Minggu, 14 Juli 2013

Another Life l Tiga Belas

Diposting oleh Ossi Widiari di 20.43



Tiga Belas

Sivia membuka sembuah buku yang sampulnya kusam,tulisan tangan di buku itu kecil kecil dan rapi.Tulisan Alyssa.Sivia membaca buku harian itu dengan teliti,isinya hanya seputar kehidupan SMA yang tidak begitu menarik.Alyssa hanya anak SMA biasa,Sivia bahkan tidak menemukan satu tulisanpun tentang teman temannya.Sivia hendak meletakan kembali buku itu sampai selembar foto kusam terjatuh dari sela lembarannya.

“Foto siapa ini?”Gumam Sivia.

Sivia  mencari lembaran tempat foto itu terjatuh,ia menemukan sebuah halaman kosong yang berisi lem yang telah mengering.Sivia memperhatikan tulisan tangan Alyssa di buku itu,ia membaca tulisan tangan itu dengan teliti.

Hari ini aku terkunci di gudang saat pelajaran olahraga,aku hampir pingsan ketakutan terkurung di gudang gelap itu.Aku tidak tau bagaimana aku bisa sampai disana,tiba tiba ada yang menutup mulut dan mataku dan menyeretku ke sana.Ketika aku bisa membuka mata aku baru tau aku disana dan terkunci.
Mungkin ini perbuatan anak kelas sebelah,atau bisa jadi Shilla.Bukannya dia berambisi mengerjaiku.Rasanya besok aku tidak sanggup lagi pergi ke sekolah.Aku tidak sanggup lagi dikerjai mereka.Aku muak,aku ingin melawan mereka sekali kali tapi aku sendirian dan tidak berdaya.Menyebalkan.
Tapi tau tidak apa yang membuatku keluar dari gudang itu? Stevent Haling! Pacar Shilla atau entahlah apa itu,dia tiba tiba membuka pintu itu dan memapahku keluar.Oh God…ini pertama kalinya ada yang membantuku.Dia bahkan mengucapkan sesuatu sebelum dia meninggalkan aku.
“Lain kali lawanlah dia”
Lain kali.


Sivia mengetuk ngetukan sampul buku itu sambil menerawang menembus jendela dari lantai dua rumah Ify.Mrs.Shilla entah bagaimana wanita itu terlibat disini.Sivia menghela nafas berat memikirkan betapa liciknya wanita yang disukai Alvin.Alyssa juga mengakui itu,bahkan Stev mungkin mengetahui itu…Sivia penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada Stev dan Alyssa tetapi di halaman halaman berikutnya hanya ada tulisan tentang Stev,tentang bagaimana Alyssa mengagumi orang itu.Sivia paham mungkin sulit bagi orang yang bukan apa apa seperti Alyssa.Mungkin ia tidak akan pernah mengalahkan Shilla seperti dirinya.

Sivia melihat bekas bekas robekan di buku itu hanya saja setelah itu Sivia melihat tulisan Alyssa yang tidak biasa,tulisan itu sama seperti yang lainnya hanya saja mereka lebih berantakan daripada sebelumnya.
Aku tau ada yang tidak beres,hari ini aku akan kesana.Aku akan membuktikan kalau memang terjadi apa apa padanya.Ini bukan salahnya,ia tidak mungkin akan melakukan itu.Percaya padaku.
Sivia membalik halaman setelah itu dengan cepat tetapi tidak ada apapun disana,itu tulisan terakhir 

Alyssa.Ia sedang memulai penyelidikan entah penyelidikan apa tetapi itu membuatnya berakhir disana.Sivia tercengang,tentu saja Sivia tau penyelidikan apa yang membuat Alyssa meninggal.Miranda.Alyssa memang tau sesuatu.

“Tante”Sivia bergumam diujung tangga ia mendengar suara orang berkelahi.

“Tidak seharusnya kita memberi tau dia semudah itu”Sivia mendengar suara khas pria.

“Tetapi mungkin dia bisa membantu”Sivia mengintip dari tangga melihat Ibu Ify sedang menutup wajahya sesenggukan “Dia mungkin bisa mengungkapkan keadilan untuk Alyssa”Raungnya.

