka.Ia rindu saat semuanya baik baik saja,saat ia masih bisa menatap Alvin
dengan kagum,saat ia masih bisa berbagi cerita sepuasnya bersama
sahabatnya,saat ia tidak perlu merasa sendirian.Tapi kenyataanya ia harus
memilih dan pilihannya haruslah membalikan keadaan menjadi sama baiknya seperti
dulu atau lebih baik.
Sivia mendorong pintu kamar Ify dan tertegun melihat orang
yang ada di dalam.Ia tersenyum sekilas lalu berjalan menuju Agni yang sedang
meminum coffee latenya.Agni menatapnya sendu lalu meletakan mugnya di meja dan
memeluk Sivia.Erat.Walaupun hanya pelukan Agni tapi Sivia merasa lengkap
sejenak,ia membalas pelukan Agni sama eratnya dan tanpa terasa air matanya
meleleh.
“Ify pasti baik baik aja”Ujar Sivia lirih.
“Gue tau”Agni melepas pelukan Sivia lalu menghapus cepat air
matanya,”Sorry Vi,gue pengen keluar dulu”Agni melangkah besar besar keluar
kamar Ify lalu menutup pintunya.
Sivia menghapus air matanya lalu duduk menghadap Ify dengan
pandangan datar,Cakka lalu bangkit dari kursi dan beranjak keluar sementara
Gabriel dan Alvin masih terbuai dengan adegan yang dilihatnya barusan,Gabriel
menggengam tangan Ify erat sambil berbisik agar Ify segera bangun untuk
menenangkan sahabatnya.
Cakka menoleh ke kiri dan kanan mencari sosok Agni,ia lalu
menemukan Agni beringsut di dinding sementara bahunya naik turun,Cakka berjalan
pelan pelan menghampirinya dan menyentuh pundak Agni pelan,ia lalu
mensejajarkan tingginya dengan Agni dan merenghkuh gadis itu.
“Lepasin gue Cakka!”Agni mendorong tubuh Cakka lalu
menghapus air matanya kasar.”Pergi lo!”
“Gue mau disini”Ujar Cakka datar.Agni menatap Cakka benci
lalu hendak bangkit tetapi tangan Cakka
menahannya.”Gue juga mau lo disini.Gue
pengen kita disini”
“Nggak!”Agni menghentakan tangan Cakka dengan sekuat tenaga
“Gue pengen sendirian!”Pekiknya frustasi.
“Bagi gue udah cukup lo sendirian nangisin keadaan
Ify,Ag.Cukup”Cakka menatap dalam mata Agni mencoba meyakinkan hati batu itu.“Lo
ga perlu pura pura kuat,Agni”Ujar Cakka.Agni mengerjapkan matanya tidak sadar
lalu air matanya turun satu satu,Cakka segera merengkuh tubuh Agni memeluknya
erat erat.Cakka membiarkan Agni memangis dalam pelukannya,ia mengelus punggung
gadis itu dengan lembut.Agni tau tidak ada yang Cakka tidak tau,ia tau
segalanya.Segalanya,kecuali perasaanya.
***
Alvin melirik ke arah Sivia yang sedang menatap kosong
keluar,tidak ada air mata mengalir lagi di pipi Sivia tapi bagi Alvin kelakuan
Sivia menyiratkan lebih daripada air mata.Ia melirik kearah pintu yang tadi di
buka Cakka,mungkin seharusnya ia merenghkuh Sivia dalam pelukannya dan
membiarkan gadis itu menjadi Sivia ceria,Sivia yang dulu di kenalnya.
Alvin tertohok mendengar kata hatinya sendiri ‘Sivia yang
dulu’ memangnya kemana ia selama ini? Alvin menyadari begitu banyak yang
berubah dari Sivia,ia lebih tegar.Tegar? bukannya itu kata untuk mereka yang
sudah terlalu sering disakiti,sudah terbiasa.Alvin tiba tiba merasa takut
dengan fikirannya sendiri,mungkinkah ia yang menyakiti Sivia? Kemungkinan itu
begitu besar,Alvin tidak pernah ada di sisinya lagi.Alvin menatap Sivia iba,ia
lalu menghela nafas sambil memantapkan hatinya.
