EMPAT BELAS
Sivia merebut paksa ponselnya dari Gabriel,ia memekik dengan
putus asa “Jangan…jangan kemari!” Sivia meraung frustasi,ia tidak ingin Alvin
terlibat dalam masalah ini juga.Alvin bisa saja jadi tawanan Miranda
juga,pikiran buruk mulai menghantui Sivia,ia melihat Gabriel marah “Kau jahat
Gabriel! Biarkan saja dia disana” Isak Sivia.Sivia terduduk lemas,ponselnya
terlepas dari genggaman ia menelungkupkan wajahnya frustasi.
“Maaf..Sivia,tapi ini jalan terbaik”Gumam Gabriel.
‘Brak’ Gabriel dan Sivia bersamaan menoleh ke arah pintu.
‘Mau apa kalian?”Desis iel tajam.
“Jangan banyak omong kau!”Orang itu menggebrak pintu “Cepat
kurung mereka!”Orang tadi Memanggil temannya dan memberikannya tali panjang.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang!’’ Isak Sivia, Gabriel
memandang kedua orang itu waspada.
“Sivia, cepat ke belakangku” Desis Gabriel. Sivia pelan
pelan berjalan ke belakang Gabriel.
“Ambil kayu itu” Bisik Gabriel “Pukul saat aku beri aba aba”
Sivia mengambil kayu itu dengan takut takut, dua orang itu
masih sibuk dengan Agni dan Cakka. Ketika mereka mendekat, Gabriel mengawasi
mereka lekat lekat.
“Sekarang!”Pekik Gabriel, laki laki itu langsung menunduk
dan Sivia mengayunkan balok kayu itu kedepan sekuat tenaga.
“Sialan!”Pekik salah satu laki laki bertubuh kekar yang
terkena hantaman kayu itu.
“Cepat lari!” Geram Gabriel, Sivia segera menyambar gagang
pintu.