“Tapi bagaimana dengan Ify…”Sivia merapatkan telinganya”Bagaimana kalau wanita itu menyakiti Ify”

“Dia ada di penjara jadi dia tidak bisa berbuat apa apa”

“Dia sudah pernah mencobanya”Ujar Sivia serak.Suami isteri itu lalu menoleh dengan tatapan terkejut.

“Apa kau bilang?”Seru Ayah Ify.

“Apa ini soal Miranda Haling?”Ibu Ify Nampak terkejut luar biasa “Mereka sudah pernah mencoba mencelakai Ify”

“Ify tidak pernah bilang…dia..dia”Isak Ibu Ify.

“Kita mungkin bisa menyelesaikan ini,kalian tau kan kalau ini semua berawal dari Alyssa dan kalian tau hubungan mereka”

“Kami hanya bisa menduga”Seru Ibu Ify.

“Tidak..kami tidak tau apa apa”Bantah Ayah Ify.

“Kalau kalian berani seperti Alyssa,kalian mungkin tidak akan kehilangan Ify”
Hening.

“Kami hanya bisa menduga”Ayah Ify membuka keheningan.

“Bukan masalah…kita bisa mencari kebenarannya” Sivia memotong ucapan ayah ify dengan cepat.

“Baik…kami menduga Alyssa di bunuh ibu Stev,Miranda”Sivia mengangguk kaku,dugaannya benar.

“Seminggu sebelum kematian Alyssa,ia Nampak sibuk sekali ia sering pergi keluar rumah padahal sebelumnya ia hanya mengurung diri di kamar.Dan sehari sebelum ia meninggal,Miranda di tangkap polisi  dengan tuduhan pembunuhan terhadap anaknya sendiri,Stev”Ayah Ify menarik nafas panjang “Lalu esok harinya,Alyssa pamit kepada ibunya dia mengatakan ingin pergi sebentar,Tapi…”

“Tapi ia pergi tidak sebentar…”Sambung Ibu Ify,wanita itu menggunakan punggung tangannya menghapus air matanya.

“Tapi kalian tidak bisa membuktikan itu?”Kedua orang di hadapan Sivia itu mengangguk lesu.”Baiklah,biar aku yang membuktikan”
***
Sivia menatap pintu rumah Gabriel dengan berani,dia tidak boleh mundur sekarang atau semuanya akan sia sia.Sivia bertekat mengorek informasi dari Tante Miranda.Langkah kaki Sivia bergesekan dengan daun daun kering menimbulkan suara yang mencoba menggetarkan hati Sivia,tapi gadis itu sampai juga pada pintu depan rumah Gabriel,ia mendorong pintu itu dengan telapak tangannya.Sivia hendak masuk ke dalam tetapi telingannya mendengar sesuatu.

“Kemana saja kau Gabriel?”

“Aku di rumah sakit,Mom..”Gabriel menunduk menghindari tatapan Ibunya

“Jadi kau mengunjungi Ify ya! Bagus baguss…”Miranda bertepuk tangan di depan muka Gabriel,sementara anak itu masih menatap lurus lurus kebawah.

“Tidak”Ucap Gabriel parau “Aku mengunjungi tante Mira”Miranda mundur dua langkah pelan pelan.

“Benarkah?”

“Benar…”Ujar Gabriel cepat.

“Kau tau kan…tidak seharusnya kau berhubungan dengan ify! Ingat Gabriel kita harus memusnahkan Ify”

“Aku..ak..ku sampai sekarang masih tidak mengerti”Gabriel menatap takut takut Ibunya

“Apa yang tidak kau mengerti”Miranda mencengkram erat rahang Gabriel,sehingga laki laki itu mendongak menatap Ibunya.

“Kenapa kita harus membunuh Ify juga,bukannya yang menghancurkan semuanya adalah Rio?”

“Bisakah kau tidak bertanya Tanya lagi,Sayang”Miranda mengetatkan cengkramannya “Ify dan Rio sama saja,mereka akan menghancurkan semuanya”Geram Miranda

“Kenapa?!”Tuntut Gabriel.”Mom selalu bilang begitu,dari awal Mom menunjukan foto Ify tapi Mom tidak pernah memberikan alas an yang jelas,mengapa aku harus menyingkirkan Ify?”