“Via…boleh gue ngomong sebentar?”Sivia mengerjapkan mata
sebentar lalu menoleh ke sumber suara.Alvin.
“Maaf,Alvin.Rasanya aku ingin bicara dengan Gabriel”Sivia
menoleh kerarah Gabriel yang Nampak bingung,pemuda itu menatap Alvin dan Via
bergantian.”Please”Sivia masih menatap Gabriel,ia harus secepatnya bicara
dengan Iel.Ia sudah memutuskan,bukan Gabriel atau Rio yang harus di pilihnya
tetapi sahabatnya,Ify.Sivia tau caranya adalah melindungi Ify dari tante Miranda
karena ia tidak ingin kejadian Riko berulang lagi.
“Baik”Gabriel menarik kursinya dan berdiri.
“Alvin..”Panggil Sivia,Alvin yang masih termanggu karena
kejadian tadi menoleh tidak yakin pada Sivia.Sivia sudah berubah dan ia tidak
pernah tau.”Aku ingin bicara dengan Gabriel berdua,tolong keluar”Alvin
tersenyum sekilas lalu mengangguk.
“Baik”Ujarnya datar lalu menutup pintu kamar Ify.Sivia
memejamkan matanya agar air matanya tidak keluar lagi,dia tidak punya waktu
lagi.
“Gabriel…apa kau dan Rio saudara tiri?”Gabriel membulatkan
matanya terkejut mendengar tembakan langsung Sivia.
‘Darimana..kau?”Tanya Gabriel.
“Jawab saja”Potong Sivia datar.
“Baiklah,Iya.”
“Kenapa tidak pernah mengakui Rio sebagai saudaramu?”Sivia
menandang jendela menghindari mata Gabriel yang seolah memindai dirinya.
“Itu bukan urusanmu Sivia”Desis Gabiel marah.
“Tapi,itu akan jadi urusan Ify kan?”Balas Sivia.
“Aku tidak bisa,Via..tidak bisa!”Geram Gabriel frustasi.
“Bisa.Kalau kau sudah memutuskan Gabriel,lihat Ify! Lihat
ini tidak seberapa dengan apa yang di
rencanakan Ibu mu,Kau tega?”Gabriel hanya
diam memandang Ify kaku “Aku tau kau menyayangi Ify”
“Aku mencintainya…”Lirih Gabriel.
“Apa itu merubah semuanya? Apa dengan begitu Ify akan baik
baik saja? Ibu mu tidak mau mencelakai Ify lagi seperti waktu Tristan
dulu?”Tuntut Sivia,Gabriel tertohok.
“Aku tau…mencintai Ify memperumit segalanya Sivia,tapi aku
tidak bisa membohongi perasaanku.Sama seperti saatt kau melihat Alvin dan
Shilla.Sakitnya sama seperti melihat Ify dan Rio.Aku cemburu,dan aku tidak bisa
bohong”
“Aku mencintai Ify sudah sejak dulu,sejak Ibuku membawa foto
nya padaku.Senyumnya saat itu menentramkan hari hari ku,Aku tau suatu saat akan
bertemu dengannya itu selalu menguatkanku.Hari itu ketika pertama kali aku
melihatnya di sekolah,kau tidak tau bagaimana perasaanku..Aku sudah menunggunya
selama ini”
“Kau? Selama ini?”Tanya Sivia kaget.
“Awal dia masuk sekolah,aku sudah amat sangat menantikan
hari itu,ketika aku melihat dirinya begitu nyata.Aku sudah cukup bahagia Vi!
Tapi ketika sadar ada sesuatu yang mengikat Ify dan Rio,ketika mereka sama sama
pingsan,ketika Rio tau Ify alergi udang,ketika Ify menunggu Rio di sekolah
tidakkah kau sadar,ia seakan rela menunggu seumur hidup…Rio selalu punya yang
aku inginkan Via?! Selalu!”Bentak Gabriel
“Tapi kenapa waktu Riko mencelakai Ify,kau?”Tanya Sivia.
