Kamis, 15 November 2012

Perahu Kertas (Resensi)

Diposting oleh Ossi Widiari di 14.01


   
 Pelayaran Sebuah Mimpi




   Mimpi banyak orang menganggapnya fana,kembang tidur,Fatamorgana. Mimpi saja sudah dianggap hal sepele macam itu apalagi negeri dongeng!? Tapi seorang remaja bernama Kugy Nugroho tidak menyerah pada pandangan itu Ia terus bermimpi untuk menjadi seorang juru dongeng tersohor,Kugy tau keluarganya,Temannya bahkan pacarnya menganggap dirinya ‘aneh’  sampai semangatnya pernah meredup tapi semenjak Kugy bertemu Keenan pandangannya berubah hanya karena sebait kata Keenan yang meyakinkannya kalau ini adalah Jiwanya, arus ke masa depannya
Film ini diadaptasi dari Novel dengan judul yang sama yaitu,Perahu Kertas karya Dee Lestari.Hanung Brahmantyo  sebagai sutradara Film ini tidak memotong scene manapun dari Novel karena tidak ingin ada bagian penting yang hilang dari cerita perahu kertas ini.
Maudy Ayunda berperan sebagai tokoh utama yaitu Kugy Nugroho seorang mahasiswa sastra baru di universitas swasta di Bandung,Kugy mengambil jurusan sastra lantaran ingin mengejar mimpinya,mimpi ter anehnya.Seorang Juru Dongeng.
Keenan adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang baru kuliah seperti Kugy,Keenan terpaksa membunuh cita citanya sebagai pelukis demi menyenangkan hati ayahnya.Suatu hari Kugy memberikannya sebuah peti mimpinya yang berisi kumpulan dongengnya tanpa di sangka di dalam peti itu juga terdapat harta Keenan,Semangat melukisnya yang dulu hilang.
 Kugy dan Keenan lama kelamaan menjadi bersahabat, Keduanya merasa cocok semenjak Kugy menyadari hanya Keenan orang yang mau membaca dongengnya dan Keenan bersedia membuatkan ilustrasi untuk tokoh tokoh dongengnya .Keenan juga merasa hal yang sama, Ia menemukan sesuatu yang  telah lama hilang dari dirinya hanya karena pertemuaanya dengan Kugy.

Berlabuhnya sebuah cinta
Seperti layaknya perahu,Cinta hanya mengikuti arus air yang membawanya mengikuti belaian angin yang mendorongnya..Cinta tidak tau kemana ia bersandar nantinya.Kugy dan Keenan mulai menyadari tumbuh rasa yang aneh pada mereka berdua,Tapi sebuah dermaga belum tentu pelabuhan terakhir..Kita tidak tau apa angin akan membawa perahu itu pergi lagi.Suatu malam Keenan melihat Kugy dan Pacarnya (Ojos) sedang dinner di sebuah restaurant,Saat itu ia berfikir ia telah salah berlabuh,Jatuh cinta.Sama halnya dengan Keenan, Kugy merasakan perasaanya salah ketika Keenan mulai dekat dengan Wanda, seorang wanita Bule yang kebetulan berfrofesi sebagai Kuraktor.Kugy yang awalnya sudah bekerja siang malam untuk membuat kado ulang tahun untuk Keenan malah mengurungkan niatnya lantaran cemburu
 Cintanya pada keenan ternyata membuat Kugy kehilangan banyak hal,Ojos pacarnya jadi memutuskan hubungannya lantaran Kugy sering menjauh,Sahabat Kugy mengira Kugy sudah tidak mau bercerita lagi padanya sehingga perlahan lahan mereka memulai perang dingin.Kehidupan Keenan sama hancurnya dengan Kugy,Ia memutuskan berhenti kuliah dan memilih mengabdi seluruhnya pada jiwa seninya,namun ketika ia kehilangan cahaya lukisannya ia tidak bisa berbuat apa apa.Keenan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bali,tempat mentor Keenan melukis.
Ketika Ombak mulai tenang..Ketika angin berhenti betiup,Tidak perlu kompas,tidak perlu peta..Ikuti saja arah bintang venus maka kau akan pulang.Takdir membawa Keenan dan Kugy kembali ke masa dimana mereka masih bersama walaupun sekarang Kugy sudah memiliki Remi,kekasihnya dan Keenan sudah memilih Luhde sebagai tambatan hatinya.Tapi hati tidak memilih,Ia dipilih…Kugy dan Keenan tidak bisa membohongi perasaanya,ada satu arus kuat yang sama sama menghanyutkan mereka dan membawa mereka ke satu tempat,Kebersamaan.

Kesimpulan dari film ini: jadilah orang yang pintar, serba-bisa, singkatnya: multi talenta, agar kita bisa terdampar di mana-mana. muridnya beda dua tahun dengan gurunya.
Sekali lagi, ini sebuah kisah remaja yang cerdas. Memang, tak mungkin seorang Dewi Lestari membuat naskah novel dan script film asal-asalan. Apa bedanya dengan sinetron remaja yang nggak jelas (ya, tidak semuanya J) yang hanya menjual kisah cinta dan cinta saja. Ada cinta, ada cita-cita, ada juga saling memaafkan, inilah pesan moral yang disampaikan film ini pada penonton, khususnya remaja.

0 komentar:

Posting Komentar

 

EYES OPEN Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review