Sivia menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya,mungkin tante Miranda takut Ify tau pembunuhan Alyssa,mungkin ia takut kalau penyamarannya di bongar dan ia tidak bisa bebas lagi.Sivia mundur satu langkah dengan hati hati.

“Mau kemana kau?! Dasar penguping!”Sivia menegakan badannya kaku mendengar suara orang di belakangnya.

“Riko!”Lutut Sivia melemas mengingat apa yang bisa di lakukan Riko kepadanya.

‘Aku..aku..”Sivia mencari pembelaan,tetapi Riko buru buru menyerenya kedalam.

“Lihat apa yang aku dapatkan!”Pekiknya di dalam,Sivia tau semua orang memandangnya sekarang,termasuk tante Miranda.

“Sivia?”Gabriel maju selangkah mencoba menarik Sivia ke belakangnya.

“Berhenti!”Miranda menghalangi Gabriel dan maju ke hadapan Sivia “Apa yang kau lakukan disini?”Tanyanya.

“Aku..aku..hanya—“

“Menguping!”Bentak Miranda di telinga Sivia.Miranda mengarahkan kukunya yang tajam ke leher Sivia membuat gadis itu bergidik dan Miranda malah semakin menjadi jadi menekan urat nadi leher Sivia dengan kukunya “Bicaralah sejujurnya”bisiknya

“Aku mendengar semuanya! Aku mendengar apa yang Gabriel dan anda ributkan,aku tau mengapa”Pekik Sivia “Aku tau kau membunuh Alyssa,jadi kau ingin Ify tidak menyelidiki kematian kakaknya”Gabriel tercekat,Miranda membelalakan matanya lalu kemudian dia tersenyum sinis.

“Bagus”Gumamnya santai

 “Kurung mereka!”Tangan tangan kekar itu menyeret keduanya sebelum mereka bisa mencerna baik baik apa yang terjadi seketika saja mereka sudah ada di kamar yang temaram.

“Buka bukaa!”Seru Gabriel.

“Apa yang harus kita lakukan?”Tanya Sivia frustasi.

“Aku tidak tau…Mom sudah tidak percaya padaku,Kau juga jadi terkurung bodoh disini.Siapa lagi yang bisa kita andalkan? Mereka bisa mencelakai Ify sekarang”Geram Iel Frustasi.

“Rio!”Sivia mengobrak abrik tasnya mengeluarkan ponselnya mencoba menelfon Rio.

“Tuhan,tolong selamatkan Ify”Bisik Gabriel.
***
Rio meraba ponselnya di saku lalu melihat nama Sivia disana,pemuda itu menghentikan mobilnya lalu mengangkat telfon Sivia.

“Halo”Gumam Rio.

‘Rio! Rio kau ada dimana? Cepat ke rumah sakit! Ify dalam bahaya!”

“Apa!!”Pekik Rio.Rio segera memasukan gigi mobilnya dan menekan pedal gasnya sekuat tenaga.
Pikiran Rio melayang kemana mana,Ia menyalip mobil mobil di depannya dengan lincah,seringkali terdengar makian dan teriakan klakson di belakangnya,tetapi Rio sama sekali tidak menghentikan laju mobilnya.

“Ify bertahanlah”Doa Rio dalam hati
***
Cakka sedang menatap Agni yang tertidur di samping ranjang Ify,sekarang hanya mereka berdualah yang tinggal untuk menjaga Ify,Sivia dan Gabriel pergi begitu saja sementara Alvin langsung keluar kamar  dengan raut wajah kesal.Cakka menghela nafas panjang melihat Agni,gadis itu begitu tangguh dan kuat.Cakka menatap Ify yang gelisah dalam tidurnya,ia merasa simpati pada gadis itu.Cakka merasa Ify tidak tau apa apa sama sekali,tetapi dialah yang disangkutpautkan dengan Rio dan Gabriel.

“Brak..”Cakka segera menoleh ke arah pintu dan mendapati sosok yang asing baginya.

“lumpuhkan semuanya”Cakk segera memasang kuda kuda waspada,tetapi orang orang bertubuh kekar itu semakin mendekat,ia melayangkan tinjunya ke arah wajah Cakka tetapi laki laki itu dapat menghindar.