“Aku datang.Aku memohon pada Ibu ku agar melepaskan Ify,”
“Tapi mereka nyaris membunuh Ify”Pekik Sivia
“Ibu bersikeras jika ingin menghancurkan Rio,kami harus
membunuh Ify”Sivia membelakakan matanya sambil memekik tertahan.
“Apaa?!!”
“Entah bagaimana,Ibu tau dan dia jauh lebih yakin dariku
soal ikatan mereka.Oleh karena itu,aku mendekati Ify kembali dengan harapan aku
mampu menghilangkan ikatan itu”Lirih Gabriel.
“Kenapa kalian ingin menghabisi Rio?”Tanya Sivia takut.
“Dendam lama”Mata Gabriel berkilat kilat menahan amarah.
“Apa?”Suara Sivia mencicit di telan angin.
“Dari dulu almarhumah Ayah tidak pernah peduli padaku,kau
tau?”Suara Gabriel berubah sinis “Tidak pernah”
“Gabriel,tolonglah…hanya kau yang bisa menolong Ify”Mohon
Sivia,Gabriel mengeraskan rahangnya”Tolong lakukan untuk Ify,Bukan Rio…”Pinta
Sivia.
“Apa yang harus kulakukan?”Gabriel berbisik serak “Aku sudah
tidak bisa apa apa”
“Kau bisa menggalkan rencana ibumu,kita bisa Iel..”Sivia
menepuk pundak Iel pelan.
“Ibu tidak percaya padaku lagi,dia curiga tentang perasaanku
pada Ify”Gabriel menghempaskan dirinya putus asa.
Hening.
“Tapi aku punya rencana,dan kau bisa membantu”Sivia menatap
Gabriel kaget,lalu mengangguk pelan.
“Baik..aku setuju”Ujarnya parau.
***
Rio mencengkram kemudinya erat erat,ia tidak tau harus
bagaimana sekarang.Miranda sudah menghilang entah kemana dan ia sendiri tidak
tau apa yang direncanakan Ibu tirinya itu,Rio merasa takut mengingat ia
menemukan Miranda ada di rumahsakit tempat Ify dirawat.Kemana dia harus pergi?
Dia sama sekali tidak tau awalnya mengapa Ibu tirinya membunuh kakaknya?
Sementara ia juga ingin membunuh Ify?Rio memijat keningnya lalu menyalakan
mesin mobilnya lagi.Dia akan menyelidiki berkas keluarganya lagi.
Rio memacu mobilnya menuju kantor polisi,ia ingin menanyakan
kebenaran penangkapan Ibu tirinya.Apa yang wanita itu lakukan di rumah sakit?
Apa ia sudah bebas? Rio mengetuk ngetukan jarinya di meja cabinet sambil
menatap tidak sabaran polisi yang sedang menelpon atasannya.
“Baik,silahkan keruangan inspektur.Belok kiri”Ujarnya,Rio
acuh tak acuh meninggalkan orang itu dan masuk ke dalam ruangan polisi itu.
“Selamat Siang”Ujar Rio kikuk.
“Baik,silahkan duduk.Ada yang bisa saya bantu?”Rio menarik
kursi di depan polisi itu dan duduk tegak.
“Saya ingin bertanya mengenai tahanan anda”Mata polisi itu
memicing melihat Rio.”Nyonya Miranda”
“Anda keluarganya?”Tanya polisi itu ragu,Rio mengangguk
sekilas.
“Anak tirinya”Imbuhnya cepat.
“Nyonya Miranda sedang di rawat di rumah sakit tuan..sudah
lima tahun belakangan ini”Rio membelalakan matanya.
“Tapi Pak…saya melihat dia keluar rumah sakit,sehat sehat
saja”Ujar Rio.
“Tidak mungkin,pengawalan kami sangat ketat.banyak aparat
berjaga disana”Polisi itu mencoba meyakinkan Rio.
“Anak buah bapak,bahkan tidak mengejar Nyonya Miranda saat
dia keluar rumah sakit”Gerutu Rio.
“Mungkin itu Nyonya Mira”Kening Rio berkerut “Iya,nyonya
Mira kembaran nyonya Miranda”
“Apa? Kembar?”Pekik Rio tertahan.
***
Sivia menatap bingung Gabriel yang berkonsentrasi pada
jalanan.Mereka mulai melihat deretan rumah di kiri dan kananya.Tetapi Sivia
tidak tau mereka ada dimana,sementara Gabriel menerawang jauh seperti mengingat
ngingat sesuatu.
“Iel..sebenarnya kita ada dimana?”Tanya Sivia penasaran
“Southhampton.Sebelah selatan kota”Ujar Gabriel.
“Kenapa kita kemari?Apa hubungannya dengan penyelidikan
kita?”Tuntut Sivia.
“Dengar”Gabriel menatap Sivia serius “Aku tidak bisa memberi
tahu banyak hal,karena itu kau harus memulai sendiri mencari pemegang
rahasia”Jelas Gabriel
“Pemegang rahasia?”Tanya Sivia bingung.
“Sivia,kita harus mencari tau apa ikatan antara Rio dan Ify
dulu karena apapun itu akan memberi jawaban penting apa rencana Ibu ku”Jelas
Gabriel “Aku hanya bisa memberi tau mu pemegang rahasia pertama,selanjutnya aku
benar benar tidak bisa membantu”
“kenapa?”Tanya Sivia.
“Karena kecuali yang satu ini,semuanya mungkin kaki tangan
Ibu ku..atau..”Wajah Gabriel tampak kosong.
“Atau apa?”Tuntut Sivia
“Mereka sudah mati”Sivia menatap Gabriel tidak percaya
sementara Gabriel hanya mengangguk lesu.
“Sekarang kita akan bertemu siapa?”Tanya Sivia berusaha
menutupi ketakutannya “Apa salah satu dari kaki tangan Ibu mu?”
“Bukan.Kali ini kita akan bertemu dengan orang tua Ify”
***
Seorang wanita tampak duduk di sebuah kursi yang elegan,dia
menatap sinis para pembantunya.Ia lalu menjentikan api pada batang rokoknya dan
mulai menghisap rokoknya.Salah satu dari orang yang ada di depannya
menghampirinya dan membisikan sesuatu.Ia lalu bangkit dari duduknya dan menghempaskan
rokoknya kebawah serta merta menginjaknya.
“Keparat! Jadi Rio mulai curiga soal aku dan Mira?”Tanya
wanita itu geram
“i..iyaa..”Sahut orang yang tadi berbisik dengan takut.
“Bagaimana bisa?!”
“Dia bertanya pada polisi tempat anda di tahan,nyonya”Jelas
orang itu.
“Lalu apa rencananya?”Tanya Miranda cepat.
“Saya tidak tau,sepertinya dia belum menyusun rencana”
“Kalau begitu biar kita yang membuat rencana lebih
dulu”Semua orang yang ada di ruangan itu mengangguk kaku.
“Dimana Gabriiel?”Tanya Miranda.
“Maaf,tuan Gabriel di…di—“ Orang itu melirik sekelilingnya
takut
“Cepat katakan,diamana Gabriel!”Bentak Miranda
“Dia menjenguk Ify”Miranda tersenyum sinis lalu mengangguk.
“Suruh dia kemari segera”
***
“Permisi”Sivia tersenyum lembut pada wanita paruh baya yang
memiliki mata seperti Ify.
“Iya,maaf ingin bertemu dengan siapa?”Tanya wanita itu
takut.
“Saya ingin bertemu dengan keluarga Umari,apa disini benar
rumah keluarga Umari”Wanita itu tersenyum kaku lalu mengangguk.
‘Saya nyonya umari”Sivia mengulurkan tangan dan menjabat
tangan Ibu Ify
‘Saya Sivia Azizah teman Ify”Senyum ibu Ify perlahan mulai
menghangat.