“Agni!”Pekik Cakka.”Ag bangun!”Teriaknya lebih kencang.

Agni bangkit dari tidurnya mendengar suara ribut ribut di kamar Ify.Agni membelalakan matanya mendapati Cakka sedang berkelahi dengan lawannya,Agni bangkit berdiri hendak membantu Cakka yang di keroyok dua orang.

“Cakka!”Pekik Agni melihat laki laki itu roboh setelah terkena pukulan di perutnya.

“Sekarang giliranmu”Salah seorang laki laki bertubuh tegap memajukan langkahnya menuju Agni.

“Keluar kau sekarang!”Pekik Agni.

“Ayo cepat bereskan semuanya”Laki laki yang lain memperingatkan temannya,ia mengikat Cakka dengan seutas tali.

“Lepaskan dia!”Seru Agni,laki laki itu hanya tertawa dan mencengkram erat pergelangan tangan Agni.

“Lepas! Lepas..”Berontak Agni,tapi laki laki itu mencengkram tangan Agni makin erat.

“Diam kau!”Agni semakin buas memberontak.

“gawat,nanti kita bisa ketahuan”gerutu laki laki lainnya.

“Jangan sakiti dia”Cakka mencoba melepaskan ikatannya.

‘Buk’ Cakka mengerang merasakan tendangan di tubuhnya.

“Cakka!”Agni berteriak sangat keras,air matanya mengucur satu satu.

“Berisik!”Geram orang yang mencengram Agni ‘Plak’ tamparan itu membuat kepala Agni limbung dan semuanya kemudian gelap.

“Bawa mereka semuanya,gadis yang tidur itu juga.Ini perintah Nyonya Miranda”
***
Rio berlari dengan tergesa gesa menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar Ify,jantungnya berdebar kencang seiring langkahnya yang semakin lebar.Hatinya tidak tenang,ia takut semuanya sudah terlambat.apa yang akan ia lakukan seandainya Ify sudah diambil mereka? Rio merasakan sakit di sekujur tubuhnya,pikirannya sudah tidak menentu tapi satu yang dia tau ia tidak ingin kehilangan Ify lagi.

“Kau?”

“Ya.Ini aku…”

“Apa yang terjadi?”Gadis itu memijat keningnya “Mengapa kau bisa ada disini?”

Gadis itu menatap lekat orang di depannya,walaupun hanya cahaya kunang kunang yang menerangi mereka,gadis itu dapat melihat pria di depannya tersenyum.Ia juga ikut tersenyum.

“Mungkin aku hanya bermimpi”Gumam gadis itu.

“Ini bukan mimpi”Pria itu menyentuh pipi gadis tadi.”Aku tau apa yang kau lakukan,aku..aku tidak menyangka kau melakukan ini semua”

Gadis itu menggeleng pelan,”Aku..aku..anggap saja ini ucapan terimakasihku,karena kau sering menolongku”Gadis itu menggenggam tangan pria di pipinya lembut.

“Seharusnya kau tidak usah berterimakasih,aku melakukan ini karena aku—“

Rio terengah engah di depan pintu kamar Ify,kepalanya pening luar biasa dan darahnya mengalir dengan deras karena pompaan jantungnya yang begitu cepat.Pelan pelan Rio membuka pintu itu sambil memejamkan matanya,lalu lututnya serasa lemas ketika kamar itu kosong.

“Ify!”Rio memukul pintu kamar Ify,ia terduduk disana sambil mencengkram rambutnya frustasi.

“Seandainya aku bisa..aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu”Gadis itu menatap sedih Pria di depannya.

“Aku juga”Lirihnya

“Besok mereka pasti tidak akan tinggal diam”

“Aku sudah siap”Gadis itu menatap lekat lekat mata Pria itu.