‘Teman Ify?Wah..ini kejutan!” Wanita itu membukakan pintu
lebar untuk Sivia dan menyentuh bahu Sivia agar mengikutinya.”Dimana Ify?”Sivia
menggigit bibirnya salah tingkah,Ibu Ify pasti belum tau Ify masuk rumah sakit.
Gabriel muncul di belakang Sivia dengan deheman singkat.Ibu
Ify membelalakan matanya menatap Gabriel,ia mengamati Gabriel lekat lekat
membuat Via mengernyit bingung sementara Gabriel Nampak santai saja.
“Maaf,saya Gabriel”Ujar Gabriel tenang.Ibu Ify Nampak terkejut
lalu berusaha tersenyum.
“Gabriel”Bisiknya.
“Ify sedang ada di asrama,kebetulan saya dan Via sedang di
wilayah ini dan bermaksud mampir—“
“Apa kau kenal dengan Steve?”Tembak Ibu Ify.Gabriel
mengangguk kalem sementara Sivia masih kebingungan.
“Bisa kita bicara di dalam?”Tanya Gabriel.Ibu Ify hanya
mengangguk dan mengizinkan mereka duduk.
“Apa kamu adik Steve?”Gabriel hanya mengangguk.
“Bagaimana ibu bisa mengenal kakak saya?”Gabriel menatap
dalam ibu Ify.
“Dulu anak saya sering bercerita tentang Steve,dia begitu
menyukai kakakmu”Jelas Ibu Ify.
“Ify?Bagaimana bisa?”Sivia mengernyitkan keningnya bingung.
“Bukan Ify,tapi kakak Ify.Alyssa”Sivia menoleh pada Gabriel
yang masih menatap Ibu Ify lurus lurus.
“Jadi Ify punya kakak? Dan dia kenal pada Steve?”Ibu Ify
mengangguk mendengar pertanyaan Gabriel
“Lalu kemana Alyssa sekarang?”tatapan
mata Ibu Ify seketika meredup,ia menari nafas panjang lalu diam cukup lama.
“Alyssa sudah meninggal”Sivia membuka mulutnya kaget,apakah
satu lagi pemegang rahasia sudah meninggal?
“Saya turut berduka cita”Ibu Ify mengangguk pelan “Seperti
kata Ibu,Alyssa dulu mengenal Steve bukan?
Apa boleh saya tau seperti apa kakak
saya dulu?”Wajah Gabriel berubah lembut.
“Bo..Boleh,tentu saja.Saya masih menyimpan barang barang
Alyssa”Gabriel dan Via berdiri dengan semangat.”Silahkan kemari”Mereka
berpandangan terlebih dahulu kemudian mengikuti Ibu Ify.
“Sivia,Alyssa tau sesuatu tentang Steve.Tugasmu harus
mencari tau apa itu,aku hanya bisa membantu sampai disini.Maafkan aku”Gabriel
menyentuh pundak Sivia pelan,gadis itu mengangguk paham kemudian membiarkan
Gabriel keluar pekarangan rumah Ify.
Sivia menatap mobil Gabriel sambil berharap,apapun yang
mereka lakukan dapat menolong semuanya,merubah keadaan.Sivia berpaling pada Ibu
Ify yang memandangnya penasaran,ia lalu tersenyum dan berjalan menuju sebuah
gudang yang penuh dengan barang barang Alyssa.Sivia melihat foto Alyssa yang begitu
mirip dengan Ify hanya saja gaya mereka berdua benar benar berbeda,Ify begitu
periang sementara Alyssa terlihat lebih diam dari biasanya.
“Mereka seperti kembar bukan?”Ibu Ify mengagetkan
Sivia,gadis itu hanya mengangguk.”Karena itu kami menamai Ify juga Alyssa”
“Kalau boleh saya tau,apa penyebab meninggalnya Alyssa”Tanya
Sivia.
“Alyssa meninggal karena kecelakaan”Sivia menahan
pekikannya.Mungkinkah benar benar kecelakaan? Bukan kesengajaan?
To be Continued...



0 komentar:
Posting Komentar