“Aku akan melakukan apapun agar aku tidak kehilanganmu!”Suara Pria itu tegas memecahkan keheningan malam

Rio membuka matanya,mimpinya terasa begitu nyata.Ia beranjak dari tempatnya sambil memegangi kepalanya yang masih berat.Benar,suara itu benar.Ia tidak boleh putus asa,ia akan melakukan apapun untuk Ify.Rio bergegas menuju mobilnya,ini belum selesai karena dia akan merebut lagi miliknya.
***
Alvin duduk di  bawah pohon ek yang rimbun beralaskan daun kering.Hatinya luka mendengar penolakan Sivia,ia lebih memilih Gabriel darinya.Alvin berperang dalam hati,Sivia tidak sepenuhnya salah karena Alvinlah yang tidak peduli padanya.Dada Alvin terasa sesak mengingat tingkah lucu Sivia,mengapa rindu ini terlambat datang? Kenapa?!

“Alvin”Alvin menoleh mendapati Mrs.Shilla berdiri di belakangnya.”Apa yang kau lakukan?”Tanyanya,ia mengambil tempat di samping Alvin.

“Tidak ada.”Kehadiran Shilla membuat perasaannya makin hancur,karena perasaannya pada Shilla lah yang membuat Sivia jauh darinya sementara melihat Shilla disini semakin membuatnya susah memilih siapa yang di cintainya.”Apa anda pernah merindukan seseorang?”Tanya Alvin

“Tentu saja”Jawab Shilla,Alvin menoleh menatap gadis  yang memandang lurus ke depan “Sampai sekarang aku juga sering merindukannya”Jantung Alvin berdegup kencang.

“Siapa?”Tanyanya bunuh diri

“Stev.Stevent Haling”Alvin memejamkan menarik nafas panjang “kakak Rio dan Gabriel”

Alvin memandang Shilla lekat lekat,ia terpesona pada charisma Shilla.Wanita itu begitu cerdas dan menarik.Alvin suka bicara pada Shilla,wanita itu tau segalanya.Tapi Alvin lupa kalau cinta itu buta,dia tidak pernah menghiraukan penolakan Shilla yang terang terangan memilih Rio darinya,ia membiarkan perasaanya tumbuh untuk menyakitinya sendiri.Perasaan yang tak berbalas.

“Mrs,apa anda pernah jatuh cinta tetapi orang yang anda cintai tidak membalas perasaan anda?”Tanya Alvin hati hati.

“Iya”Shilla menghela nafas,lalu merapikan rambutnya “Sakit”Lirihnya.Alvin mengangguk.”Tetapi kadang kita mencintai orang yang sayangi dan lupa kalau ada orang yang seharusnya kita sayangi”Shilla menoleh kepada Alvin yang duduk di sampingnya “Kembalilah pada Sivia..dia yang seharusnya kau sayangi”Alvin mengerjapkan matanya tidak percaya.

“Mrs..—“Shilla menepuk bahu Alvin lalu mengangguk.
Alvin tertegun ketika ponselnya berbunyi dan menampakan nama Sivia disana,ia merapatkan ponsel itu ke telinga.

“Bodoh! Jangan telfon dia”Pekik Sivia

“Dia harapan kita satu satunya Sivia,aku takut Rio sudah tertangkap”Alvin kaget mendengar suara Gabriel disana.Mengapa mereka bertengkar?

“Halo!”Seru Alvin.

“Gabriel! Berikan padaku,jangan suruh dia kemari!”Sivia menggeram.

“Halo! Alvin..Alvin”Panggil Gabriel.”Via..dia dapat membantu”Gabriel dengan sigap merebut ponsel Via dari tangan Sivia “Tolong kami Vin! Via dan aku di sekap di rumahku,Ibuku menahan Ify sedangkan Cakka dan Agni pingsan!Tolong Vin”

“Jangan…jangan kemari!”Pekik Sivia nyaring. “kau jahat Gabriel isaknya,biar saja dia disana”

‘Tut..tut..tut’

“Gawat!”Alvin segera bangkit dari duduknya

“Ada apa?”Tanya Shilla

“Sivia di sekap,Ibu Gabriel”

“Miranda?”Tanya Shilla terkesiap “Hati hati Alvin,wanita itu sangat kejam”Alvin hanya mengangguk dan melangkah pergi.

“Alvin,kau hanya punya satu kesempatan lagi”Shilla memandang punggung Alvin nanar sampai laki laki itu menghilang di kejauhan.


>>to be continued

0 komentar:

Posting Komentar

 

EYES OPEN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review